Berbagai Gejala Keracunan Makanan yang Harus Anda Waspadai

Keracunan makanan bukan hanya saat Anda jajan sembarangan, namun juga ketika Anda mengonsumsi makanan rumah
Keracunan makanan bisa menyebabkan sakit perut dan diare

Anda mungkin sering mendengar adanya kasus keracunan makanan di berbagai daerah di Indonesia. Mengapa keracunan makanan bisa terjadi dan apa saja gejalanya?

Keracunan makanan tidak lain merupakan penyakit yang muncul ketika Anda mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau racun yang mereka bawa.

Organisme atau racun ini bisa merusak makanan dalam proses pengolahannya, ataupun saat makanan disimpan atau dihidangkan, misalnya dibiarkan terbuka begitu saja pada makanan yang berupa jajanan.

Kasus keracunan makanan bukan hanya bisa terjadi ketika Anda jajan sembarangan. Makanan yang dimasak di rumah pun dapat mengakibatkan hal yang sama jika tidak dimasak atau disimpan dengan cara yang benar.

Mengapa Anda bisa keracunan makanan?

Anda dapat mengalami keracunan makanan jika bahan yang Anda makan sudah terlebih dahulu terkotaminasi oleh kuman.

Risiko ini makin tinggi jika makanan tersebut tidak dimasak atau dihangatkan dengan benar, tidak disimpan dengan benar (misalnya tidak dibekukan atau didinginkan), diabaikan dalam waktu lama, diolah oleh orang yang sedang sakit atau tidak cuci tangan, ataupun sudah kadaluarsa.

Penyebab keracunan makanan sendiri bervariasi, namun biasanya dikelompokkan menjadi tiga penyebab utama, yaitu:

  • Bakteri: ini adalah penyebab keracunan makanan yang paling sering ditemui, terutama bakteri E. coli, Listeria, dan Salmonella. Selain itu, bakteri Campylobacter dan C. botulinum (botulisme) juga beberapa kali menjadi penyebabnya.

  • Parasit: jika Anda mengonsumsi makanan yang mengandung parasit, salah satu penyakit keracunan makanan yang akan timbul adalah toksoplasmosis. Parasit ini sebetulnya biasa hidup di kotoran kucing, tapi bisa berpindah ke manusia jika Anda tidak menerapkan pola hidup bersih.

    Parasit dapat hidup di tubuh manusia tanpa menimbulkan gejala apa pun selama bertahun-tahun. Namun, ketika sistem imun Anda tengah lemah atau Anda sedang hamil, parasit ini dapat memengaruhi kesehatan Anda.

  • Virus: virus yang bisa menyebar lewat makanan, yakni norovirus, sapovirus, rotavirus, maupun astrovirus dan hepatitis A.

Beda organisme yang menyerang Anda, maka beda pula waktu yang diperlukan untuk membuat Anda merasakan gejala keracunan makanan.

Bakteri Listeria (biasanya terdapat pada bahan makanan mentah atau susu dan keju yang tidak dipasteurisasi), misalnya, hanya membutuhkan 9-48 jam untuk menyebar di tubuh dan membuat Anda mengalami gejala keracunan.

Sementara virus Hepatitis A (mungkin terdapat pada bahan makanan dari laut yang tercemar) membutuhkan 28 hari sebelum Anda merasakan gejala keracunan itu.

Apa saja gejala keracunan makanan?

Gejala keracunan makanan sangat bervariasi tergantung penyebabnya. Namun, orang yang makan makanan terkontaminasi biasanya mengalami setidaknya tiga dari tanda-tanda berikut:

  • Kram perut
  • Diare
  • Mual
  • Muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Lemah
  • Demam ringan
  • Sakit kepala.

Gejala keracunan makanan ini dapat muncul sesaat setelah Anda mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Namun dalam beberapa kasus, gejala ini baru muncul hingga berminggu-minggu kemudian.

Penanganan keracunan makanan

Keracunan makanan memang menimbulkan rasa tidak nyaman pada penderitanya. Namun, gejala itu biasanya akan hilang sendiri dalam 3-5 hari lewat perawatan yang tepat di rumah, seperti:

  • Cukupi kebutuhan cairan, konsumsi air putih untuk menggantikan cairan yang hilang dan mencegah dehidrasi berat.
  • Hindari makanan yang berpotensi mengiritasi lambung, seperti kafein, makanan pedas, makanan berlemak.
  • Konsumsi makanan bertekstur lembut, seperti bubur atau nasi tim.
  • Istirahat cukup.

Meski demikian, Anda sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter atau pusat kesehatan terdekat jika mengalami gejala keracunan makanan yang tergolong gawat darurat, seperti:

  • Demam dengan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat celcius.
  • Diare yang tidak kunjung mereda dalam 3 hari.
  • Sulit bicara,
  • Pandangan menjadi kabur.
  • Mengalami gejala dehidrasi, misalnya mulut kering, lemas, dan buang air kecil sedikit.
  • Ada bercak darah pada urine.

Jika keracunan makanan terjadi pada anak-anak atau orang lanjut usia, jangan tunda untuk membawa mereka ke dokter atau pusat kesehatan terdekat karena mereka lebih rentan terkena dehidrasi. Beberapa jenis pengobatan yang mungkin diambil oleh dokter jika Anda mengalami keracunan makanan, antara lain:

  • Menggantikan cairan yang hilang: biasanya berupa cairan elektrolit (air yang mengandung sodium, potasium, dan kalsium). Cairan ini diberikan melalui oral atau intravena (infus), terutama jika Anda mengalami muntah dan diare yang hebat demi mencegah dehidrasi.

  • Obat antimual dan muntah: dokter dapat meresepkan chlorpromazine atau metoclopramide.

  • Memberi antibiotik: pengobatan ini dilakukan jika penyebab keracunan Anda adalah infeksi bakteri dan gejala keracunan makanan yang Anda alami sangat parah. Antibiotik juga dapat diberikan kepada ibu hamil yang mengalami keracunan makanan, agar penyakit tersebut tidak memengaruhi kesehatan janin.

Bagi orang dewasa yang mengalami keracunan makanan ringan (tanpa demam dan urine berdarah), mereka dapat mengonsumsi obat jenis loperamide (Imodium A-D) atau bismuth subsalisilat (Pepto-Bismol).

Akan tetapi, penggunaan obat ini sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan dokter karena pengobatan yang tidak tepat mungkin memperparah gejala keracunan Anda.

Untuk mencegah keracunan makanan, sebaiknya lakukan langkah-langkah pencegahan, seperti selalu membersihkan bahan makanan sebelum dimasak; membersihkan alat masak, seperti pisau, sendok, talenan dengan benar; memisahkan makanan matang dan mentah; dan memasak makanan hingga matang.

Selain itu, jika Anda gemar mengonsumsi makanan-makanan kaleng, sebaiknya selalu perhatikan tanggal kadaluarsanya.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-poisoning/symptoms-causes/syc-20356230
Diakses pada 9 November 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/food-poisoning/
Diakses pada 9 November 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/food-poisoning
Diakses pada 9 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed