Gejala klamidia adalah berupa cairan nanah pada penis, nyeri, dan sensasi terbakar saat buang air kecil
Gejala klamidia sering kali tidak disadari karena kemunculannya yang lama

Klamidia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang paling sering terjadi. Penyakit ini terjadi akibat infeksi dari bakteri Chlamydia trachomatis. Sebagian besar penderitanya tidak menunjukkan gejala klamidia sehingga penyebaran terjadi tanpa diketahui. Klamidia dapat terjadi pada pria maupun wanita pada segala usia.

Seseorang dapat terinfeksi klamidia lewat hubungan seksual, baik per pervaginam, oral, maupun anal.  Risiko untuk mengalami infeksi klamidia akan meningkat jika berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom.

Selain itu, berganti-ganti pasangan seksual dan memiliki pasangan lebih dari satu juga meningkatkan kemungkinan terinfeksi klamidia. Kejadian klamidia juga meningkat jika hubungan seksual dilakukan setelah mengonsumsi alkohol atau obat-obatan.

Pada sebagian kasus, klamidia juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Penularan terjadi ketika proses persalinan, di mana bayi terkena cairan klamidia dari alat kelamin ibu yang terinfeksi. Pada bayi, infeksi klamidia dapat terjadi pada mata dan paru-paru.

Gejala-gejala Klamidia yang Dapat Timbul pada Pria dan Wanita

Klamidia merupakan penyakit yang 'tenang'. Sebanyak tiga perempat wanita dan separuh pria yang terinfeksi tidak memiliki gejala klamidia. Hal inilah yang membuat penularannya tidak disadari.

Apabila seseorang terinfeksi, gejala klamidia tidak muncul setelah berhubungan seksual. Gejala baru akan dirasakan beberapa minggu kemudian, biasanya 1-3 minggu setelah berhubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.

Pria dan wanita memiliki gejala klamidia yang berbeda. Pria yang terinfeksi klamidia akan memiliki gejala berupa:

  • Keluar cairan abnormal dari penis. Cairan ini bisa berupa mukopurulen atau purulen (seperti nanah atau putih susu).
  • Sensasi terbakar dan nyeri saat buang air kecil
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil dan urgensi
  • Rasa gatal atau terbakar pada ujung penis. Ujung penis juga dapat mengalami bengkak dan kemerahan.
  • Nyeri dan pembengkakan pada testis. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu testis maupun keduanya.
  • Nyeri pada perut bawah atau panggul.

Wanita dengan klamidia juga mengalami gangguan buang air kecil seperti pada pria. Selain itu, gejala klamidia berupa nyeri bisa terjadi saat berhubungan seksual dan dapat disertai keluarnya sekret atau darah setelah berhubungan.

Klamidia dapat terjadi bersamaan dengan infeksi gonorea. Gejala klamidia bahkan dapat menyerupai gejala gonorea. Akan tetapi, gejala klamidia akan tetap ditemukan setelah selesai pengobatan dari gonorea.

Jika infeksi mengalami penyebaran hingga ke rektum, gejala klamidia bisa berupa nyeri pada rektum, sekret dan atau darah dari rektum. Pada kasus berat dan klamidia yang tidak diobati, dapat menyebabkan infeksi pada testis dan infertilitas.

[[artikel-terkait]]

Pencegahan Klamidia

Menghentikan sementara kegiatan berhubungan seksual merupakan cara utama mencegah terjadinya infeksi klamidia. Jika Anda aktif berhubungan seksual, jangan lupa untuk selalu menggunakan kondom. Kondom dapat menurunkan risiko terkena infeksi klamidia, tetapi tidak menjamin Anda tidak akan terinfeksi.

Berhubungan seksual hanya dengan satu pasangan secara signifikan akan mengurangi risiko Anda mengalami infeksi. Selain itu, rutinlah untuk melakukan skrining terhadap klamidia dan infeksi menular seksual lainnya.

ACOG. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Chlamydia-Gonorrhea-and-Syphilis?IsMobileSet=false
Diakses pada Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/8181.php
Diakses pada Mei 2019

Lee Y-S, Lee K-S. Chlamydia and Male Lower Urinary Tract Diseases. Korean J Urol. 2013 Feb;54(2):73–7.

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/000659.htm
Diakses pada Mei 2019

Malhotra M, Sood S, Mukherjee A, Muralidhar S, Bala M. Genital Chlamydia trachomatis: An update. Indian J Med Res. 2013 Sep;138(3):303–16.

Artikel Terkait

Banner Telemed