Hadapi Difteri pada Anak, Ini yang Perlu Dipahami Orangtua

Difteri pada anak punya kesamaan gejala dengan radang tenggorokan
Difteri pada anak memiliki gejala yang mirip dengan radang tenggorokan

Pada 2017 lalu, Indonesia dihebohkan dengan merebaknya difteri pada anak yang sampai memakan korban jiwa. Tak tanggung-tanggung, wabah ini menjangkiti anak-anak di 20 provinsi di Indonesia, terutama di Jawa Timur dan Jawa Barat, sehingga pemerintah saat itu menetapkan kasus ini sebagai kejadian luar biasa (KLB) difteri.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, dan memang sangat rentan menyerang anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun maupun orang lanjut usia. Penyakit ini juga bersifat sangat menular dan dapat menyebar lewat bersin, batuk, bahkan saat pasien difteri tertawa.

Difteri pada anak sempat menjadi momok pada tahun 1930-an di seluruh dunia. Namun, saat ini penyakit tersebut sudah jarang ditemui berkat gerakan masif pemberian vaksin difteri.

Gejala difteri pada anak

Pada fase awal munculnya penyakit difteri pada anak, orangtua mungkin akan keliru mendiagnosisnya sebagai radang tenggorokan biasa. Pasalnya di masa-masa awal difteri, anak akan mengalami demam ringan dengan leher terlihat bengkak.

Hal utama yang membedakan difteri dari radang tenggorokan adalah difteri menyebabkan munculnya selaput berwarna putih keabu-abuan pada hidung atau tenggorokan. Selaput ini akan membuat anak yang terkena difteri sulit menelan bahkan bernapas.

Selain dua kesulitan tersebut, difteri pada anak akan menimbulkan gejala-gejala berikut:

  • Munculnya pandangan ganda
  • Bicara yang tidak jelas
  • Selaput putih di tenggorokan yang mudah berdarah
  • Muncul tanda-tanda syok, seperti kulit terlihat pucat dan teraba dingin, jantung berdetak lebih cepat, muncul keringat dingin, dan gelisah.

Dalam kondisi yang lebih parah, racun difteri akan menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh lewat aliran darah. Racun ini dapat merusak sistem kerja dari organ-organ vital, seperti jantung, ginjal, hingga sistem saraf yang ditandai dengan kelumpuhan.

Jika tidak ditangani secara intensif, difteri pada anak dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, jika Anda mencurigai anak terkena gejala difteri, segera periksakan ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan secepat mungkin, serta menghindarkan anggota keluarga lain dari terkena penyakit yang sama.

Jika difteri pada anak terbukti positif, tapi tidak memiliki gejala di atas, mereka juga berpeluang menularkan penyakit ke orang lain selama 4 minggu ke depan. Ketika anak tertular bakteri difteri, ia memiliki waktu 2-4 hari sebelum merasakan gejala-gejalanya.

Bagaimana prosedur penanganan difteri pada anak?

Menangani pasien difteri, apalagi difteri pada anak tidak bisa sembarangan karena penyakit ini sangat mudah menulari orang dewasa sekalipun. Jika dokter menduga anak Anda terkena difteri, ia akan mengambil sampel membran berwarna abu-abu yang ada di mulut atau tenggorokan anak.

Sampel tersebut langsung dikirim ke laboratorium dengan terlebih dahulu memperingatkan petugas lab bahwa itu adalah sampel penderita penyakit difteri. Meski demikian, dokter akan langsung merawat anak yang menderita difteri dengan berbagai langkah pengobatan sebagai berikut:

  • Antitoksin

Antitoksin yang disuntikkan lewat pembuluh vena atau otot yang bertujuan menetralisir racun difteri yang telah beredar ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah. Tidak jarang, dokter akan melakukan uji alergi terlebih dahulu untuk memastikan anak Anda tidak alergi terhadap pengobatan ini. Antitoksin yang diberikan adalah Anti Difteri Serum (ADS).

Jika anak memiliki alergi obat ini, ia harus dibuat agar tidak terlalu sensitif terlebih dahulu. Setelah itu, dokter akan memberi antitoksin dengan dosis sangat rendah yang kemudian dinaikkan secara bertahap.

  • Antibiotik

Antibiotik, seperti penisilin atau prokain, digunakan untuk membunuh bakteri di dalam tubuh. Antibiotik hanya diberikan untuk mengatasi difteri pada anak selama pasien masih dalam masa penularan bakteri ini. Antibiotik akan diberikan selama tujuh hari berturut-turut.

  • Oksigen

Pemberian oksigen hanya ketika terjadi sumbatan jalan napas (obstruksi). Selain itu, jika dokter melihat adanya tarikan dinding dada saat bernapas dan anak tampak gelisah, dokter mungkin akan melakukan trakeostomi, yaitu membuat lubang di tenggorokan agar udara bisa masuk ke paru-paru.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pembersihkan lapisan membran di tenggorokan jika membran sampai menyebabkan anak kesulitan bernapas. Pasien difteri pada anak juga harus menjalani perawatan di ruang isolasi agar tidak menulari orang lain, terutama anak-anak lain yang belum diimunisasi.

Mudah mencegah difteri pada anak

Penyakit difteri pada anak memang mengerikan, apalagi bisa sampai menyebabkan kematian. Penanganannya pun tidak bisa sembarangan, tapi wabah ini sebetulnya sangat mudah dicegah jika anak mendapat imunisasi difteri secara berkala.

Di Indonesia, imunisasi difteri dilakukan menggunakan vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Ikatan Dokter Anak Indonesia mewajibkan anak disuntik vaksin DPT setidaknya tiga kali sebagai imunisasi dasar yang dapat dilakukan di Puskesmas, Posyandu, hingga rumah sakit swasta.

Kemudian, anak kembali harus melakukan imunisasi ulangan sebanyak satu kali dengan interval 1 tahun setelah DPT3 dan satu kali lagi sebelum ia masuk sekolah (pada usia 5 tahun). Bila anak telat mendapat imunisasi DPT, berapapun usianya, tetap lakukan penyuntikkan sesuai jadwal dan interval yang berlaku.

Bila anak belum pernah mendapat imunisasi dasar saat usianya kurang dari 12 tahun, Anda juga tetap dapat melakukan imunisasi untuk anak seperti biasa. Sedangkan jika pemberian DPT 4 dilakukan sebelum ulangtahun ke-4, pemberian ke-5 paling cepat berjarak 6 bulan setelahnya.

Sedangkan bila vaksin DPT ke-4 diberikan setelah anak berusia di atas 4 tahun, pemberian DPT ke-5 tidak diperlukan lagi. Bila Anda memiliki pertanyaan seputar imunisasi DPT untuk mencegah difteri pada anak, hubungi tenaga kesehatan yang Anda percaya.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/kejadian-luar-biasa-difteri-bagaimana-orang-tua-bersikap
Diakses pada 20 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-ii
Diakses pada 20 Desember 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/diphtheria.html
Diakses pada 20 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/diagnosis-treatment/drc-20351903
Diakses pada 20 Desember 2019

Artikel Terkait