Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat
Stroke pada pria dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat

Stroke merupakan sebuah serangan kesehatan yang disebabkan oleh penggumpalan atau pecahnya pembuluh darah yang menghambat aliran darah ke otak. Sebanyak 130.000 orang meninggal setiap tahun karena komplikasi terkait stroke, seperti pneumonia atau pembekuan darah.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, prevalensi stroke Indonesia naik dari 7% (2013) menjadi 10,9 (2018).

Risiko stroke ini cukup tinggi pada pria dan penyakit ini berhubungan erat dengan pola hidup yang buruk. Contohnya, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, jarang melakukan aktivitas fisik, dan jarang mengonsumsi buah serta sayuran.

Itulah sebabnya, kemampuan mengenali gejala stroke akan sangat berguna dalam membantu Anda menjaga hidup lebih sehat.

Gejala Stroke pada Pria

Secara umum stroke pada pria ditandai oleh ketidakmampuan untuk berbicara atau memahami ucapan, ekspresi tegang, ketidakmampuan untuk bergerak atau merasakan bagian dari tubuh, hingga kondisi kebingungan. Seseorang yang mengalami stroke juga mungkin mengalami kesulitan berbicara atau memahami percakapan.

Berikut ini adalah enam gejala paling umum dari stroke memengaruhi beberapa bagian tubuh, di antaranya:

  • Mata: tiba-tiba kesulitan melihat salah satu atau kedua mata.
  • Wajah, lengan, atau kaki: terjadi kelumpuhan tiba-tiba, kelemahan, atau mati rasa, kemungkinan besar di salah satu sisi tubuh.
  • Perut: mual atau merasakan dorongan untuk muntah.
  • Tubuh: tubuh merasa tidak enak dan rasa lelah hingga kesulitan bernapas.
  • Kepala: sakit kepala mendadak dan kepala terasa berat tanpa sebab yang diketahui.
  • Kaki: pusing tiba-tiba, kesulitan berjalan, atau kehilangan keseimbangan dan koordinasi.

Gejala yang muncul juga dapat bervariasi tergantung pada area otak mana yang terkena dampaknya. Serangan stroke biasanya hanya memengaruhi bagian kiri atau hanya sisi kanan otak.

Faktor Risiko Stroke

Pria memiliki peningkatan risiko stroke karena pola gaya hidup buruk yang sering mereka lakukan. Berikut adalah faktor risiko yang memicu serangan stroke:

  • Merokok.
  • Memiliki tekanan darah tinggi, penyakit jantung, fibrilasi atrium, atau diabetes.
  • Mengalami serangan iskemik transien (stroke kecil yang dapat berlangsung beberapa menit atau jam).
  • Penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol.
  • Mengalami obesitas.

Pemulihan Stroke

Dibutuhkan banyak kerja keras untuk pulih setelah stroke. Rehabilitasi tidak akan menyembuhkan kerusakan otak. Tetapi setidaknya dapat membantu Anda belajar untuk memulihkan kerusakan yang terjadi, misalnya belajar berjalan atau belajar berbicara.

Waktu pemulihan stroke tiap orang berbeda tergantung pada tingkat keparahan stroke yang dialami. Beberapa orang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih, namun ada juga yang membutuhkan terapi hingga bertahun-tahun.

Selain itu, khusus untuk penderita kelumpuhan atau masalah kontrol motorik, akan dibutuhkan perawatan rawat inap jangka panjang. Meskipun begitu, orang-orang yang mengalami stroke masih dapat menjalani hidup.

Pencegahan Stroke

Penting bagi Anda untuk mencegah hal-hal yang memicu risiko stroke, seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol. Caranya adalah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, khususnya dalam memerhatikan asupan makan.

Selain itu, jika Anda baru pulih dari stroke, ada beberapa cara yang juga harus diperhatikan sebagai upaya pencegahan pasca stroke. Biasanya, upaya ini berfokus pada peningkatan kesehatan jantung.

Itu berarti Anda perlu memerhatikan tekanan darah, mengontrol kolesterol, dan kandungan asam lemak (lipid) agar senantiasa berada dalam jumlah dan kadar yang normal. Anda dapat mengombinasikan pola hidup sehat dengan rutin olahraga, menjalani diet sehat, dan mengonsumsi obat-obatan dari dokter.

Healthline. https://www.healthline.com/health/stroke

Kemenkes RI. http://www.depkes.go.id/article/view/18110200003/potret-sehat-indonesia-dari-riskesdas-2018.html

Diakses pada Oktober 2018

Artikel Terkait

Banner Telemed