Apa Perbedaan Gejala Polio Nopraktik dan Paralitik? Ini Penjelasannya!

Gejala polio paralitik dan nonparalitik tidaklah sama
Penyakit polio menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya

Polio sering disebut dengan lumpuh layuh, yaitu penyakit yang diidentikkan menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya. Polio merupakan penyakit mudah menular yang disebabkan oleh virus polio. Virus penyakit ini menyerang sistem saraf, dan dapat menyebabkan kelumpuhan dalam waktu beberapa jam saja. Polio ditularkan melalui minuman atau makanan yang terkontaminasi kotoran manusia dengan virus polio. Anak-anak di bawah usia 5 tahun adalah kelompok yang paling rentan terinfeksi polio.

2 Jenis penyakit polio yang berbeda

Polio terdiri dari dua jenis, yaitu nonparalitik dan paralitik. Kedua jenis polio ini dibedakan berdasarkan gejala dan kelumpuhan yang terjadi. Polio nonparalitik tidak menyebabkan kelumpuhan seperti pada polio paralitik.

Gejala polio paralitik

Polio yang menyebabkan kelumpuhan terjadi pada 1% infeksi polio. Gejala polio paralitik meliputi:

  • Hilangnya refleks saraf yang normal
  • Spasme otot disertai nyeri
  • Kelemahan lengan atau tungkai, dapat terjadi pada satu sisi tubuh saja
  • Kelumpuhan tiba-tiba, secara sementara ataupun permanen
  • Kelainan bentuk pinggul, mata kaki, dan kaki

Jika kelumpuhan terjadi pada otot pernapasan, polio bisa mengakibatkan pada kematian. Pada penderita yang tetap bertahan hidup setelah terinfeksi polio paralitik, kelumpuhan mungkin hilang dengan sedikit gejala sisa.

Akan tetapi, ancaman polio tidak berhenti sampai di situ saja karena sindrom postpolio bisa muncul setelah puluhan tahun sembuh dari polio. Sindrom postpolio adalah kumpulan gejala yang berpotensi menyebabkan kecacatan, muncul 30-40 tahun setelah infeksi polio yang pertama.

Gejala polio nonparalitik

Gejala polio nonparalisik menyerupai gejala flu atau meriang, dan tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala-gejala polio ini meliputi:

Gejala di atas umumnya lebih ringan dan akan menghilang dalam 2-3 hari.

Polio nonparalitik disebut juga sebagai polio abortif karena dianggap sembuh sempurna tanpa kecacatan. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa penyintas polio nonparalitik tetap dapat mengalami sindrom postpolio setelah infeksi awal. Sebelumnya sindrom postpolio dianggap hanya terjadi pada penyintas polio dengan kelumpuhan.

Sebuah studi meneliti 82 penyintas polio nonparalitik. Sekitar 14% mengalami kelemahan otot dan 21% mengalami rasa lelah (fatigue), dua gejala yang lebih sering ditemukan pada penyintas polioparalitik. Kelemahan otot yang dialami menyebabkan keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Temuan ini mengindikasikan bahkan pada infeksi polio yang ringan dan tidak menyebabkan kelumpuhan, infeksi virus tetap menyebabkan kerusakan saraf, yang di kemudian hari dapat menyebabkan kelemahan otot.

Hal ini harus diwaspadai. Selama ini, diagnosis sindrom postpolio hanya ditegakkan jika ditemukan riwayat kelumpuhan akibat polio sebelumnya. Tampaknya jika anda mengalami kelemahan otot tiba-tiba yang menyebabkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, kerusakan saraf akibat polio harus dipikirkan sebagai salah satu penyebab yang mungkin walaupun tidak diingat ada riwayat polio sebelumnya.

[[artikel-terkait]]

Sindrom postpolio

Sindrom postpolio adalah sekumpulan gejala yang disebabkan oleh kerusakan saraf akibat infeksi polio. Beberapa tanda dan gejala sindrom postpolio, antara lain:

  • Kelemahan otot dan sendi yang bertambah berat
  • Rasa nyeri pada otot dan sendi
  • Rasa lemas dan lelah dengan aktivitas fisik ringan
  • Atrofi otot (otot mengecil)
  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Sleep apnea
  • Tidak tahan terhadap suhu dingin

Penyebab sindrom postpolio

Sindrom postpolio pada umumnya akan muncul setelah 30-40 tahun sejak terinfeksi polio. Penyebab sindrom postpolio belum dapat dipastikan. Virus polio menyerang dan menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf. Setelah infeksi virus sembuh, sel-sel saraf yang masih bertahan hidup mencoba mengompensasi kehilangan sebagian sel saraf dengan cara memperbesar ukuran sel, memperpanjang, dan menambah jumlah percabangan saraf.

Mekanisme inilah yang diperkirakan dapat membuat fungsi otot kembali normal setelah lumpuh akibat polio. Seiring dengan bertambahnya usia, mekanisme kompensasi ini diprediksi tidak mampu meneruskan fungsinya lagi sehingga terjadi gejala kerusakan saraf puluhan tahun setelah infeksi awal.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/poliomyelitis
Diakses pada Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/poliomyelitis#symptoms
Diakses pada Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-polio-syndrome/symptoms-causes/syc-20355669.
Diakses pada Mei 2019

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=8611
Diakses pada Mei 2019

Bruno, Richard L. Paralytic vs “nonparalytic” polio: distinction without a difference. American Journal of Physical Medicine&Rehabilitation. 2000; 79(1): 4-12. https://journals.lww.com/ajpmr/Abstract/2000/01000/Paralytic_vs___Nonparalytic__Polio__Distinction.3.aspx
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed