Kelainan pigmen kulit bernama vitiligo pada bayi adalah penyakit yang tidak bersifat mematikan atau menular
Vitiligo pada bayi tidak berbahaya maupun menular

Apakah kulit bayi Anda memiliki warna yang tidak sama alias belang? Jika ya, bayi Anda mungkin terkena kelainan pigmen kulit bernama vitiligo.

Vitiligo pada bayi tidak bersifat mematikan maupun menular. Tapi kondisi kulit belang ini tentu tetap membuat orangtua resah karena berdampak pada penampilan bayinya.

[[artikel-terkait]]

Apa itu vitiligo?

Vitiligo adalah kelainan pada kulit yang mengakibatkan sel-sel melanosit tidak lagi bekerja dengan normal dalam memproduksi melanin. Akibatnya, melanin tidak mampu menghasilkan pigmen yang seharusnya menjadi warna kulit Anda.

Tanpa adanya pigmen, warna kulit otomatis akan menjadi putih atau tampak pucat. Bayi manapun bisa terjangkit vitiligo, namun bercak vitiligo akan tampak lebih jelas pada penderita bayi berkulit gelap.

Berdasarkan sebuah studi, 50 persen penderita vitiligo berusia di bawah 20 tahun. Bahkan 25 persen di antara penderita tersebut sudah terdeteksi mengidap kelainan kulit ini sebelum usia mereka genap delapan tahun.

Seperti apa gejala vitiligo pada bayi?

Gejala vitiligo pada bayi sama seperti indikasi vitiligo pada umumnya, yaitu:

  • Kulit mengalami perbedaan warna, di mana warnanya menjadi lebih muda. Kondisi ini bisa terjadi pada kulit di sekitar mulut dan mata, jari-jari tangan, pergelangan tangan, ketiak, hingga di sekitar alat kelamin.
  • Perubahan pigmen tidak hanya terjadi pada kulit, tapi juga pada rambut, bulu mata, maupun alis.
  • Membran mukosa juga bisa terpengaruh dan berubah menjadi lebih muda, misalnya pada bagian dalam mulut.
  • Perubahan warna pada lapisan mata bagian dalam atau retina.
  • Rambut yang rontok.

Apa penyebab terjadinya vitiligo pada bayi?

Terdapat beragam teori mengenai penyebab vitiligo, namun belum ada penelitian yang bisa membuktikan pemicunya secara jelas. Beberapa teori tersebut meliputi:

  • Kelainan autoimun, yakni kondisi di mana sistem kekebalan tubuh keliru dan malah menyerang sel-sel melanosit.
  • Faktor keturunan. Lebih dari 30 persen bayi pengidap vitiligo memiliki anggota keluarga yang juga mengidap penyakit yang sama.
  • Paparan sinar matahari. Radiasi sinar ultraviolet (UV) dari cahaya matahari juga dianggap dapat memengaruhi kemungkinan seseorang untuk mengidap vitiligo.
  • Paparan zat kimia. Kandungan kimia pada produk perawatan bayi juga dianggap bisa memengaruhi risiko kemunculan vitiligo pada bayi. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam memilih produk bayi dan pastikan keamanannya.

Selain itu, bayi yang memiliki riwayat keluarga berpenyakit kelenjar tiroid, diabetes, dan kerontokan rambut (alopecia) juga dinilai mempunyai risiko lebih tinggi untuk terkena vitiligo.

Meski demikian, untuk memastikan bayi Anda mengidap vitiligo atau bukan, Anda butuh bantuan dan konsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes untuk menegakkan diagnosis gangguan kulit ini.

Apakah vitiligo pada bayi bisa disembuhkan?

Sayangnya, belum ada pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan vitiligo pada bayi. Sebagian bercak mungkin akan memudar seiring dengan bertambahnya usia buah hati, meski Anda tidak melakukan perawatan.

Untuk bercak vitiligo pada bayi yang tidak kunjung berkurang, Anda bisa berkonsultasi dan mendiskusikan penanganan yang tepat dengan dokter. Jangan sembarangan memberikan obat pada bayi Anda guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

US National library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5816297/
Diakses pada 24Mei 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/vitiligo.html
Diakses pada 24 Mei 2019

Mom Junction. https://www.momjunction.com/articles/vitiligo-in-babies_00353445/#gref
Diakses pada 24 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed