Jangan Anggap Remeh, Kenali Gejala PPOK, Cara Mengatasi, dan Jenis Pemeriksaan Penunjang Diagnosis


Serupa dengan beberapa penyakit pernapasan lainnya, gejala penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang paling umum adalah batuk berkepanjangan dan sesak napas. Kondisi ini juga bisa menandakan penyakit yang Anda alami memburuk (eksaserbasi). Menghindari iritan dan rajin minum obat menjadi cara mencegah sekaligus mengatasinya.

0,0
gejala ppokBatuk berkepanjangan bisa menjadi salah satu gejala PPOK
Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK adalah sekelompok penyakit paru yang bisa memburuk seiring berjalannya waktu. Sebagian besar gejala PPOK berkaitan dengan gangguan pernapasan. Mengatasi gejala PPOK berarti mencegah perburukan dan komplikasi penyakit. Pasien pun dapat hidup lebih nyaman. Kenali lebih jauh tentang beragam gejala PPOK dan cara mengatasinya, serta pemeriksaan medis untuk menunjang diagnosis berikut ini.

Gejala PPOK dan cara mengatasinya 

Secara umum, terdapat dua jenis PPOK, yakni bronkitis kronis dan emfisema. Mengingat ini adalah penyakit pernapasan, tak heran jika sebagian besar gejalanya berkisar pada gangguan saluran napas. Gejala PPOK muncul akibat adanya peradangan, penyempitan, bahkan penumpukan lendir di saluran napas.Tingkat keparahannya bisa bervariasi, tergantung jumlah kerusakan paru yang dialami. Berikut ini gejala-gejala PPOK yang perlu Anda waspadai dan cara mengatasinya. 

1. Sesak napas

Salah satu gejala PPOK memburuk adalah sering sesak napas
Salah satu gejala PPOK memburuk adalah sering sesak napas
Sesak napas terjadi ketika paru-paru membutuhkan lebih banyak upaya untuk mengambil dan mengembuskan napas (pertukaran udara). Ini merupakan tanda PPOK yang paling sering terjadi. Bahkan, beberapa orang membutuhkan tabung oksigen untuk membantunya bernapas.Pada kondisi PPOK, sesak napas terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan (obstruksi) pada saluran napas. Inilah yang kemudian menghambat aliran udara dari dan menuju paru-paru. Akibatnya, pasokan oksigen kurang, Anda pun kesulitan bernapas. Untuk mengatasinya, cobalah melakukan latihan pernapasan. Berlatih pernapasan perut membuat rongga paru lebih besar, sehingga paru dapat mengembang lebih besar, dan menampung oksigen lebih banyak.Anda juga sebaiknya tetap minum obat yang dianjurkan dokter untuk mencegah eksaserbasi PPOK, alias perburukan gejala.

2. Peningkatan produksi lendir atau dahak

Peningkatan produksi lendir atau dahak merupakan respons alami tubuh untuk mengeluarkan zat iritan yang terhirup oleh paru-paru. Masuknya zat iritan, seperti asap rokok menyebabkan produksi lendir 3 kali lipat dari jumlah normal. Asap rokok sendiri diketahui sebagai penyebab utama PPOK.Gejala PPOK ini bisa terus muncul sejak didiagnosis, atau bahkan memburuk. Untuk itu, agar produksi lendir tidak berlebihan, beberapa hal yang dapat Anda lakukan, antara lain: 
  • Hindari iritan
  • Jauhi asap rokok, akan lebih baik jika berhenti merokok
  • Teratur minum obat seperti bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, atau antibiotik

3. Batuk kronis

Batuk berkepanjangan bisa menjadi tanda PPOK
Batuk berkepanjangan bisa menjadi tanda PPOK
Sebenarnya, batuk merupakan respons alami tubuh manusia saat ada benda asing masuk ke dalam paru-paru. Akan tetapi, batuk yang tak kunjung sembuh, alias kronis, bisa jadi tanda Anda mengalami PPOK.Batuk ini terjadi dalam jangka waktu panjang bahkan tak juga sembuh walau telah minum obat.

4. Kelelahan 

Kelelahan bisa jadi menjadi tanpa PPOK. Kelelahan pada penderita penyakit paru biasanya terjadi karena kesulitan napas dan kurangnya oksigen dalam tubuh. Sesak napas yang dialami akan membuat paru-paru berupaya lebih keras untuk menghirup oksigen. Alhasil, Anda jadi kekurangan energi dan menjadi lelah. Kelelahan yang terjadi pada penderita PPOK juga membuat Anda tidak aktif. Hal ini membuat tubuh semakin kehilangan energi dan merasa semakin kelelahan.Untuk mengatasinya, Anda justru perlu memulai olahraga teratur untuk memperkuat otot. Tentu jenis olahraganya tidak bisa sembarangan. Olahraga untuk orang PPOK sebaiknya yang berintensitas rendah, seperti jalan kaki.Rutin berolahraga mampu memperkuat otot, sehingga kekuatan tubuh pun akan lebih baik.Perhatikan pula asupan makanan. Konsumsilah makanan tinggi protein, sebagai salah satu zat gizi pembangun otot dan pemberi energi.

Apakah PPOK menular?

Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah penyakit PPOK menular? PPOK memang menyebabkan bronkitis (kronis). Akan tetapi, PPOK tidak menular. Meskipun memiliki gejalanya mirip dengan penyakit infeksi virus seperti influenza, PPOK tidak disebabkan oleh virus atau bakteri yang menular. Penyakit paru obstruktif kronis merupakan jenis penyakit progresif. Artinya, penyakit ini dapat terus memburuk seiring berjalannya waktu.Bisa dibilang penyebab PPOK adalah kerusakan paru, akibat kombinasi beragam faktor, antara lain:
  • Genetik
  • Kebiasaan merokok
  • Infeksi paru-paru akibat paparan iritan, seperti asap rokok, polusi, bahan kimia lingkungan industri
Namun, menurut badan kesehatan dunia atau WHO, vaksinasi pneumonia dan influenza tahunan bisa menjadi cara untuk mencegah timbulnya PPOK dan mencegah perburukan. Dalam hal ini, infeksi virus dan bakteri dapat menjadi faktor risiko penyebab PPOK. Orang dengan PPOK juga memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah sehingga rentan terhadap infeksi.

Pemeriksaan penunjang diagnosis PPOK 

Untuk mengetahui apakah Anda PPOK atau batuk biasa, dokter akan memeriksa fisik Anda, dan mencari tahu gejala yang muncul, riwayat paparan terhadap iritan, dan riwayat keluarga.Untuk menegakkan diagnosis PPOK, dokter mungkin akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti: 

1. Spirometri

Spirometri berguna untuk membantu diagnosis PPOK
Spirometri berguna untuk membantu diagnosis PPOK
Spirometri bertujuan mengukur fungsi dan kapasitas paru. Hasil spirometri membantu menentukan jenis penyakit paru dan tingkat keparahannya. 

2. Tes darah 

Tes darah pada penderita penyakit paru obstruktif kronis bertujuan memastikan penyebab PPOK berasal dari infeksi atau kondisi medis lain.

3. Tes genetik

Tes genetik bertujuan melihat apakah PPOK yang Anda alami berasal dari faktor genetik atau keturunan. Dalam hal ini, dokter akan memeriksa kadar alpha-1 antitrypsin (AAT)AAT yang rendah lebih berisiko mengalami PPOK, bahkan di usia muda. AAT sendiri merupakan protein yang membantu melindungi paru dari peradangan akibat iritan, seperti rokok atau polusi. 

4. Rontgen dada atau CT scan

Gambaran paru orang PPOK dapat menunjukkan letak kerusakan yang terjadi
Gambaran paru orang PPOK dapat menunjukkan letak kerusakan yang terjadi
Rontgen dada atau CT scan sama-sama memberikan hasil pencitraan tubuh bagian dalam. Keduanya bertujuan memastikan gejala yang Anda alami bukan merupakan akibat dari kondisi lain, seperti gagal jantung. Bedanya, CT scan lebih detail dan butuh persiapan yang lebih dibandingkan dengan rontgen dada (toraks).Gambaran rontgen PPOK biasanya dapat menunjukkan kelainan pada paru, misalnya emfisema atau kerusakan pada alveolus (kantong udara kecil pada paru-paru).Selain mendeteksi kerusakan paru, CT scan mampu memberi gambaran lebih jelas sehingga mampu mendeteksi jaringan kanker pada paru. 

5. Pemeriksaan dahak

Pemeriksaan dahak biasanya dibutuhkan jika Anda mengalami batuk yang sering dan mengeluarkan lendir atau dahak. Pemeriksaan dahak pada penderita PPOK bertujuan mengidentifikasi penyebab kesulitan bernapas. Pemeriksaan ini juga bisa mendeteksi beberapa kanker paru. 

6. Elektrokardiogram (EKG)

Elektrokardiogram atau rekam jantung bertujuan mengukur aktivitas listrik jantung yang berkaitan dengan adanya gangguan irama jantung. Pemeriksaan ini biasanya bertujuan untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab sesak napas yang Anda alami.EKG dilakukan untuk memastikan bahwa sesak napas Anda bukan dari masalah jantung. Namun, pada beberapa kasus PPOK yang mengalami sesak napas, juga bisa menyebabkan komplikasi gangguan jantung. 

7. Tes reversibilitas bronkodilator (bronchodilator reversibility test)

Tes ini sebenarnya lebih bertujuan untuk mengevaluasi pengobatan PPOK yang Anda lakukan, ketimbang mendiagnosis PPOK.Tes reversibilitas bronkodilator menggabungkan spirometri dengan penggunaan bronkodilator (obat melegakan saluran napas). Tes ini bertujuan menentukan apakah bronkodilator yang digunakan sebagai pengobatan PPOK berhasil atau Anda gunakan berhasil atau perlu penyesuaian. Sebelum melakukan pemeriksaan, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter terkait prosedur dan persiapan yang harus dilakukan. Pasalnya, ada beberapa jenis obat yang tidak boleh dikonsumsi sebelum pemeriksaan PPOK spirometri, EKG, dan tes reversibilitas bronkodilator. Jenis pemeriksaan PPOK lain juga membutuhkan beragam persiapan seperti mengenakan pakaian yang nyaman dan menghindari makan besar sebelum pemeriksaan. Berkonsultasi dengan dokter terkait hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan seakurat mungkin.

Catatan dari SehatQ

Meskipun tidak menular, penyakit paru obstruktif kronis bisa saja memburuk seiring berjalannya waktu. Mengenali gejala PPOK dan cara menanganinya sedini mungkin, dapat mencegah perburukan dan komplikasi yang mungkin terjadi. Dokter akan menentukan prosedur pemeriksaan medis untuk menegakkan diagnosis. Selanjutnya, dokter akan menentukan rencana pengobatan PPOK yang sesuai dengan kondisi Anda. Jika masih ada pertanyaan seputar gejala PPOK, Anda juga bisa berkonsultasi secara online menggunakan fitur chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
penyakit paru-parubronkitispenyakit paru obstruktif kronisppok
Healthline. https://www.healthline.com/health/copd/tests-diagnosis#spirometry
Diakses pada 16 September 2021
American Thoracic Society. https://www.thoracic.org/patients/patient-resources/resources/signs-symptoms-of-COPD.pdf
Diakses pada 16 September 2021
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)
Diakses pada 16 September 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323726#seeing-a-doctor
Diakses pada 16 September 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/early-symptoms-copd#how-can-i-tell
Diakses pada 16 September 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/diagnosis-treatment/drc-20353685
Diakses pada 16 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait