Grey Baby Syndrome, Saat Kulit Bayi Menjadi Keabuan Akibat Antibiotik


Grey baby syndrome adalah kondisi saat bayi mengalami reaksi mengancam nyawa akibat mengonsumsi antibiotik Chloramphenicol. Oleh karena itu orangtua harus lebih waspada saat memberikan obat pada anak.

0,0
06 Sep 2021|Azelia Trifiana
Kulit bayi berwarna keabu-abuanKulit bayi berwarna keabu-abuan
Tidak berlebihan jika orangtua terus-menerus diberi tahu untuk berhati-hati ketika memberikan obat bagi si kecil. Sebab, ada risiko efek samping yang disebut dengan grey baby syndrome. Ini adalah kondisi saat bayi mengalami reaksi mengancam nyawa akibat mengonsumsi antibiotik Chloramphenicol.Setiap obat tentu memiliki risiko potensi efek samping. Dampak dari sindrom grey baby ini lebih signifikan pada bayi yang terlahir prematur.

Gejala grey baby syndrome

Grey baby syndrome adalah kondisi ketika bayi mengalami reaksi setelah mengonsumsi antibiotik bernama Chloramphenicol. Reaksi ini cukup berbahaya hingga bisa mengancam nyawa.Seberapa parahnya reaksi ini bergantung pada kemampuan hati bayi dalam memecah dan memproses obat. Itulah mengapa, grey baby syndrome rentan dialami bayi prematur karena organ hatinya belum berfungsi sempurna.Meski demikian, sindrom ini bisa dialami bayi hingga berusia dua tahun. Gejala yang muncul ketika bayi mengalami sindrom ini adalah:
  • Tekanan darah turun mendadak
  • Kulit dan kuku berwarna keabuan
  • Bibir berwarna kebiruan
  • Lebih sering menangis
  • Muntah
  • Diare
  • Perut terasa kembung
  • Hilang nafsu makan
Bagian kulit, kuku, dan bibir bayi akan tampak keabuan atau kebiruan. Inilah yang membuat sindrom ini diberi nama grey baby syndrome. Warna kulit berubah sebab asupan oksigen yang menurun.Apabila bayi mengalami gejala-gejala di atas, jangan tunda mendapatkan penanganan medis. Kemudian, periksa apakah ada obat yang baru dikonsumsi dan merupakan Chloramphenicol.Selain dikonsumsi langsung, ibu menyusui perlu mengingat juga bahwa ketika ibu yang mengonsumsi, bayi tetap bisa terkena lewat ASI.

Apa itu Chloramphenicol?

Seperti yang disinggung di atas, Chloramphenicol merupakan jenis antibiotik. Kandungannya adalah isolasi bakteri Streptomyces venezuelae. Pertama kali ditemukan pada tahu 1947, ini adalah antibiotik pertama yang diproduksi skala besar dan diresepkan oleh dokter.Meski demikian, dalam beberapa tahun sejak pertama kali diproduksi, para dokter dan peneliti menyadari risikonya. Efek samping dari konsumsi Chloramphenicol sangat serius sehingga tidak lagi diresepkan untuk mengobati penyakit.Namun, Chloramphenicol masih digunakan untuk beberapa penyakit seperti meningitis, utamanya apabila pasien alergi terhadap penicillin. Apabila diberikan dalam dosis yang tepat dan tidak berlebihan pada orang dewasa, antibiotik ini cukup aman.

Diagnosis dan cara penanganan

Biasanya, dokter bisa menegakkan diagnosis apabila bayi menunjukkan gejala setelah mengonsumsi antibiotik Chloramphenicol. Namun jika penyebabnya tidak pasti, dokter mungkin melakukan pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan darah lengkap.Tujuannya untuk mengetahui glukosa, analisis gas dalam darah, serum asam laktat, dan tentu saja kadar gula darah. Selain itu, dokter juga mungkin meminta X-ray dada dan perut untuk mengetahui kondisi lebih detail.Untuk penanganannya, dokter umumnya akan memberikan hemoperfusi arang untuk menyerap dan menghilangkan Chloramphenicol dari tubuh bayi. Ada pula jenis obat antibiotik lain yang bisa diberikan untuk membantu tubuh bayi melawan infeksi.Mengingat menurunnya kadar oksigen bisa membuat temperatur tubuh bayi drop, mereka mungkin memerlukan selimut penghangat atau sinar dari lampu khusus. Di saat yang sama, bayi diberi bantuan oksigen.Apabila diperlukan, dokter akan merekomendasikan intubasi yaitu memasukkan tabung khusus untuk mempertahankan jalan napas bayi.Kombinasi beberapa teknik di atas dapat membuat sistem dalam tubuh bayi kembali stabil dengan cepat. Di saat yang sama, juga dapat mencegah kerusakan lebih jauh pada organ-organ tubuhnya.

Bisakah dicegah?

Mengingat Chloramphenicol bukan obat yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter, maka orangtua bisa mencegah terjadinya grey baby syndrome dengan tidak memberikannya.Setiap kali anak sakit dan mendapat resep dari dokter, selalu baca peringatan di kemasannya secara menyeluruh. Ini juga berlaku apabila obat bisa dibeli di pasaran tanpa resep dokter sekalipun.

Catatan dari SehatQ

Setiap kali memberikan obat baru kepada bayi atau anak, perhatikan apakah ada reaksi alergi atau tidak. Ketika terdeteksi gejala grey baby syndrome, segera cari pertolongan medis sesegera mungkin.Meski sekilas bisa terlihat seperti sakit pada umumnya dengan gejala muntah atau diare, sebaiknya jangan tunda terutama ketika bayi tampak kesulitan bernapas.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar pemberian obat yang aman untuk bayi, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
bayi & menyusuitumbuh kembang bayimengatasi bayi rewel
WebMD. https://www.webmd.com/baby/what-is-chloramphenicol-gray-baby-syndrome#1
Diakses pada 23 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/gray-baby-syndrome
Diakses pada 23 Agustus 2021
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/gray_baby_syndrome/definition.htm
Diakses pada 23 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait