Gejala Ligyrophobia Takut Suara Berisik yang Dialami Anak-anak


Ligyrophobia adalah fobia terhadap suara berisik atau suara keras. Kondisi ini paling umum dialami anak-anak, namun tak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa.

0,0
16 May 2021|Azelia Trifiana
Suara keras dapat membuat pemilik ligyrophobia ketakutanSuara keras dapat membuat pemilik ligyrophobia ketakutan
Ligyrophobia adalah fobia terhadap suara berisik atau suara keras. Kondisi ini paling umum dialami anak-anak, namun tak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa. Beberapa anak takut pada suara bising mendadak, sementara lainnya ada pula yang merasa ngeri mendengar bunyi keras terus menerus.Konsekuensi dari ketakutan ini adalah merasa sangat tidak nyaman ketika berinteraksi sosial. Contohnya ketika berada di keramaian seperti pesta, konser, atau acara lain seperti menonton marching band.

Ligyrophobia pada anak kecil

Sangatlah normal ketika anak-anak merasa takut pada hal tertentu. Ini bagian dari proses mereka tumbuh besar. Sumber ketakutan pun beragam, termasuk suara keras. Namun pada sebagian besar anak, rasa takut ini bisa teratasi dengan mudah.Namun ketika rasa takut ini terus menerus ada hingga lebih dari 6 bulan, bisa jadi mengalami ligyrophobia atau phonophobia. Phonophobia termasuk jenis fobia spesifik. Artinya, ada ketakutan ekstrem dan tidak rasional terhadap objek atau situasi yang sebenarnya tidak mengancam.Namun, ligyrophobia ini berbeda dari reaksi tidak nyaman lain terhadap suara, yaitu:
  • Misophonia

Kondisi misophonia yaitu gangguan fisiologis yang menyebabkan anak sensitif terhadap suara berisik. Reaksi yang muncul cenderung intens dan emosional seperti benci atau panik pada suara tertentu. Bahkan, terkadang sensitivitas ini juga terjadi pada suara yang tidak terlalu kencang.Lebih jauh lagi, kondisi ini bisa terjadi sendiri, bisa juga berkaitan dengan spektrum autisme dan penyakit Meniere.
  • Hyperacusis

Bukan merupakan fobia, ini adalah gangguan pendengaran sehingga seseorang merasa mendengar suara lebih kencang dari aslinya. Ada banyak pemicu terjadinya hyperacusis mulai dari cedera otak, penyakit Lyme, dan post-traumatic stress disorder (PTSD).Mengingat anak kecil belum punya kemampuan sebaik orang dewasa dalam menghadapi phobia, sebaiknya cari penanganan profesional. Untuk mengetahui akar masalahnya, perlu konsultasi dengan dokter spesialis.

Gejala ligyrophobia

Gejala saat anak merasakan ligyrophobia dapat membuat mereka sulit menikmati aktivitas sehari-hari. Reaksi ini bisa terjadi sebelum, saat, dan sesudah munculnya suara berisik. Beberapa contohnya adalah:
  • Cemas berlebih
  • Takut
  • Keringat berlebih
  • Napas tersengal-sengal
  • Detak jantung lebih cepat
  • Nyeri dada
  • Pusing
  • Mual
  • Pingsan
Pada anak-anak, mereka juga bisa merasa sangat terganggu dengan suara bising dan menutup kedua telinga. Sebisa mungkin, anak juga akan berusaha menjauhi sumber suara.

Penyebab ligyrophobia

Fobia terhadap suara berisik bisa terjadi pada siapapun, bukan hanya anak-anak. Sama seperti jenis fobia spesifik lain seperti takut badut dan takut rumah angker, penyebab pastinya masih menjadi tanda tanya.Faktor genetik bisa turut berperan. Artinya, anak dengan latar belakang keluarga mengalami gangguan kecemasan bisa lebih rentan mengalaminya.Di sisi lain, faktor eksternal juga mungkin turut berperan, seperti:
  • Trauma masa kecil
  • Kejadian traumatis terkait dengan suara
Terkadang, mendengar orang berteriak di sebuah pesta ulang tahun terdengar seperti hal biasa. Namun bisa saja anak menganggapnya sebagai hal ekstrem yang memicu trauma hingga lama.

Penanganan ligyrophobia

Fobia sederhana terhadap suara berisik relatif mudah tertangani. Namun ketika masalah ini terus terjadi berulang, harus ada penanganan secara simultan. Terkadang, dokter akan memberikan penanganan sambil bekerja sama dengan pakar kesehatan mental.Dokter akan menegakkan diagnosis dengan menanyakan gejala dan pemicunya. Selain itu, riwayat medis, sosial, dan juga psikologis juga akan menjadi bahan diskusi.Lebih jauh lagi, jenis penanganannya pun berbeda bergantung pada seberapa parah kondisinya. Tak hanya itu, level interaksi sosial yang bisa ditoleransi juga menjadi pertimbangan tersendiri.Beberapa jenis penanganan yang bisa diberikan adalah:
  • Terapi paparan atau desensitisasi sistematis yaitu mengatasi fobia dengan mendekatkan pada lingkungan dengan pemicu ketakutan
  • Terapi perilaku kognitif untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif
  • Terapi bicara mengenai pemicu, ketakutan, dan asal mula kecemasan
  • Relaksasi otot
  • Bergabung dalam support group
  • Hipnoterapi
  • Meditasi
  • Melatih positive self-talk
Selama proses terapi berlangsung, orangtua juga bisa membantu mengupayakan agar tidak ada pemicu suara bising di lingkungan tempat anak berada, utamanya di rumah.Selain itu, bisa juga dengan mengomunikasikan kepada orang lain tentang fobia yang dimiliki. Sebagai contoh kepada penghuni rumah lain atau kepada guru di sekolah. Dengan demikian, lingkungan bisa menjadi lebih kondusif.

Catatan dari SehatQ

Selama proses terapi, tentu perlu waktu hingga anak bisa mengatasi ketakutannya. Namun, konsistensi dan support system yang baik akan membuat fobia ini lebih mudah teratasi.Sebagai contoh, terapi paparan dan perilaku kognitif akan mengurangi reaksi fobia setelah penanganan selama 2-5 bulan.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar gejala fobia anak terhadap suara bising, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalfobiapola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/fear-of-loud-noises-2671882
Diakses pada 1 Mei 2021
APA. https://doi.apa.org/doiLanding?doi=10.1037%2Fa0033754
Diakses pada 1 Mei 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/fear-of-loud-noises
Diakses pada 1 Mei 2021
Fear Of. https://www.fearof.net/fear-of-loud-noises-phobia-ligyrophobia-or-phonophobia/
Diakses pada 1 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait