Golongan Narkotika dan Bahayanya, Orang Tua Harus Waspada!


Narkotika terbagi ke dalam beberapa golongan. Beberapa jenis di antaranya memang bisa saja diresepkan oleh dokter untuk meringankan penyakit tertentu. Namun, ada potensi penyalahgunaan yang harus diwaspadai, termasuk oleh anak yang sudah beranjak remaja.

(0)
04 May 2021|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Penyalahgunaan setiap golongan narkotika pasti berdampak buruk bagi kesehatanPenyalahgunaan berbagai golongan narkotika berisiko memicu sakaw
Golongan narkotika beserta masing-masing bahayanya merupakan hal yang penting Anda waspadai sebagai orang tua. Terlebih jika anak mulai beranjak remaja dan pergaulannya pun semakin luas.Sebelum membahas lebih jauh mengenai golongan narkotika, Anda pun perlu memahami pengertian narkotika terlebih dahulu. Sebenarnya, narkotika merupakan obat maupun bahan yang bermanfaat bagi pengobatan atau pelayanan kesehatan, serta pengembangan ilmu pengetahuan.Namun ada risiko penyalahgunaan, yang membuat narkotika akhirnya dapat menimbulkan ketergantungan dan gangguan medis serius.

Golongan narkotika dan contohnya

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika mengkategorikan narkotika ke dalam tiga golongan. Lebih lanjut, Pemerintah pun menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.Perubahan penggolongan ini dilakukan karena adanya zat psikoaktif baru, yang juga berpotensi disalahgunakan dan berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan setiap payung hukum tersebut, berikut ini penjelasan tentang ketiga golongan narkotika beserta contohnya.
Ganja termasuk narkotika golongan I

1. Narkotika golongan I:

Narkotika ini peruntukkanya hanya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dimanfaatkan dalam terapi, dan sangat berpotensi menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah tanaman koka, daun koka, kokain mentah, opium mentah, ganja, heroina, tanaman ganja, dan metamfetamina.

2. Narkotika golongan II:

Narkotika golongan ini dimanfaatkan dalam pilihan terakhir pengobatan, serta pada terapi maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Seperti halnya narkotika golongan I, narkotika golongan II pun berpotensi tinggi mengakibatkan kecanduan. Yang termasuk narkotika golongan ini yaitu morfina, morfin metobromida, dan ekgonina.

3. Narkotika golongan III:

Narkotia pada kategori ini, berkhasiat sebagai pengobatan dan sudah banyak dipakai dalam terapi serta pengembangan ilmu pengetahuan. Namun berbeda dari dua golongan lainnya, narkotika golongan III berpotensi ringan dalam mengakibatkan ketergantungan. Ada propiram, kodeina, polkodina, dan etilmorfina sebagai contoh narkotika golongan III.

Dampak penyalahgunaan narkotika dan ketergantungannya

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, penyalahgunaan narkotika dapat digambarkan sebagai pemakaian narkotika tanpa hak atau melawan hukum. Penyalahgunaan ini berisiko mengarah pada ketergantungan.Seseorang disebut mengalami ketergantungan narkotika apabila mengalami dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus-menerus, dengan takaran yang semakin tinggi, demi mendapatkan efek yang sama. Jika pemakaiannya dihentikan secara tiba-tiba, akan muncul gejala fisik maupun psikis tertentu.Penting untuk diketahui, bahwa salah satu alasan pasien mendatangi dokter adalah ingin meredakan sakit yang dirasakan. Ada sederet obat untuk kebutuhan ini, dan beberapa pasien mungkin mendapatkan resep obat opioid.Pain killer ini dibuat dari opium yang berasal dari tanaman poppy. Morfin dan kodein pun adalah dua produk alami dari opium. Pada akhirnya, muncullah berbagai morfin buatan manusia berikut ini, sebagai bentuk lain opioid:
  • Fentanil
  • Heroin, yang sering disalahgunakan
  • Hidrokodon dengan asetaminofen
  • Hidrokodon
  • Hidromorfon
  • Metadon
  • Oksikodon
  • Oksikodon dengan asetaminofen
  • Oksikodon dengan aspirin
Sebenarnya, obat-obatan di atas pada dasarnya aman digunakan sesuai resep dokter, untuk pemakaian jangka pendek. Sebagai efek untuk meredakan penyakit, obat-obatan ini pun menghadirkan rasa nyaman atau bahkan euforia.Yang perlu dikhawatirkan, efek tersebut akhirnya membuat seseorang menyalahgunakan obat-obatan ini, dan tentu saja tidak sesuai dengan anjuran dokter. Bentuk penyalahgunaan tersebut adalah dengan:
  • Mengonsumsinya dengan dosis lebih tinggi
  • Menggunakan resep obat orang lain
  • Menyalahgunakannya untuk mendapatkan sensasi teler
  • Tidak bisa mengontrol maupun mengurangi pemakaiannya
  • Menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan obat tersebut, maupun memulihkan diri setelah memakainya
  • Selalu terdorong untuk memakainya
  • Tetap menggunakannya meski mengetahui konsekuensinya secara sosial maupun hukum
  • Mengurangi atau bahkan menghentikan aktivitas penting yang sebelumnya rutin dilakukan
  • Menggunakannya sembari melakukan aktivitas lain yang bisa menimbulkan bahaya, misalnya mengemudi

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Selalu dampingi anak untuk hentikan penyalahgunaan narkotika
Anda mungkin panik dan bingung ketika mendapati tanda-tanda tersebut pada anak. Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui penanganan yang tepat. Dokter akan menyarankan untuk menghentikan konsumsi obat tersebut.Selain itu, dokter akan secara perlahan mengurangi dosis obat dalam beberapa minggu ke depan. Dalam periode tersebut, mungkin timbul gejala berupa:
  • Kecemasan
  • Peningkatan sensitivitas
  • Sakaw
  • Napas terengah-engah
  • Sering menguap
  • Hidung berair
  • Nyeri otot
  • Diare
  • Kehilangan nafsu makan
  • Muntah
  • Tremor
Meski tidak berbahaya secara medis, tapi gejala tersebut bisa menyakitkan. Jangka waktu gejala putus obat yang muncul pun bergantung pada durasi penyalahgunaan obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya, dokter dapat melakukan detoksivikasi melalui pemberian obat-obatan tertentu.Untuk perawatan dan pendampingan jangka panjang, pastikan Anda sebagai orang tua membangun kebiasaan dan pikiran sehat pada anak, dan membantunya menghindari pemicu yang bisa membuatnya kembali melakukan penyalahgunaan narkotika.

Catatan dari SehatQ

Anda mungkin sebagai orang tua pada awalnya kesulitan untuk mengetahui penyalahgunaan narkotika oleh anak. Berkonsultasilah dengan dokter maupun psikolog untuk membantu. Yang terpenting, terus dampingi anak dan hindari serta-merta menghakiminya.Semakin cepat anak mendapatkan penanganan dan perawatan, maka semakin cepat pula ia terhindar dari dampak yang lebih buruk dari kecanduan narkotika. Waspadai juga potensi penyalahgunaan alkohol, nikotin, maupun obat tidur dan obat anti-kecemasan.
tips parentingketergantungan opioidnarkoba
Universitas Gadjah Mada.
http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU35-2009Narkotika.pdf
Diakses pada 4 Mei 2021
WebMD.
https://www.webmd.com/mental-health/addiction/painkillers-and-addiction-narcotic-abuse
Diakses pada 4 Mei 2021
WebMD.
https://www.webmd.com/mental-health/addiction/drug-abuse-addiction#1
Diakses pada 4 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait