Cara Memenuhi Gizi Balita untuk Tumbuh Kembang yang Optimal


Gizi balita harus dipenuhi agar tumbuh kembangnya optimal. Persoalan gizi dapat memicu kegemukan maupun gizi kurang pada bayi. Pemberian ASI, MPASI, vitamin A dan zinc, serta obat cacing, dapat dilakukan untuk mendukung pemenuhan gizi anak.

(0)
10 Feb 2021|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Gizi balita dapat tercukupi antara lain melalui pemberian ASI eksklusifMenyusui adalah salah satu cara memenuhi kebutuhan gizi balita
Gizi balita masih menjadi persoalan yang terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Setidaknya ada dua masalah gizi di Tanah Air, yaitu gizi kurang dan kegemukan. Bayi yang terlalu gemuk mungkin selama ini selalu dipandang lucu dan sangat sehat.Padahal, kasus kegemukan pada balita harus selalu mendapat perhatian, karena kondisi tersebut dapat membawa dampak buruk terhadap fisik maupun psikis anak. Angka kasus kegemukan pada anak pun cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.Di sisi lain, kekurangan gizi pada balita juga tentu tidak bisa diabaikan. Apalagi, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor penyebab kematian anak. Di luar itu, gizi kurang dapat menurunkan kecerdasan anak, serta meningkatkan risiko terhadap penyakit tidak menular di masa mendatang.

Gizi balita dan panduan dalam mencukupi kebutuhannya

Untuk mengatasi kasus gizi buruk anak di Indonesia, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi balita, pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas RI menerbitkan Kajian Sektor Kesehatan mengenai Pembangunan Gizi di Indonesia. Salah satu poin dalam kajian tersebut adalah langkah-langkah penanggulangan gizi buruk balita, antara lain dengan:

1. Pemberian ASI eksklusif

ASI eksklusif dianjurkan hingga bayi berusia 6 bulan
Air susu ibu (ASI) berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita. Sebab, ASI merupakan sumber nutrisi dengan kandungan gizi yang lengkap dan seimbang. Komposisinya pun ideal bagi tumbuh kembang bayi. Selain mencukupi kebutuhan gizi Si Kecil, pemberian ASI secara eksklusif pun mampu menumbuhkan ikatan kasih sayang antara ibu dan anak.Melalui pemberian ASI eksklusif, anak hanya menerima ASI, tanpa asupan lainnya, entah itu makanan padat, atau air sekalipun. Meski demikian, vitamin, suplemen, maupun obat-obatan tertentu dapat diberikan atas anjuran dokter, sesuai indikasi.Pemberian ASI eksklusif dilakukan saat bayi lahir, hingga berusia 4-6 bulan. Selanjutnya, bayi direkomendasikan tetap memperoleh ASI, disertai makanan pendamping ASI (MPASI) mulai dari 6 bulan.

2. Pemberian MPASI

Makanan pendamping ASI alias MPASI adalah makanan maupun minuman bergizi yang diberikan pada balita berusia 6-24 bulan, untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ketika berusia 6 bulan, sistem pencernaan bayi sudah lebih siap menerima asupan selain ASI. Dalam hal ini, MPASI.Pemberian MPASI pun sebaiknya tidak diberikan pada balita terlalu dini. Sebab, bayi yang terlalu awal mendapatkan makanan pendamping ASI ini, berisiko mengalami penyumbatan saluran cerna. Kondisi ini dapat berujung pada tindakan pembedahan.
Berikan variasi sayuran pada MPASI sesuai usia Si Kecil
Berikut ini pedoman pemberian MPASI berdasarkan usia balita dan jenis makanannya.
  • 6-8 bulan

    • ASI: 5 kali sehari atau sesuai keinginan bayi
    • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi jus. Berikan sebanyak 60-120 ml/hari
    • tanpa gula. Untuk jus, pakai cangkit atau gelas. Hindari pemberian jeruk dan tomat.
    • Serealia: 60-120 kali per porsi, sebanyak 1-2 kali/hari.
    • Sayuran: lumatkan sayuran dan saring. Berikan sebanyak 3-4 sendok makan per hari. Mulailah dengan sayuran hijau, lalu yang berwarna kuning. Namun, jangan berikan jagung.
  • 8-10 bulan

    • ASI: disesuaikan dengan keinginan bayi
    • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi jus. Berikan sebanyak 60-120 ml/hari tanpa gula. Untuk jus, pakai cangkit atau gelas. Hindari pemberian jeruk dan tomat.
    • Serealia: 120 ml per porsi atau sesuai kemampuan bayi, sebanyak 2-3 kali/hari
    • Sayuran: mulailah memberikan sayuran yang lebih bervariasi, dengan tekstur kasar, sebanyak ½ gelas atau sesuai kemampuan bayi.
    • Daging, telur, ikan: Anda bisa menghaluskan daging atau ikan dengan blender, sebanyak 2-4 sendok makan, maupun kuning telur, tempe, tahu, biji-bijian, maupun kacang-kacangan, yang dimasak sampai lunak, untuk diberikan pada bayi.
  • 10-12 bulan

    • ASI: disesuaikan dengan keinginan bayi.
    • Buah: pisang, apel, dan pepaya dikerok atau dibuat menjadi jus. Berikan sebanyak 60-120 ml/hari tanpa gula. Untuk jus, pakai cangkit atau gelas. Hindari pemberian jeruk dan tomat.
    • Serealia: 120 ml per porsi atau sesuai kemampuan bayi, sebanyak 3 kali/hari
    • Sayuran: tingkatkan variasi dan porsinya sesuai selera Si Kecil
    • Daging, telur, ikan: Anda bisa memilih cincangan maupun potongan tipis daging serta ikan sebanyak 2-4 sendok makan, serta telur, tempe, tahu, biji-bijian, maupun kacang-kacangan, yang dimasak sampai lunak, untuk diberikan pada bayi.

3. Mencuci tangan dan menjaga kebersihan

Selalu cuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak
Buruknya kebersihan diri bisa memicu diare maupun penyakit lain disertai muntah, yang akhirnya membuat anak kekurangan gizi. Sebuah penelitian dilakukan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, untuk menganalisis hubungan pemberian makan tahap awal pada balita, dengan kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun.Penelitian ini pun mendapati adanyahubungan antara kebiasaan para ibu dalam mencuci tangan, dengan kejadian stunting di wilayah setempat. Stunting merupakan salah satu persoalan gizi, akibat pemberian makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Akibatnya, anak mengalami gangguan tumbuh kembang.Faktor penyebab stunting secara tidak langsung adalah kebersihan diri ibu yang buruk, yang berujung terhadap meningkatnya risiko penyakit infeksi pada balita. Kebiasaan ibu yang tidak mencuci tangan sebelum menyusui, menyiapkan makanan, maupun menyuapi balita, dapat menimbulkan kontaminasi bakteri pada makanan.Jika masuk ke dalam tubuh, bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit infeksi pada balita, yang menimbulkan mual, muntah, serta penurunan nafsu makan, sehingga anak menjadi kurang gizi. Perilaku buruk ini harus segera dihilangkan. Oleh karena itu, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, penting dilakukan demi mencegah masuknya bakteri ke tubuh.

4. Pemberian vitamin A, zinc, serta mikronutrien lain

Zinc dapat membantu pemulihan balita yang sedang diare
Kasus diare pada balita berkaitan erat dengan asupan zat gizi mikro, yaitu vitamin dan mineral. Vitamin A, zinc, dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) berperan meningkatkan fungsi sistem pertahanan tubuh di saluran pencernaan, terutama pada balita. Vitamin A dapat mengurangi risiko terjadinya diare.Sementara itu, zinc dapat membantu pemulihan balita yang mengalami diare akut, dengan mengurangi frekuensi dan durasi diare. Mengonsumsi Omega-3 sebagai PUFA pun bisa mengurangi bakteri E.coli dan Bacteroides spp pada usus, yang akhirnya meningkatkan kesembuhan pasien diare.Sebuah penelitian yang dilakukan di suatu puskesmas membuktikan, sebanyak 76% pasien diare, ternyata kekurangan asupan vitamin A. Lebih lanjut, tercatat 54,4% responden dengan keluhan diare, mengalami kekurangan zinc. Temuan serupa juga muncul pada para responden yang kekurangan PUFA.Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin A, zinc, serta PUFA sebagai mikronutrien bagi balita, dapat mengurangi risiko diare yang mengancam kecukupan gizi.

5. Pemberian obat cacing

Obat cacing sebaiknya diberikan 6 bulan sekali untuk anak
Pemberian vitamin A pada balita perlu disertai dengan obat cacing. Tujuannya, agar penyerapan zat gizi pada balita dapat sempurna. Obat cacing diberikan pada balita berusia di atas satu tahun, untuk membasmi cacing di dalam tubuh, sekaligus menekan potensi stunting.Dosis pemberian obat cacing bisa berbeda-beda sesuai umur anak. Balita berusia 1-2 tahun mendapat setengah tablet, sedangkan di atas 2 tahun, mengonsumsi satu tablet. Selanjutnya, pemberian obat cacing kembali dilakukan 6 bulan kemudian.

Catatan dari SehatQ

Untuk mengetahui status gizi balita, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak maupun ahli nutrisi. Begitu pula jika tidak memungkinkan bagi Anda untuk memberikan ASI eksklusif bagi Si Kecil.Selain itu, Anda juga bisa menanyakannya langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tumbuh kembang bayigizi anaktumbuh kembang anakgizi burukzat gizi
Kementerian Kesehatan RI. https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/pgm/article/view/2416/1232
Diakses pada 31 Januari 2021
Kementerian PPN/Bappenas.
https://www.bappenas.go.id/files/1515/9339/2047/FA_Preview_HSR_Book04.pdf
Diakses pada 31 Januari 2021
Universitas Negeri Gorontalo.
https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/JHS/article/view/1090
Diakses pada 31 Januari 2021
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/80940/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
Diakses pada 31 Januari 2021
Universitas Brawijaya.
https://ijhn.ub.ac.id/index.php/ijhn/article/view/308
Diakses pada 31 Januari 2021
Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten.
http://dinkes.klatenkab.go.id/promkes/2020/03/03/1684/
Diakses pada 31 Januari 2021
Pemerintah Kota Pariaman.
https://pariamankota.go.id/berita/pentingnya-pemberian-kapsul-vitamin-a-dan-obat-cacing-untuk-bayi-dan-balita
Diakses pada 31 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait