Gejala Klamidia Berbeda pada Pria dan Wanita, Ini Penjelasannya

(0)
16 May 2019|Giovanni Jessica
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Gejala klamidia pada priaGejala klamidia sering kali tidak disadari karena kemunculannya yang lama
Klamidia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling sering terjadi. Penyakit ini terjadi akibat infeksi dari bakteri Chlamydia trachomatis. Sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala klamidia sehingga penyebaran terjadi tanpa diketahui. Klamidia dapat terjadi pada pria maupun wanita pada segala usia.

Penyebab klamidia

Seseorang dapat terinfeksi klamidia lewat hubungan seksual, baik per pervaginam, oral, maupun anal.  Risiko untuk mengalami infeksi klamidia akan meningkat jika berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.Selain itu, berganti-ganti pasangan seksual dan memiliki pasangan lebih dari satu juga meningkatkan kemungkinan terinfeksi klamidia. Kejadian klamidia juga meningkat jika hubungan seksual dilakukan setelah mengonsumsi alkohol atau obat-obatan.Pada sebagian kasus, klamidia juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Penularan terjadi ketika proses persalinan, di mana bayi terkena cairan klamidia dari alat kelamin ibu yang terinfeksi. Pada bayi, infeksi klamidia dapat terjadi pada mata dan paru-paru.

Gejala-gejala klamidia yang dapat timbul pada pria dan wanita

Klamidia merupakan penyakit yang 'tenang'. Sebanyak tiga perempat wanita dan separuh pria yang terinfeksi tidak memiliki gejala klamidia. Hal inilah yang membuat penularannya tidak disadari.Apabila seseorang terinfeksi, gejala klamidia tidak muncul setelah berhubungan seksual. Gejala baru akan dirasakan beberapa minggu kemudian, biasanya 1-3 minggu setelah berhubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.Pria dan wanita memiliki gejala klamidia yang berbeda. Pria yang terinfeksi klamidia akan memiliki gejala berupa:
  • Keluar cairan abnormal dari penis. Cairan ini bisa berupa mukopurulen atau purulen (seperti nanah atau putih susu).
  • Sensasi terbakar dan nyeri saat buang air kecil
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil dan urgensi
  • Rasa gatal atau terbakar pada ujung penis. Ujung penis juga dapat mengalami bengkak dan kemerahan.
  • Nyeri dan pembengkakan pada testis. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu testis maupun keduanya.
  • Nyeri pada perut bawah atau panggul.
Sedangkan, gejala klamidia pada wanita berupa:
  • Keputihan yang sangat bau
  • Rasa terbakar ketika buang air kecil
  • Sakit saat sedang berhubungan seksual
  • Mengalami perdarahan di vagina sesudah berhubungan seksual
  • Jika infeksi sudah menyebar, penderita akan merasa mual, demam, atau merasa sakit pada perut bagian bawah.
Klamidia dapat terjadi bersamaan dengan infeksi gonorea. Gejala klamidia bahkan dapat menyerupai gejala gonorea. Akan tetapi, gejala klamidia akan tetap ditemukan setelah selesai pengobatan dari gonorea.Jika infeksi mengalami penyebaran hingga ke rektum, gejala klamidia bisa berupa nyeri pada rektum, sekret dan atau darah dari rektum. Pada kasus berat dan klamidia yang tidak diobati, dapat menyebabkan infeksi pada testis dan infertilitas.[[artikel-terkait]]

Pencegahan klamidia

Menghentikan sementara kegiatan berhubungan seksual merupakan cara utama mencegah terjadinya infeksi klamidia. Jika Anda aktif berhubungan seksual, jangan lupa untuk selalu menggunakan kondom.Kondom dapat menurunkan risiko terkena infeksi klamidia, tetapi tidak menjamin Anda tidak akan terinfeksi.Berhubungan seksual hanya dengan satu pasangan secara signifikan akan mengurangi risiko Anda mengalami infeksi. Selain itu, rutinlah untuk melakukan skrining terhadap klamidia dan infeksi menular seksual lainnya.

Kapan harus ke dokter?

Seseorang yang suka bergonta-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom, harus menjalani skrining penyakit klamidia. Pemeriksaan ini perlu dilakukan setiap tahun untuk mendeteksi adanya klamidia atau penyakit menular seksual lainnya.Bila terkena klamidia, baik penderita maupun pasangannya harus segera mendapatkan pengobatan agar tidak menularkan kepada orang lain.Ibu hamil juga perlu menjalani pemeriksaan ini untuk mencegah penularan ke bayi. Pemeriksaan dilakukan saat ibu hamil melakukan USG kehamilan pertama dan ketika kehamilan sudah memasuki trimester ketiga.Bila hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang positif menderita klamidia, ibu hamil perlu diobati dan kontrol ke dokter kandungan dalam waktu 3 minggu serta 3 bulan setelah pengobatan dilakukan.Tiga bulan sejak pengobatan pertama, semua penderita klamidia perlu menjalani tes ulang. Hal ini penting dilakukan karena penderita klamidia lebih berisiko untuk terinfeksi kembali.
penyakit menular seksualklamidia
ACOG. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Chlamydia-Gonorrhea-and-Syphilis?IsMobileSet=false
Diakses pada Mei 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8181.php
Diakses pada Mei 2019
Lee Y-S, Lee K-S. Chlamydia and Male Lower Urinary Tract Diseases. Korean J Urol. 2013 Feb;54(2):73–7.MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/000659.htm
Diakses pada Mei 2019
Malhotra M, Sood S, Mukherjee A, Muralidhar S, Bala M. Genital Chlamydia trachomatis: An update. Indian J Med Res. 2013 Sep;138(3):303–16.American Sexual Health Association. https://www.ashasexualhealth.org/chlamydia-101
Diakses pada 11 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait