Gejala HIV pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

Gejala HIV pada anak dapat ditangani lebih baik, jika diagnosisnya sedini mungkin.
Gejala HIV pada anak bisa "menyamar" seperti gejala penyakit lain. Kenali perbedaannya!

Tidak ada orangtua yang mau anaknya jatuh sakit, apalagi sampai terserang virus HIV (human immunodeficiency virus). Masalahnya, virus ini bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Maka dari itu orangtua wajib tahu gejala HIV pada anak, supaya pengobatannya dapat dilakukan sedini mungkin.

Gejala HIV pada anak yang sering terabaikan

Tubuh anak dengan HIV lebih mudah terserang infeksi atau penyakit. Tentu saja, penanganan yang tepat dapat mencegah infeksiHIV berkembang menjadi AIDS. Maka dari itu, orangtua wajib tahu gejala HIV pada anak sebelum virus itu semakin buas.

Berikut ini adalah beberapa gejala HIV pada anak yang harus diperhatikan orangtua:

  • Tidak berenergi atau lemah
  • Gangguan tumbuh kembang
  • Demam terus-menerus, dibarengi dengan keringat
  • Sering diare
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Infeksi berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh, walau sudah diobati
  • Penurunan berat badan
  • Berat badan tidak kunjung naik

Selain beberapa gejala di atas, masih ada gejala HIV pada anak lainnya yang harus diperhatikan, seperti gagal tumbuh untuk melakukan hal-hal yang biasanya dapat dilakukan anak sebayanya. Kemudian, kejang atau susah berjalan akibat masalah saraf dan otak juga bisa menjadi gejala HIV pada anak.

Gejala HIV pada anak tentu berbeda dari gejala HIV pada remaja. Beberapa gejala HIV pada remaja ini juga harus diperhatikan:

  • Ruam kulit
  • Sariawan
  • Sering terserang infeksi jamur vagina
  • Pembesaran hati atau limpa
  • Infeksi paru-paru
  • Masalah ginjal
  • Masalah memori dan konsentrasi
  • Munculnya tumor jinak ataupun ganas

Orangtua wajib waspada, HIV pada anak yang tidak ditangani serius, cenderung menimbulkan cacar air, herpes, hepatitis, penyakit radang panggul, pneumonia, hingga meningitis.

Bagaimana cara penularan infeksi HIV pada anaK?

Kebanyakan anak yang mengidap HIV biasanya ditularkan dari ibunya. Penularan HIV pada anak masuk ke dalam golongan penularan vertikal. Penularan HIV pada anak dapat terjadi :

  • Selama kehamilan (menular dari ibu ke bayi melalui plasenta)
  • Selama persalinan (melalui transfer darah atau cairan lain)
  • Saat sedang menyusui

Wanita pengidap HIV sebenarnya bisa hamil dan melahirkan tanpa menularkan HIV pada anaknya. Hal ini sangat mungkin dicapai jika sang ibu terus melakukan pengobatan HIV (terapi antiretroviral) seumur hidup. Ini adalah cara terbaik untuk menghindari adanya penularan HIV dari ibu ke anak, saat melahirkan.

Menurut badan kesehatan World Health Organization (WHO), angka penularan HIV dari ibu ke anak sudah berada di bawah 5%. Namun tanpa adanya pengobatan apapun, kemungkinan tertularnya HIV dari ibu ke anak semasa kehamilan, mencapai 15-45%.

Bagaimana mendiagnosis HIV pada anak?

Bayi menangis
Lakukanlah diagnosis dengan dokter, sedini mungkin.

HIV dapat didiagnosis melalui tes darah. Namun biasanya, tes darah untuk mendiagnosis HIV dilakukan lebih dari satu kali.

Diagnosis HIV dapat dipastikan jika darah dari sang anak mengandung antibodi HIV. Namun di awal penularannya, kadar antibodi HIV di dalam darah mungkin belum cukup tinggi untuk dideteksi. Itulah sebabnya, tes HIV harus dilakukan lebih dari satu kali, untuk memastikan hasil tesnya.

Jika hasilnya negatif tapi anak diduga mengidap HIV, biasanya tes dapat dilakukan lagi dengan jarak 3 bulan dan 6 bulan.

Bagaimana cara menanganani anak yang mengidap HIV?

Anak sakit
Jangan khawatir, gejala HIV bisa ditangani, kok!

Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV. Namun, HIV sangat mungkin ditangani secara efektif, supaya gejalanya tidak semakin parah.

Pengobatan HIV pada anak sama seperti orang dewasa, yakni dengan terapi antiretroviral. Jenis pengobatan ini membantu pasien supaya virus HIV tidak semakin berkembang di dalam tubuh.

Perawatan anak dengan HIV tentu memerlukan beberapa pertimbangan khusus. Faktor usia dan pertumbuhannya harus diperhatikan, supaya pengobatan antiretroviral berjalan baik.

Penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu membuktikan, terapi antiretroviral yang dilakukan semenjak bayi pengidap HIV lahir, bisa memperpanjang masa hidup bayi, mengurangi risiko penyakit serius, dan mencegah berkembangnya HIV menjadi AIDS.

Tanpa pengobatan antiretroviral, kebanyakan bayi dengan HIV tidak bisa berrtahan hidup sampai usia 1 tahun. Maka dari itu, pengobatan sedini mungkin wajib dilakukan.

Harapan hidup anak-anak dengan HIV

Hidup dengan HIV bisa menjadi tantangan bagi anak-anak. Namun dengan dukungan orangtua, keluarga, atau sahabat, tentu saja anak dengan HIV bisa melewati segala rintangan yang “menyapa”.

Anak-anak dengan HIV juga bisa bersekolah seperti teman sebayanya. Hanya saja, pihak sekolah harus benar-benar memberikan pendidikan tentang HIV/AIDS terhadap murid, guru, hingga orangtua murid. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan stigma buruk tentang HIV/AIDS di lingkungan sekolah.

Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-in-children
Diakses pada 27 Februari 2020

Web MD. https://www.webmd.com/hiv-aids/guide/hiv-in-children#1
Diakses pada 27 Februari 2020

Artikel Terkait