Gigi patah seringkali disebabkan oleh cedera olahraga, terutama olahraga yang melibatkan kontak fisik
Gigi patah seringkali disebabkan oleh cedera olahraga

Gigi patah adalah kasus yang sering ditemukan dalam praktik dokter gigi, mulai dari yang ringan dan tidak membutuhkan penanganan khusus, hingga yang berat dan membutuhkan perawatan saluran akar, atau bahkan menyebabkan gigi tanggal. Penyebab gigi patah yang umumnya terjadi adalah cedera akibat olahraga.

Gigi patah akibat olahraga dapat disebabkan oleh trauma langsung pada gigi, misalnya saat jatuh dengan posisi gigi menghadap lantai. Kondisi ini juga dapat disebabkan oleh trauma tidak langsung, misalnya pukulan pada dagu, yang menyebabkan gigi bawah menghantam gigi bagian atas. Tekanan yang ditimbulkan dapat menyebabkan gigi patah.

Olahraga, terutama yang melibatkan kontak fisik, berisiko menyebabkan gigi patah. Beberapa olahraga yang paling sering menyebabkan gigi patah, antara lain:

  • Basket
  • Baseball dan softball
  • Sepak bola
  • Hoki
  • Bersepeda

Bagian Gigi yang Sering Patah Akibat Olahraga

Gigi terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan enamel, dentin, dan pulpa. Enamel merupakan lapisan gigi yang paling kuat dan terletak di paling luar. Di bawah lapisan enamel, terdapat lapisan dentin yang melindungi pulpa. Pulpa adalah bagian gigi yang paling dalam, mengandung pembuluh darah dan serabut saraf.

Mahkota gigi adalah bagian gigi di atas gusi, sedangkan akar gigi adalah bagian gigi yang tertanam di dalam gusi. Bagian gigi yang patah bergantung pada beratnya trauma dan arah datangnya trauma. Gigi patah dapat terjadi pada crown gigi (mahkota) dan akar gigi.

1. Crown Gigi Patah

Crown gigi patah dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan kedalamannya, yaitu:

  • Gigi patah pada lapisan enamel
  • Gigi patah mencapai dentin
  • Gigi patah mencapai pulpa

2. Akar Gigi Patah

Akar gigi patah lebih jarang terjadi ketimbang mahkota gigi karena letaknya yang terlindungi di dalam gusi. Fraktur akar gigi dibagi menjadi tiga berdasarkan kedalamannya, yaitu sepertiga atas, sepertiga tengah, dan sepertiga bawah.

Selain gigi patah, trauma juga dapat menyebabkan cedera jaringan penyokong di sekitar gigi sehingga gigi menjadi tidak stabil. Kondisi gigi yang goyang tapi tidak terlepas, dikenal dengan sebutan subluksasi. Jika gigi tanggal atau patah sampai keluar dari kantungnya, kondisi ini disebut sebagai gigi avulsi. Gigi yang patah dapat menyebabkan perdarahan dari gusi, yang pada akhirnya menyebabkan perlekatan gigi dengan kantong gusi (akibat kerusakan ligamen penunjang gigi).

Penanganan Gigi Patah Akibat Olahraga

Gigi patah harus ditangani sesegera mungkin setelah cedera terjadi. Risiko tersedak oleh patahan gigi harus dipastikan tidak terjadi. Bagian gigi yang cedera segera dicuci dengan air bersih lalu ditekan menggunakan kassa bersih. Hati-hati untuk tidak membersihkan terlalu agresif karena dapat menyebabkan kerusakan ligamen.

Jika gigi patah hingga tanggal sepenuhnya, gigi tersebut mungkin masih dapat ditanam kembali, idealnya dalam waktu 5-10 menit. Keberhasilan untuk menanam gigi kembali berkurang jika dilakukan setelah 1 jam. Jika tidak memungkinkan untuk segera menjalani prosedur penanaman kembali, sisa gigi yang patah sebaiknya direndam dalam air, cairan salin normal, air liur pasien (diletakkan di pipi bagian dalam), atau susu dingin. Untuk kemudian dapat digunakan dalam rekonstruksi.

Untuk kasus gigi patah yang mencapai dentin, pertolongan pertama adalah dengan mengaplikasikan pelindung pulpa, seperti pasta kalsium hidroksida atau zinc oksida yang dicampur eugenol. Kemudian dokter gigi dapat mencoba untuk menyambungkan kembali gigi yang patah menggunakan semacam perekat khusus untuk gigi.

Penanganan akar gigi patah bergantung pada letak di mana fraktur terjadi. Jika patah di bagian sepertiga atas, proses penyembuhannya sebentar dan seringkali tidak membutuhkan penanganan khusus. Jika patah pada bagian sepertiga tengah, dokter gigi dapat melakukan splinting selama 6-8 minggu. Anda harus menjaga kebersihan gigi dan mulut untuk mencegah infeksi. Perawatan saluran akar mungkin diperlukan.

Jika cedera terlalu berat hingga gigi tidak memungkinkan untuk ditanam kembali, pencabutan gigi dapat dilakukan. Di kemudian hari, untuk pertimbangan fungsi dan estetika, dapat dibuat gigi palsu.

Untuk atlet, jika gigi tanggal sepenuhnya dan tidak dapat ditanam kembali, atlet tersebut dapat kembali bermain dalam waktu 48 jam dengan menggunakan pelindung mulut setelah dipastikan juga tidak ada tulang yang retak. Sedangkan jika gigi berhasil ditanam kembali, atlet tersebut harus menunggu waktu penyembuhan sekitar 2-4 minggu sebelum dapat berolahraga lagi.

Young EJ. Common dental injury management in athletes. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4482297/
Diakses pada Mei 2019

Ranalli, Dennis N. Dental injuries in sports. https://journals.lww.com/acsm-csmr/Fulltext/2005/02000/Dental_Injuries_in_Sports.4.aspx
Diakses pada Mei 2019

Smit WS, Kracher CM. Sports-related dental injuries and sports dentistry. https://www.researchgate.net/publication/13434591_Sports-Related_Dental_Injuries_and_Sports_Dentistry
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed