Glomerulonefritis, Gangguan Fungsi Ginjal yang Harus Diwaspadai

(0)
23 Jul 2020|Azelia Trifiana
Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomeruliPeradangan pada ginjal disebut Glomerulonefritis
Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomeruli, yaitu struktur di dalam ginjal yang terdiri dari pembuluh darah berukuran kecil. Pembuluh ini membantu menyaring darah dan membuang kelebihan cairan. Apabila glomeruli rusak, akan berpengaruh pada kinerja ginjal bahkan menyebabkan gagal ginjal.Lebih jauh lagi, glomerulonefritis adalah penyakit serius yang dapat mengancam nyawa. Penderitanya pun harus segera mendapatkan penanganan medis darurat. Glomerulonefritis bisa terjadi secara akut, kronis, mendadak, atau dalam jangka panjang.

Penyebab glomerulonefritis

Bergantung pada kondisinya yang akut atau kronis, ada beberapa penyebab glomerulonefritis:

1. Glomerulonefritis akut

Glomerulonefritis akut bisa jadi merupakan respons atas infeksi seperti abses gigi atau infeksi strep throat. Pada beberapa kasus, ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Beberapa penyakit yang bisa memicu glomerulonefritis seperti:
  • Strep throat
  • Lupus
  • Goodpasture syndrome
  • Amyloidosis (penumpukan protein di organ)
  • Granulomatosis with polyangiitis (peradangan pembuluh darah)
  • Polyarteritis nodosa
Selain itu, penggunaan obat seperti ibuprofen dan naproxen dalam dosis besar dan jangka panjang juga bisa menjadi faktor risiko terjadinya kerusakan ginjal berupa glomerulonefritis akut.

2. Glomerulonefritis kronis

Glomerulonefritis kronis bisa muncul setelah beberapa tahun tanpa ada gejala sedikit pun. Meski demikian, kondisi ini dapat menyebabkan masalah pada ginjal hingga yang terburuk berupa gagal ginjal.Belum jelas apa penyebab pasti terjadinya glomerulonefritis kronis, namun faktor genetik bisa jadi pemicunya. Selain itu, riwayat mengalami kanker, penyakit autoimun, atau paparan terhadap zat hidrokarbon juga bisa menyebabkan glomerulonefritis kronis.

Gejala glomerulonefritis

Pada jenis glomerulonefritis akut, beberapa gejala awal yang mungkin muncul seperti:
  • Wajah membengkak
  • Jarang buang air kecil
  • Muncul darah di urine
  • Kelebihan cairan di paru-paru
  • Batuk
  • Tekanan darah tinggi
Sementara pada glomerulonefritis kronis, gejalanya cenderung muncul lebih lambat, seperti:
  • Kelebihan protein di urine
  • Wajah dan kaki membengkak
  • Kerap buang air kecil di malam hari
  • Kencing berbusa
  • Nyeri perut
  • Kerap mimisan
Gejala glomerulonefritis ini pula yang bisa menjadi indikator seberapa parah kondisinya. Apabila sudah sampai pada skenario terburuk yaitu gagal ginjal, gejalanya bisa jauh lebih signifikan. Mulai dari hilang nafsu makan, mual, muntah, insomnia, kulit kering, hingga kram otot di malam hari.

Cara diagnosis glomerulonefritis

Mengingat dokter perlu tahu apakah ada kelebihan protein di urine yang menandakan ginjal tak berfungsi optimal, maka langkah pertama diagnosis glomerulonefritis adalah tes urine. Penting untuk menganalisis kadar darah dan protein dalam urine sebagai indikator glomerulonefritis.Tes urine dan darah bisa menunjukkan bagaimana kinerja ginjal. Selain kedua tes itu, dokter juga bisa meminta tes imunitas untuk melihat bagaimana kinerja antibodi. Glomerulonefritis semakin terbukti apabila sistem kekebalan tubuh seseorang justru menyerang ginjalnya sendiri.Lebih jauh lagi, dokter juga bisa melakukan prosedur biopsi untuk memastikan diagnosis glomerulonefritis. Prosedur medis lain seperti CT scan, X-ray dada, dan sismetografi juga bisa dilakukan.

Bagaimana mengatasi glomerulonefritis?

Langkah penanganan penyakit ini bergantung pada penyebab dan jenis glomerulonefritis yang diderita. Jika penyebabkan adalah tekanan darah tinggi, maka itu yang akan diatasi. Ini penting karena ketika ginjal tak berfungsi optimal, tekanan darah menjadi sulit dikendalikan.Dokter bisa meresepkan obat-obatan jenis:
  • Captopril
  • Lisinopril
  • Perindopril
  • Losartan
  • Irbesartan
  • Valsartan
  • Kortikosteroid
Bagi penderita glomerulonefritis kronis, juga perlu mengurangi asupan protein, garam, dan potasium dari makanan sehari-hari untuk mengurangi beban ginjal. Bahkan, seberapa banyak asupan cairan ke tubuh juga harus diperhatikan. Konsultasi dengan ahli gizi bisa jadi diperlukan.Apabila terdeteksi sejak awal, glomerulonefritis akut bisa sembuh dengan sendirinya dan hanya terjadi sementara. Sementara pada glomerulonefritis kronis, kondisinya tak memburuk secara signifikan ketika penanganan segera diberikan.

Catatan dari SehatQ

Selain pengobatan, iringi juga dengan menjaga berat badan ideal, membatasi asupan sodium serta mengganti dengan makanan asin yang sehat, dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok. Ini penting karena jika glomerulonefritis memburuk, bisa terjadi komplikasi seperti penurunan fungsi hingga gagal ginjal.
penyakitpenyakit ginjal
Healthline. https://www.healthline.com/health/glomerulonephritis
Diakses pada 9 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glomerulonephritis/symptoms-causes/syc-20355705
Diakses pada 9 Juli 2020
National Kidney Foundation. https://www.kidney.org/atoz/content/glomerul
Diakses pada 9 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait