Glukosa, Sumber Energi yang Juga Bisa Menimbulkan Masalah

Glukosa adalah bentuk karbohidrat paling sederhana yang dikonsumsi dari makanan
Glukosa merupakan bentuk karbohidrat paling sederhana, yang bisa diubah tubuh dari karbohidrat sederhana

Tubuh memerlukan energi untuk bisa beraktivitas dan bertahan hidup. Salah satu sumber energi yang kita konsumsi dari makanan adalah glukosa. Pada kadar yang normal, berkat bantuan insulin, glukosa akan sangat berperan vital. Sebaliknya, gula darah yang terlalu tinggi dapat memicu beragam masalah kesehatan.

Apa itu glukosa?

Glukosa adalah bentuk karbohidrat sederhana atau monosakarida. Glukosa kerap juga disebut sebagai gula sederhana. Monosakarida lainnya yaitu fruktosa, galaktosa, dan ribosa.

Glukosa, yang dikonsumsi dalam bentuk karbohidrat, merupakan salah satu sumber energi untuk tubuh bersama dengan lemak. Kita bisa mendapatkan glukosa dari makanan, seperti buah-buahan, sayuran, roti, dan produk susu. Dengan adanya glukosa inilah manusia bisa beraktivitas dan bertahan hidup.

Glukosa yang memasuki aliran darah disebut dengan glukosa darah atau gula darah. Seperti nutrisi lain, glukosa yang masuk ke darah tak boleh berlebihan. Kadar glukosa yang tak sehat dan terkendali dapat memicu penyakit yang serius.

Cara tubuh memproses glukosa sebagai energi

Glukosa sebagai sumber energi akan memerlukan bantuan hormon di tubuh. Dua hormon utama yang berperan langsung dalam pemrosesan glukosa menjadi energi yakni hormon insulin dan glukagon.

1. Dengan bantuan hormon insulin

Idealnya, tubuh memproses glukosa beberapa kali dalam satu hari. Saat kita makan, tubuh dengan segera akan bekerja untuk mencerna makanan. Karbohidrat akan dicerna oleh tubuh menjadi glukosa berkat bantuan enzim di sistem pencernaan.

Selain enzim-enzim, pankreas juga memainkan peranan penting dalam memproses glukosa. Organ ini menghasilkan hormon insulin, yang berperan untuk memindahkan glukosa dari dari darah ke dalam sel sebagai energi.

Sebagian besar sel dalam tubuh menggunakan glukosa bersama asam amino dan lemak untuk menghasilkan energi. Namun, glukosa menjadi sumber energi yang utama. Sel-sel saraf dan neurotransmitter di otak membutuhkan glukosa dalam memproses informasi. Tanpa glukosa, otak kita tidak akan bisa bekerja dengan baik.

Setelah tubuh memanfaatkan energi yang dibutuhkan, sisa glukosa akan disimpan dalam kumpulan kecil yang disebut glikogen. Glikogen disimpan di dalam hati dan otot selama sekitar satu hari.

2. Dengan bantuan hormon glukagon

Kadar glukosa akan turun jika kita tak makan setelah beberapa jam. Pada kondisi ini, pankreas akan berhenti mengeluarkan insulin. Sel-sel alfa di pankreas mulai menghasilkan hormon yang disebut dengan glukagon. Kemudian, glukagon menginstruksi hati untuk memecah glikogen yang tersimpan dan mengubahnya kembali menjadi glukosa.

Glukosa akan mengalir ke aliran darah untuk memberikan energi sampai jam makan berikutnya. Hati juga dapat membuat glukosa sendiri menggunakan kombinasi produk limbah, asam amino, dan lemak.

Berapa kadar gula darah yang normal di tubuh?

Untuk kebanyakan orang tanpa diabetes, kadar normal gula darah sebelum makan berkisar antara 70 hingga 80 mg/dL. Beberapa orang mungkin akan memiliki kadar gula darah di angka 60 atau 90.

Sementara itu, apabila Anda puasa atau tidak makan selama 8 jam, kadar gula darah yang normal adalah 100 mg/dL. Kemudian, kadar ini harus kurang dari 140 mg/dL untuk dua jam setelah makan.

Ada berbagai faktor penyebab kadar gula darah dapat meningkat. Beberapa faktor tersebut, termasuk:

  • Makan berlebihan
  • Stres
  • Menderita penyakit tertentu
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Melewatkan pengobatan diabetes (bagi penderita diabetes)

Glukosa dan diabetes, apa kaitannya?

Beberapa orang berisiko mengalami masalah terhadap pankreas dan insulin yang dihasilkan. Masalah pada insulin tersebut akan memicu kelompok penyakit yang disebut dengan diabetes.

Ada dua jenis utama diabetes, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2:

  • Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak memiliki cukup insulin karena sel imun menyerang dan merusak sel-sel pankreas.
  • Pada diabetes tipe 2, sel-sel tubuh tidak merespon insulin seperti seharusnya – atau disebut juga dengan resistensi insulin. Kondisi ini akan membuat pankreas membuat lebih banyak insulin. Pada akhirnya, pankreas menjadi rusak dan tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Kedua jenis diabetes di atas dapat menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Kondisi ini pun akan Itu meningkatkan risiko komplikasi diabetes.

Gejala kedua diabetes di atas dapat mirip satu sama lain. Berikut ini gejala diabetes yang patut untuk Anda ketahui:

  • Sering buang air kecil
  • Merasa sangat haus sehingga banyak minum
  • Merasa sangat lapar
  • Lelah berlebihan
  • Penglihatan kabur
  • Luka yang tidak pulih dengan baik

Komplikasi jika glukosa di darah tak terkendali

Apabila kadar glukosa di dalam darah tak terkendali, beberapa masalah serius akan berisiko terjadi. Masalah tersebut, dapat berupa:

  • Masalah pada saraf atau neuropati
  • Penyakit jantung
  • Kebutaan
  • Infeksi kulit
  • Masalah pada sendi dan titik-titik ekstremitas tubuh, terutama kaki
  • Dehidrasi parah
  • Koma
  • Komplikasi yang lebih serius, termasuk ketoasidosis diabetik dan sindrom hiperosmolar hiperglikemik. kedua kondisi tersebut berhubungan dengan diabetes.

Catatan dari SehatQ

Glukosa adalah sumber energi yang diperlukan tubuh. Namun, kadar glukosa di darah yang terlalu tinggi di tubuh dapat memicu masalah tertentu. Komplikasi jika gula darah terlalu banyak pun bisa menyerang beragam sistem di tubuh, mulai dari jantung hingga saraf.

Healthline. https://www.healthline.com/health/glucose
Diakses pada 30 April 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/difference-between-type-1-and-type-2-diabetes
Diakses pada 30 April 2020

Web MD. https://www.webmd.com/diabetes/how-sugar-affects-diabetes
Diakses pada 30 April 2020

Web MD. https://www.webmd.com/diabetes/glucose-diabetes
Diakses pada 30 April 2020

Web MD. https://www.webmd.com/diabetes/guide/diabetes-general-overview-facts
Diakses pada 30 April 2020

Artikel Terkait