Genophobia atau Fobia Seks: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya


Genophobia adalah kondisi yang membuat seseorang takut untuk melakukan hubungan seksual. Kondisi ini dipicu berbagai macam faktor, mulai dari pengalaman traumatis di masa lalu hingga masalah kesehatan tertentu.

(0)
Genophobia adalah fobia yang membuat seseorang takut berhubungan seksualGenophobia membuat penderitanya ketakutan untuk melakukan hubungan seksuual
Berhubungan seks dapat memberi banyak manfaat untuk kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Namun, ada beberapa orang yang ternyata mempunyai fobia atau ketakutan untuk melakukan hubungan seksual. Kondisi ini dikenal dengan sebutan genophobia.

Apa itu genophobia?

Genophobia adalah kondisi yang membuat penderitanya merasa takut ataupun cemas secara berlebihan terhadap hubungan seks. Kondisi ini hampir serupa dengan erotophobia. Bedanya, genophobia lebih spesifik ke berhubungan intim, sedangkan erotophobia mengarah ke semua aktivitas seksual.Ada sejumlah fobia yang mungkin terjadi secara bersamaan dengan genophobia. Fobia-fobia tersebut, antara lain:
  • Nosophobia: ketakutan terserang penyakit atau virus
  • Gymnophobia: ketakutan untuk telanjang atau melihat orang lain telanjang
  • Heterophobia: ketakutan terhadap lawan jenis
  • Haphephobia: ketakutan terhadap sentuhan
  • Tocophobia: ketakutan untuk hamil atau melahirkan

Penyebab orang mengalami genophobia

Beragam faktor dapat menjadi penyebab genophobia. Fobia ini bisa dipicu oleh peristiwa yang mengakibatkan trauma hingga adanya masalah kesehatan tertentu. Berikut ini beberapa faktor yang bisa menyebabkan fobia seks:

1. Vaginismus

Vaginismus terjadi ketika otot-otot vagina mengencang tanpa disengaja saat penetrasi. Kondisi ini bisa membuat hubungan intim terasa sangat menyakitkan. Rasa sakit itulah yang kemudian membuat seseorang takut untuk melakukan hubungan seks.

2. Disfungsi ereksi

Kondisi ini terjadi ketika penis kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi. Meski dapat diobati, disfungsi ereksi bisa membuat penderitanya malu dan stres. Perasaan malu dan stres yang dirasakan oleh penderita disfungsi ereksi berpotensi memicu genophobia.

3. Pelecehan seksual di masa lalu

Pelecehan seksual di masa lalu dapat menyebabkan gangguan stres pasca trauma (PTSD), yang kemudian mengubah cara pandang seseorang terhadap hubungan seks. Tak hanya itu, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi fungsi seksual korban pelecehan.

4. Ketakutan akan performa seksual

Ketakutan tidak dapat memuaskan pasangan di atas ranjang dapat menyebabkan genophobia. Akibatnya, orang-orang dengan ketakutan ini memilih untuk tidak berhubungan seks karena tak ingin diejek perihal performa buruknya saat berhubungan intim.

5. Malu dengan bentuk tubuh sendiri

Rasa malu terhadap bentuk tubuh sendiri bisa memicu ketakutan seseorang untuk melakukan hubungan seks. Perasaan malu ini muncul karena penderitanya menganggap bahwa mereka mempunyai tubuh yang tidak bagus. Padahal, orang lain yang melihat kekurangan itu mungkin saja tidak mempermasalahkan hal tersebut dan menganggapnya normal.

6. Pernah menjadi korban pemerkosaan

Pemerkosaan dapat memicu genophobia. Paksaan yang terjadi di masa lalu membuat korban pemerkosaan trauma dan memilih untuk menghindari hubungan seks. Hal itu dilakukan karena hubungan seks dapat memicu ketakutan dan mengembalikan trauma mereka.

Gejala yang umumnya dirasakan oleh penderita fobia seks

Sama seperti fobia lain, ada beberapa gejala yang dirasakan oleh penderita genophobia. Rasa takut yang dialami oleh penderita fobia seks dapat memicu kemunculan gejala secara fisik dan psikologis.Beberapa gejala yang mungkin dirasakan, di antaranya:
  • Merasa takut, cemas, dan panik ketika melihat atau hendak melakukan hubungan seks
  • Menghindari situasi yang memungkinkan untuk terjadinya hubungan seks
  • Timbul gejala fisik seperti pusing, kesulitan bernapas, jantung berdebar, berkeringat, dan mual saat melihat atau hendak melakukan hubungan seks
Perlu diingat, gejala yang dialami oleh masing-masing penderitanya mungkin akan berbeda satu sama lain. Jika Anda merasakan salah satu dari gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau psikiater untuk mencari tahu kondisi yang mendasarinya.

Bisakah genophobia disembuhkan?

Cara mengatasi genophobia harus dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Sebagai contoh, jika fobia seks dipicu oleh vaginismus, pengobatan medis bisa membantu menghilangkan ketakutan Anda.Sementara itu, apabila ketakutan Anda disebabkan masalah psikologis, terapi bisa dijadikan pilihan. Beberapa terapi yang dapat dilakukan untuk mengatasi genophobia seperti terapi perilaku kognitif (CBT), terapi pemaparan, dan terapi seks.

Catatan dari SehatQ

Genophobia merupakan fobia atau ketakutan terhadap hubungan seks. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai macam faktor mulai dari pengalaman traumatis yang terjadi di masa lalu hingga masalah kesehatan tertentu.Jika Anda menderita gejala fobia seks, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau psikiater. Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai genophobia, tanyakan langsung ke dokter di aplikasi kesehatan SehatQ . Download sekarang di App Store dan Google Play.
masalah seksualhubungan seksualgangguan kecemasanfobiadisfungsi seksual
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/genophobia-fear-of-sexual-intercourse-2671745
Diakses pada 28 Maret 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/fear-of-sex
Diakses pada 28 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait