logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Gejala Difteri pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orangtua

open-summary

Gejala difteri pada anak, di antaranya penglihatan ganda, bicara yang tidak jelas, suara serak, hidung berair, hingga pembengkakan langit-langit mulut. Cara mengobatinya pun beragam, mulai dari menggunakan obat antitoksin hingga antibiotik.


close-summary

3.67

(3)

31 Des 2021

| Asni Harismi

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Difteri pada anak punya kesamaan gejala dengan radang tenggorokan

Difteri pada anak memiliki gejala yang mirip dengan radang tenggorokan

Table of Content

  • Apa itu difteri?
  • Gejala difteri pada anak
  • Cara penularan difteri yang penting untuk dipahami
  • Faktor risiko difteri yang penting diketahui
  • Cara mengobati difteri pada anak
  • Cara mencegah difteri pada anak

Pernahkah Anda melihat keberadaan selaput berwarna keabu-abuan di bagian tenggorokan dan amandel ketika si kecil membuka mulutnya? Hati-hati, bisa jadi itu difteri. Penyakit ini tak boleh diremehkan karena akibatnya bisa fatal. Maka dari itu, kenalilah gejala difteri pada anak beserta penyebab dan cara mengobatinya.

Advertisement

Apa itu difteri?

Difteri adalah penyakit infeksi bakteri serius yang menyebabkan gangguan pada selaput lendir di tenggorokan dan hidung. Penderitanya tidak hanya orang dewasa, difteri pada anak juga sering terjadi, terutama pada mereka yang masih berusia di bawah 5 tahun.

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf, ginjal, dan jantung.  

Gejala difteri pada anak

Pada fase awal munculnya penyakit difteri pada anak, orangtua mungkin dapat keliru dan menganggapnya sebagai radang tenggorokan biasa. Pasalnya, di masa-masa awal difteri, tanda penyakit difteri pada anak dapat berupa demam dan leher bengkak.

Hal utama yang membedakan difteri dari radang tenggorokan adalah difteri menyebabkan munculnya selaput berwarna putih keabu-abuan pada hidung atau tenggorokan. Selaput ini bisa membuat anak penderita difteri sulit menelan dan bernapas.

Selain dua kesulitan tersebut, gejala penyakit difteri pada bayi dan anak dapat berupa:

  • Penglihatan ganda
  • Bicara yang tidak jelas
  • Suara serak
  • Bunyi melengking ketika anak bernapas
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Hidung berair
  • Pembengkakan langit-langit mulut
  • Selaput putih di tenggorokan yang mudah berdarah
  • Muncul tanda-tanda syok, seperti kulit terlihat pucat dan teraba dingin, jantung berdetak lebih cepat, muncul keringat dingin, dan gelisah.

Orangtua juga perlu waspada karena demam difteri biasanya mencapai 38 derajat Celcius atau lebih.

Berbagai tanda dan gejala difteri pada anak di atas tidak boleh diremehkan karena bisa membuat anak merasa sangat tidak nyaman.

Dalam kondisi yang lebih parah, racun difteri dapat menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh lewat aliran darah. Racun ini dapat merusak sistem kerja dari organ-organ vital, seperti jantung, ginjal, hingga sistem saraf yang ditandai dengan kelumpuhan.

Jika tidak ditangani secara intensif, difteri pada anak dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, jika Anda mencurigai anak terkena gejala difteri, segera periksakan dirinya ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepat mungkin, serta menghindarkan anggota keluarga lain terkena penyakit yang sama.

Jika difteri pada anak terbukti positif tapi tidak memiliki gejala di atas, ia juga berpeluang menularkan penyakit ke orang lain selama 4 minggu ke depan. Ketika anak tertular bakteri difteri, ia memiliki waktu 2-4 hari sebelum merasakan gejala-gejalanya.

Cara penularan difteri yang penting untuk dipahami

Setelah memahami ciri-ciri penyakit difteri pada anak, Anda juga perlu tahu bagaimana penyakit ini ditularkan.

Bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyebabkan difteri, dapat masuk ke dalam tubuh anak lewat hidung dan mulut. Tidak hanya itu, bakteri tersebut juga bisa masuk lewat luka terbuka yang ada di kulit.

Saat seseorang yang terinfeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae batuk, bersin, atau tertawa, cipratan liur (droplet) yang keluar dari hidung dan mulutnya bisa terhirup oleh orang lain.

Maka dari itu, sebaiknya hindari anak dari orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala penyakit ini agar ia tidak tertular.

Komplikasi difteri pada anak

Ketika difteri tak segera ditangani, racunnya bisa menyebar hingga ke aliran darah. Kondisi ini dapat berakibat fatal dan merusak berbagai organ tubuh.

Ditambah lagi, gejala difteri pada bayi atau anak juga bisa membuat penderitanya merasa tak nyaman.

Sementara itu, beberapa komplikasi serius dari difteri adalah:

  • Merusak jantung dan mengganggu fungsinya dalam memompa darah.
  • Menyulitkan ginjal untuk mengeluarkan limbah dari dalam tubuh.
  • Merusak saraf dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan.

Dikutip dari Kids Health, 50 persen penderita difteri yang tak segera ditangani dapat meninggal dunia. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk tidak meremehkan penyakit ini.

Faktor risiko difteri yang penting diketahui

Terdapat beberapa faktor yang dapat membuat risiko difteri meningkat pada anak, di antaranya:

  • Tidak melakukan vaksinasi secara berkala
  • Mengunjungi negara yang tidak memberikan imunisasi pada masyarakatnya
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, misalnya AIDS
  • Tinggal di lingkunngan yang tidak sehat, kotor, dan ramai.

Cara mengobati difteri pada anak

Menangani pasien difteri, apalagi difteri pada anak, tidak bisa sembarangan karena penyakit ini sangat mudah menulari orang dewasa sekalipun.

Jika dokter menduga anak Anda terkena difteri, ia akan mengambil sampel membran berwarna abu-abu yang ada di mulut atau tenggorokan anak.

Sampel tersebut langsung dikirim ke laboratorium dengan terlebih dahulu memperingatkan petugas lab bahwa itu adalah sampel penderita penyakit difteri.

Meski demikian, dokter akan langsung merawat anak yang menderita difteri dengan berbagai langkah pengobatan sebagai berikut:

  • Antitoksin

Antitoksin yang disuntikkan lewat pembuluh vena atau otot yang bertujuan menetralisir racun difteri yang telah beredar ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah.

Tidak jarang, dokter akan melakukan uji alergi terlebih dahulu untuk memastikan anak Anda tidak alergi terhadap pengobatan ini. Antitoksin yang diberikan adalah Anti Difteri Serum (ADS).

Jika anak memiliki alergi obat ini, ia harus dibuat agar tidak terlalu sensitif terlebih dahulu. Setelah itu, dokter akan memberi antitoksin dengan dosis sangat rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap.

  • Antibiotik

Antibiotik, seperti penisilin atau prokain, digunakan sebagai obat difteri untuk membunuh bakteri di dalam tubuh.

Antibiotik hanya diberikan untuk mengatasi difteri pada anak selama ia masih dalam masa penularan bakteri ini. Antibiotik akan diberikan selama tujuh hari berturut-turut.

  • Oksigen

Pemberian oksigen hanya ketika terjadi sumbatan jalan napas (obstruksi). Selain itu, jika dokter melihat adanya tarikan dinding dada saat bernapas dan anak tampak gelisah, dokter mungkin akan melakukan trakeostomi, yaitu membuat lubang di tenggorokan agar udara bisa masuk ke paru-paru.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pembersihkan lapisan membran di tenggorokan jika membran sampai menyebabkan anak kesulitan bernapas.

Baca Juga

Cara mencegah difteri pada anak

Penyakit difteri pada anak memang mengerikan, apalagi bisa sampai menyebabkan kematian. Penanganannya pun tidak bisa sembarangan, tapi wabah ini sebetulnya sangat mudah dicegah jika anak mendapat imunisasi difteri secara berkala.

Di Indonesia, imunisasi difteri dilakukan menggunakan vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Ikatan Dokter Anak Indonesia mewajibkan anak disuntik vaksin DPT setidaknya tiga kali sebagai imunisasi dasar yang dapat dilakukan di Puskesmas, Posyandu, hingga rumah sakit swasta.

Kemudian, anak kembali harus melakukan imunisasi ulangan sebanyak satu kali dengan interval 1 tahun setelah DPT3 dan satu kali lagi sebelum ia masuk sekolah (pada usia 5 tahun). Bila anak telat mendapat imunisasi DPT, berapa pun usianya, tetap lakukan penyuntikkan sesuai jadwal dan interval yang berlaku.

Bila anak belum pernah mendapat imunisasi dasar saat usianya kurang dari 12 tahun, Anda juga tetap dapat melakukan imunisasi untuk anak seperti biasa. Sedangkan, jika pemberian DPT 4 dilakukan sebelum ulang tahun ke-4, pemberian ke-5 paling cepat berjarak 6 bulan setelahnya.

Sementara itu, bila vaksin DPT ke-4 diberikan setelah anak berusia di atas 4 tahun, pemberian DPT ke-5 tidak diperlukan lagi. Bila Anda memiliki pertanyaan seputar imunisasi DPT untuk mencegah difteri pada anak, hubungi tenaga kesehatan yang Anda percaya.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar difteri pada anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

penyakit anakradang tenggorokandifteri

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved