4 Manfaat Sosialisasi dengan Orang Lain Bagi Kesehatan

Bertemu teman untuk sosialisasi akan membantu membangun pola hidup yang lebih sehat
Mengunjungi teman dan bersosialiasi ternyata memiliki dampak positif bagi kesehatan

Berteman dan bersosialisasi dengan orang lain merupakan salah satu cara untuk bisa merilekskan diri sejenak dengan bersenda gurau dan saling bertukar cerita. Manfaat sosialisasi juga berguna untuk membentuk koneksi dengan orang lain dan beradaptasi dalam lingkungan.

Namun, manfaat sosialisasi tidak hanya sampai di situ saja, karena terdapat manfaat sosialisasi untuk kesehatan! Anda bisa berkumpul dengan teman-teman sambil menuai manfaat sosialisasi bagi kesehatan Anda.

Apa manfaat sosialisasi untuk kesehatan?

Manfaat sosialisasi bukan hanya sekedar untuk bercerita dan berkumpul bersama teman ataupun untuk membangun koneksi-koneksi baru dengan orang lain, tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan.

Apa-apa saja manfaat sosialisasi untuk kesehatan? Simak daftar manfaat sosialisasi untuk kesehatan di bawah ini: 

  • Memberikan dampak positif pada fungsi otak

Anda tidak hanya dapat melatih fungsi otak melalui permainan yang mengasah otak ataupun program-program lain yang dapat meningkatkan fungsi otak, karena bersosialisasi dapat menjadi alternatif lain untuk menjaga fungsi otak Anda.

Berinteraksi dengan orang adalah salah satu bentuk melatih otak, karena interaksi sosial dapat membantu meningkatkan fungsi memori dan melindungi otak dari penyakit-penyakit yang merusak saraf.

Manfaat sosialisasi bagi fungsi otak terlihat dari sebuah studi yang mendapati bahwa orang yang mengajar orang lain mengenai bahan-bahan ujian mendapatkan hasil yang lebih baik saat ujian daripada yang belajar seperti biasanya.

Orang yang suka bersosialisasi ditemukan memiliki performa intelektual dan kognitif yang lebih baik. Hal ini karena sosialisasi melatih pemikiran Anda.

Suatu penelitian bahkan menemukan bahwa salah satu manfaat sosialisasi adalah untuk mencegah demensia.

  • Membantu membangun pola hidup yang lebih sehat

Manfaat sosialisasi dalam membentuk pola hidup yang lebih sehat terbukti dari sebuah riset yang meneliti mengenai kualitas hidup dan olahraga.

Riset tersebut menemukan bahwa orang yang berolahraga dalam kelompok mengalami penurunan stres serta peningkatan kesehatan mental, fisik, dan emosional daripada yang berolahraga sendirian.

Orang yang kurang bersosialisasi atau memiliki lingkup sosialisasi yang kecil berisiko lebih tinggi untuk terkena diabetes tipe 2 daripada yang sering bersosialisasi. 

Hal ini karena kurangnya dukungan emosional berdampak pada pengambilan keputusan dan kurangnya perawatan saat sedang sakit.

Anda akan lebih termotivasi untuk melakukan pola hidup sehat, seperti berolahraga saat bersama dengan teman daripada sendirian. Selain itu, adanya teman di sekeliling dapat menjadi pengingat untuk tetap menjalani gaya hidup yang sehat.

  • Mengurangi stres

Manfaat sosialisasi yang satu ini sudah bukan rahasia umum lagi. Saat Anda bersosialisasi secara tatap muka, Anda akan lebih mungkin untuk bisa bertahan dari tekanan stres untuk jangka waktu yang panjang.

Saat Anda berinteraksi secara sosial secara tatap muka dengan orang lain, maka tubuh akan memproduksi senyawa dopamin yang biasanya dianggap sebagai ‘morfin alami tubuh’. Dopamin dapat meringankan rasa sakit dan membuat Anda merasa senang.

Ketika sedang bersosialisasi, sentuhan yang diberikan atau yang didapatkan, seperti berjabat tangan, berpelukan, dan sebagainya juga memicu tubuh untuk membuat senyawa oksitosin yang menurunkan tingkat stres dengan mengurangi kadar kortisol dalam tubuh.

  • Menjaga kesehatan mental

Penelitian menunjukkan bahwa kaum lansia yang berinteraksi sosial secara tatap muka memiliki gejala depresi yang lebih rendah daripada kaum lansia lain yang hanya berbicara lewat telepon ataupun surel.

Akan tetapi, tentunya manfaat sosialisasi dalam menjaga kesehatan mental juga bisa dirasakan oleh kaum muda, seperti kalangan remaja. Remaja yang memiliki teman-teman dekat akan lebih rendah peluangnya untuk mengalami kecemasan sosial.

Secara garis besar, remaja yang memiliki teman-teman dekat yang masih berhubungan baik hingga dewasa akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Sosialisasi dengan kualitas hubungan yang baik mampu membantu untuk menurunkan risiko mengalami depresi dan bahkan mampu membantu meringankan gejala depresi dengan membangun kembali keberhargaan diri atau self-esteem dari penderita.

Studi lain mendapati bahwa interaksi sosial sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan diri pada orang-orang yang memiliki disabilitas.

Jangan lupakan hal penting dalam bersosialisasi

Manfaat sosialisasi bagi kesehatan tidak dapat dipungkiri, tetapi Anda akan lebih bisa merasakan dampaknya saat melakukan interaksi sosial secara tatap muka daripada melalui alat komunikasi, seperti telepon, surel, dan sebagainya.

Bersosialisasi memang penting, tetapi jangan lupa untuk menyeleksi siapa saja yang bisa masuk ke dalam lingkup pertemanan Anda, karena manfaat sosialisasi juga didasarkan pada kualitas hubungan pertemanan yang baik. Selamat bersosialisasi!

BMC. https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-017-4948-6
Diakses pada 16 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321019.php
Diakses pada 16 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15157849
Diakses pada 16 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5422915/
Diakses pada 16 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3640036/
Diakses pada 16 Agustus 2019

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2015/10/151005080109.htm
Diakses pada 16 Agustus 2019

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2008/02/080215135707.htm
Diakses pada 16 Agustus 2019

The Journal of the American Osteopathic Association. https://jaoa.org/article.aspx?articleid=2661140
Diakses pada 16 Agustus 2019

UCD. https://www.ucd.ie/news/2012/06JUN12/130612-Socialising-helps-to-alleviate-symptoms-of-depression.html
Diakses pada 16 Agustus 2019

Wiley Online Library. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/acp.3410?campaign=wolearlyview
Diakses pada 16 Agustus 2019

Wiley Online Library. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/cdev.12905
Diakses pada 16 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed