Generasi Milenial, Generasi yang Rentan Terhadap Gangguan Mental

Generasi milenial rentan terhadap berbagai masalah mental
Seorang wanita sedang melamun di samping jendela

Dewasa ini, generasi milenial kerap disebut dalam berbagai isu dan topik yang tengah berkembang di masyarakat. Namun, apakah Anda mengetahui apa itu generasi milenial?

Generasi milenial, yang juga dikenal sebagai generasi Y, adalah seseorang yang lahir pada kisaran tahun 1982 sampai 2004, dengan kata lain mereka lahir setelah generasi X.

Generasi milenial tumbuh bersamaan dengan berkembangnya teknologi elektronik, internet, dan komunitas sosial online. Menurut Digital Marketing Ramblings (DMR), generasi milenial menghabiskan 18 jam per minggu untuk menggunakan smartphone mereka.

Beberapa fakta dari Pew Research Center menunjukkan bahwa kaum milenial cenderung lulusan perguruan tinggi dan berusia antara 25-35 tahun.

Generasi milenial rentan terhadap gangguan mental

Sebagai generasi yang didominasi oleh dewasa muda, generasi milenial dikenal sebagai "generasi burnout”, yaitu generasi yang rentan terhadap stres kronis atau berkepanjangan sehingga menyebabkan kelelahan secara mental, emosional, bahkan fisik.

Masalah ini umumnya disebabkan oleh pekerjaan, namun juga bisa muncul di ranah lainnya, seperti mengurus anak, hubungan asmara, bahkan hingga permasalahan dalam media sosial.

Berdasarkan The Health of America Report, burnout adalah hal nyata yang berdampak pada generasi milenial, terutama dalam hal kesehatan mental dan emosional mereka. Kondisi ini juga dapat memicu masalah mental seperti depresi.

Baik itu masalah finansial, penggunaan media sosial, lingkungan kerja atau beban kerja yang berat, ada banyak faktor berbeda yang dapat menyebabkan tingkat stres, gangguan kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dihadapi oleh generasi milenial.

Uang adalah salah satu titik fokus paling umum kekhawatiran generasi milenial. Banyak dari mereka yang kesulitan mencari pekerjaan dan memiliki kekhawatiran serius tentang uang. Generasi milenial saat ini menghadapi kesulitan keuangan yang bisa dibilang lebih besar daripada generasi sebelumnya.

Hampir 30 persen generasi milenial melihat diri mereka kurang sejahtera dari yang mereka perkirakan. Mereka juga mengalami kesulitan menabung karena gaya hidup dan biaya hidup yang meningkat.

Generasi ini juga kerap mengkhawatirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dan tentang membuat pilihan yang tepat untuk memastikan masa depan yang stabil.

Kekhawatiran ini menjadi alasan lainnya mengapa generasi milenial rentan terhadap gangguan mental. Mereka sering kali mengalami kesulitan menentukan satu opsi dan merasa tidak mampu membuat pilihan sama sekali.

Masalah mental lainnya yang dihadapi oleh generasi milenial

Berikut adalah masalah-masalah mental yang kerap menghinggapi milenial. 

1. Meningkatnya depresi

Depresi adalah gangguan mental yang dialami oleh generasi milenial. Kondisi ini didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagai penyakit tidak terprediksi yang menurunkan kondisi kesehatan.

Sebuah laporan mengungkapkan bahwa, diagnosis depresi meningkat pada tingkat yang sangat cepat untuk generasi milenial dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Sejak 2013, generasi milenial di Amerika Serikat telah mengalami peningkatan 47 persen dalam kategori depresi berat. Menurut Harvard Medical School, gejala yang paling menonjol dari depresi berat adalah suasana hati yang menurun, kesedihan mendalam, dan rasa putus asa.

2. Banyaknya upaya bunuh diri

The Health of America Report juga mencatat bahwa generasi milenial lebih banyak melakukan upaya bunuh diri atau kematian yang disebabkan oleh narkoba atau alkohol. Dalam hal ini, tekanan uang yang meliputi kebutuhan finansial atau utang dan overdosis adalah penyebab kematian paling sering terjadi.

3. Selalu merasa kesepian

Sebagian generasi milenial tidak selalu memiliki seseorang untuk berbagi beban mental, mereka cenderung tidak memiliki dukungan sosial dibandingkan generasi lain. Alasan lainnya, karena generasi milenial banyak yang kurang terhubung dengan komunitas-komunitas tertentu, seperti keagamaan.

Dalam sebuah survei, generasi milenial disebut sebagai “generasi yang paling kesepian". 27 persen milenial yang melaporkan dalam survei tersebut menyatakan mereka tidak memiliki teman dekat dan 30 persennya mengatakan mereka tidak memiliki sahabat.

4. Terjadinya pelecehan dan intimidasi di tempat kerja

Pelecehan dan intimidasi di tempat kerja juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental menurut WHO. Isu-isu ini cenderung mengganggu pekerja perempuan dan ras minoritas. Hampir sebagian besar generasi milenial meninggalkan pekerjaan mereka karena alasan kesehatan mental.

Itulah beberapa masalah mental yang menghantui generasi milenial. Apabila Anda mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan gangguan mental atau kesulitan dalam menanganinya, segera hubungi psikolog untuk mendapat penanganan yang tepat.

Bcbs. https://www.bcbs.com/smarter-better-healthcare/article/lets-talk-about-mental-health-and-millennials
Diakses pada 25 Mei 2020

Webmd. https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-types-illness#1
Diakses pada 25 Mei 2020

Webopedia. https://www.webopedia.com/TERM/M/millennials.html
Diakses pada 25 Mei 2020

Whatis.techtarget. https://whatis.techtarget.com/definition/millennials-millennial-generation
Diakses pada 25 Mei 2020

Artikel Terkait