Gerakan Literasi Sekolah, Langkah Kecil untuk Ciptakan Pemikiran Besar

Gerakan literasi sekolah ditujukan untuk para murid dalam memahami media dan teknologi dengan bijak
Ilustrasi seorang murid sedang membacakan buku dihadapan kelas

Rendahnya minat baca di Indonesia sudah masuk kategori mengkhawatirkan sehingga pemerintah harus bekerja keras untuk menaikkan tingkat literasi di Tanah Air. Salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini adalah melaksanakan gerakan literasi sekolah.

Gerakan literasi sekolah adalah usaha demi menumbuhkan minat baca dan menulis pada siswa dan menjadikannya sebagai sikap yang tertanam untuk seumur hidup. Gerakan ini lahir pada 2016 lalu oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud dan kini telah disosialisasikan ke semua Dinas Pendidikan tingkat Provinsi hingga Kota/Kabupaten.

Gerakan ini dimaksudkan untuk memperbaiki tingkat literasi masyarakat Tanah Air dimulai dari anak-anak usia sekolah. Sayangnya program ini belum banyak memperlihatkan hasil karena berdasarkan data Kemendikbud pada 2019, angka rata-rata indeks aktivitas literasi membaca (Alibaca) nasional masih dalam kategori literasi rendah.

Seperti apa gerakan literasi sekolah?

Pada praktiknya, gerakan literasi sekolah dimulai dengan cara yang sangat sederhana, yakni membaca atau menulis selama 15 menit yang dilakukan oleh guru dan murid secara bersama-sama. Namun pada konsepnya, gerakan ini lebih dari sekedar mengajarkan anak untuk membaca dan menulis.

Dalam buku panduan Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, terdapat enam komponen kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Literasi dini

Dalam gerakan literasi sekolah ini, anak-anak akan diajarkan kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan. Kegiatan ini dapat dikatakan sebagai fondasi pengembangan literasi bagi anak-anak.

2. Literasi permulaan

Literasi ini mengajarkan anak untuk mampu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Literasi ini membutuhkan kemampuan anak yang lebih kompleks, yakni menganalisis, menghitung, mempersepsikan informasi, mengomunikasikannya, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman anak.

3. Literasi perpustakaan

Gerakan literasi sekolah ini bukan berarti harus dilakukan di ruang perpustakaan, namun esensinya ialah mengenalkan anak-anak pada jenis-jenis buku yang ada di perpustakaan. Guru dapat memberikan buku fiksi atau nonfiksi, ensiklopedia, dan jenis buku lainnya sehingga anak dapat memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan atau penelitian.

4. Literasi media

Anak diperkenalkan kepada berbagai bentuk media massa yang ada di Indonesia, mulai dari media cetak, media elektronik, media digital, termasuk media sosial. Tujuannya adalah anak dapat memahami dan memilah informasi secara bertanggung jawab, serta menggunakan media-media tersebut dengan baik.

5. Literasi teknologi

Gerakan literasi sekolah ini akan mengajarkan anak untuk menguasai teknologi, mulai dari peranti keras (hardware) maupun peranti lunak (software). Materi yang diajarkan mulai dari hal sederhana, seperti menghidupkan/mematikan komputer, hingga etika dalam memanfaatkan teknologi itu sendiri.

6. Literasi visual

Ini adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan teknologi. Anak akan diberikan pemahaman tentang konten digital yang beretika dan tidak melanggar norma sosial, misalnya dengan cara menonton film pendek maupun membahas soal konten media sosial yang tidak patut.

Kegiatan dalam gerakan literasi sekolah bisa dilakukan seiring dengan kurikulum yang diterapkan di institusi pendidikan tersebut. Misalnya, guru dapat meminta anak untuk melakukan presentasi pada mata pelajaran ekonomi atau anak diminta berpidato saat upacara bendera.

Sementara itu, subjek gerakan literasi sekolah bukan hanya murid, melainkan juga guru-guru sebagai fasilitator. Apalagi, anak-anak kini memiliki akses yang luas pada sumber informasi, baik di dunia nyata maupun dunia maya, yang mungkin menjadikan peserta didik lebih tahu daripada guru.

Apa manfaat gerakan literasi sekolah untuk anak?

Lewat gerakan literasi sekolah, anak diharapkan memiliki pola pikir yang cerdas dalam menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, dan auditori. Di era digital sekarang ini, literasi menjadi sangat penting untuk menyaring informasi yang fakta ataupun hoaks.

Dalam lingkup yang lebih besar lagi, terciptanya masyarakat dengan angka literasi tinggi juga akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Penelitian menyebut literasi dapat mendatangkan berbagai keuntungan, seperti:

  • Meningkatkan pertumbuhan ekonomi
  • Mengurangi angka kemiskinan dan kriminalitas
  • Mendukung terciptanya masyarakat yang demokratis
  • Mencegah penyakit berbahaya yang mengintai anak, termasuk HIV/AIDS
  • Mengurangi angka kelahiran
  • Membentuk pribadi anak yang percaya diri dan tangguh.

Membangun literasi memang bukan proses yang bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Namun, gerakan literasi sekolah bisa menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran anak-anak akan pentingnya memahami membaca, menulis, dan memahami informasi dari berbagai sumber sehingga tidak mudah terhasut dan terpecah-belah karena hoaks.

Dinas Pendidikan Kota Bandung. https://disdik.bandung.go.id/ver3/gerakan-literasi-sekolah/
Diakses pada 16 Juni 2020

Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. http://lpmplampung.kemdikbud.go.id/po-content/uploads/Desain_Induk_Gerakan_Literasi_Sekolah_2019.pdf
Diakses pada 16 Juni 2020

Repository Kemendikbud. http://repositori.kemdikbud.go.id/13033/1/Puslitjakdikbud_Indeks%20Aktivitas%20Literasi%20Membaca%2034%20Provinsi
Diakses pada 16 Juni 2020

Read Educational Trust. http://www.read.org.za/useful-info/benefits-of-literacy/
Diakses pada 16 Juni 2020

Artikel Terkait

Tanya Jawab Terkait Bersama Dokter