Kenali Gejala Demensia pada Lansia dan Tips Mengurangi Risikonya


Gejala awal demensia pada lansia biasanya ditandai dengan gangguan pada daya ingat jangak pendek dan bingung akan arah dalam menuju suatu tempat.

0,0
demensia pada lansiaSalah satu gejala demensia pada lansia adalah gangguan daya ingat jangka pendek.
Apakah orang tua Anda sering lupa apa yang baru dilakukan? Sementara, ketika bercerita tentang kejadian beberapa tahun bahkan puluhan tahun lalu, ia masih bisa mengingatnya bahkan secara detil. Jika ya, bisa jadi orang tua Anda mengalami demensia pada lansia.Demensia bukanlah penyakit, tetapi merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini memengaruhi daya ingat, proses berpikir, dan kemampuan sosial yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.Demensia pada umumnya terjadi pada kelompok lansia. Namun, sindrom ini bukanlah proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini merupakan penyebab terbesar disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.[[artikel-terkait]]

Gejala awal demensia pada lansia

Berikut beberapa gejala demensia pada lansia yang mungkin ditemukan pada tahap awal:
  • Mengalami masalah ingatan jangka pendek
  • Kesulitan mengungkapkan kata-kata yang tepat
  • Kerap mengalami perubahan suasana hati (mood)
  • Bersikap apatis
  • Kesulitan melakukan aktivitas-aktivitas sederhana
  • Kesulitan mengenali arah
  • Melakukan aktivitas secara berulang-ulang
  • Sulit beradaptasi dengan perubahan

Gejala umum demensia pada lansia

Secara umum, gejala demensia pada lansia adalah sebagai berikut:

1. Gangguan daya ingat

demensia pada lansia
Mudah lupa adalah gejala demensia pada lansia yang paling umum
Penurunan daya ingat menjadi ciri-ciri demensia yang paling umum. Kondisi yang juga disebut sebagai pikun ini membuat lansia sulit untuk mengingat sejumlah hal seperti nama orang, tempat, atau benda.Perlu dipahami, demensia dan pikun adalah dua istilah yang berbeda alih-alih sama seperti yang selama ini banyak kita ketahui. Pikun adalah bagian dari demensia. Pikun merupakan bentuk demensia yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat. Sementara ketika berbicara tentang demensia, hal ini bersifat lebih luas karena seperti yang telah disampaikan di awal, kondisi ini merupakan sindrom atau sekumpulan gejala penurunan fungsi otak yang memengaruhi tidak hanya fungsi kognitif, tapi juga aspek lainnya seperti kemampuan berpikir dan perilaku. 

2. Kerap mengalami kebingungan

Gejala demensia pada lansia selanjutnya adalah kerap merasa kebingungan atau disebut disorientasi. Kebingungan akan semakin bertambah seiring dengan penyakit yang bertambah parah.Kebingungan pada lansia umum dialami oleh penderita penyakit Alzheimer. 

3. Mengalami kesulitan berpikir

Lansia yang mengalami demensia juga biasanya akan mengalami kesulitan dalam berpikir. Hal ini lantas membuat mereka tidak bisa melakukan sejumlah aktivitas secara mandiri, seperti menyusun rencana, mengatur keuangan, dan sebagainya. 

4. Kesulitan untuk fokus

Sulit fokus juga tak luput dari gejala demensia yang umum dialami oleh para lansia. Hilangnya fokus tentu juga akan menyulitkan mereka untuk melakukan kegiatan sehari-hari, bahkan yang sifatnya sederhana sekalipun.

5. Mengalami delusi dan halusinasi

demensia pada lansia
Demensia pada lansia salah satunya ditandai dengan delusi dan halusinasi
Lansia penderita demensia, utamanya dalam kasus Alzheimer, juga dapat mengalami gejala berupa delusi dan halusinasi. Ini terjadi apabila Alzheimer sudah masuk ke tahap yang cukup parah. Karena mengalami delusi dan halusinasi, lansia perlu didampingi dalam melakukan kegiatannya sehari-hari. Jika tidak, dikhawatirkan dapat membahayakan dirinya sendiri. 

6. Perilaku dan kepribadian berubah

Perubahan perilaku dan kepribadian juga menjadi gejala demensia pada lansia. Perubahan yang dimaksud di sini antara lain:
  • Lansia jadi mudah cemas
  • Lansia mudah curiga
  • Suasana hati yang kerap berubah-ubah
  • Agresif
Selain itu, bukan tidak mungkin akan terjadi yang namanya stres dan depresi pada lansia. Oleh sebab itu, perlu adanya dukungan dari pihak keluarga dan medis agar gejala seperti ini dapat diminimalisir.

7. Sulit memahami objek visual

Pada kasus lainnya, demensia pada lansia menyebabkan sulitnya lansia memahami objek visual, seperti sulit membaca, memahami gambar, dan objek-objek lain yang dilihatnya. [[artikel-terkait]]

Apa saja faktor penyebab demensia pada lansia?

Ada sejumlah faktor yang ditengarai menjadi penyebab demensia pada lansia, yaitu:

1. Faktor yang tidak dapat dikendalikan

Faktor penyebab demensia pada lansia yang tidak dapat dikendalikan meliputi:
  • Jenis kelamin. Perempuan ditemukan lebih sering mengalami demensia dibanding laki-laki terutama pada usia lanjut.
  • Usia. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama memasuki usia 65 tahun.
  • Riwayat keluarga. Memiliki riwayat anggota keluarga dengan demensia membuat risiko meningkat.
  • Sindrom Down. Sindrom ini berkaitan dengan penyakit Alzheimer yang mengakibatkan demensia.
  • Gangguan kognisi ringan. Gangguan daya ingat saja tanpa gangguan dalam aktivitas sehari-hari juga memicu terjadinya demensia.

2. Faktor yang dapat dikendalikan

Faktor penyebab demensia yang dapat dikendalikan antara lain:
  • Konsumsi alkohol yang berat. Konsumsi alkohol berlebihan memicu timbulnya demensia.
  • Faktor kardiovaskuler. Faktor ini termasuk darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah, dan obesitas.
  • Depresi
  • Kencing manis atau diabetes
  • Merokok
  • Mendengkur saat tidur

Jenis penyakit demensia

Lebih spesifik, gejala dan penyebab demensia pada lansia bisa dilihat dari jenis demensia yang dialami. Beberapa jenis demensia adalah sebagai berikut:

1. Penyakit alzheimer

Penyakit Alzheimer merupakan bentuk paling umum dari penyakit demensia, yakni mencakup sekitar 60-80 persen kasus dialami. Biasanya penyakit ini berkembang lambat.Rata-rata penderitanya dapat hidup hanya empat hingga delapan tahun setelah didiagnosis. Alzheimer terjadi karena adanya perubahan fisik pada otak, termasuk adanya penumpukan protein tertentu dan kerusakan saraf.

2. Penyakit demensia dengan lewy bodies

Penyakit demensia ini disebabkan karena ada gumpalan protein dalam korteks. Selain kehilangan memori dan kebingungan, penyakit demensia dengan lewy bodies juga dapat menyebabkan:
  • Gangguan tidur
  • Halusinasi
  • Ketidakseimbangan
  • Kesulitan pergerakan lainnya

3. Penyakit demensia vaskuler

Penyakit demensia ini juga dikenal sebagai demensia pasca stroke atau demensia multi-infark, yang menyumbang sekitar 10% kasus dari semua kasus demensia. Penyakit demensia vaskuler disebabkan karena pembuluh darah yang tersumbat.

4. Parkinson

Penyakit Parkinson juga dapat memicu demensia pada lansia
Penyakit Parkinson adalah sebuah kondisi neurodegeneratif yang dapat menghasilkan demensia serupa dengan Alzheimer di tahap selanjutnya. Penyakit ini sering menyebabkan masalah gerakan dan kontrol motorik, namun juga dapat menyebabkan demensia pada sebagian orang.

5. Penyakit Demensia Frontotemporal

Penyakit demensia ini merupakan demensia yang mengacu pada sekelompok demensia yang sering menyebabkan perubahan dalam kepribadian dan perilaku.

6. Penyakit Demensia Campuran

Merupakan demensia di mana berbagai jenis kelainan otak penyebab demensia hadir. Alzheimer dan vaskuler merupakan tipe penyakit demensia yang paling umum terjadi, namun dapat menyertakan bentuk demensia lainnya.[[artikel-terkait]]

Cara mengobati demensia

Pengobatan demensia ditujukan untuk meminimalisir gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini. Umumnya, dokter akan memberikan resep obat-obatan seperti:
  • Memantine
  • Inhibitor kolinesterase
Selain itu, lansia juga akan disarankan untuk menjalani sejumlah terapi seperti terapi kognitif, terapi perilaku, dan terapi okupasi. 

Tips Mengurangi Risiko Demensia pada Lansia

demensia pada lansia
Olahraga dapat mengurangi risiko demensia pada lansia
Demensia pada lansia mungkin tidak bisa benar-benar dicegah. Namun setidaknya, kondisi ini bisa diminimalisir risiko dan gejalanya. berikut tips untuk meminimalisir risiko terjadinya demensia:
  • Kendalikan penyakit yang sudah terlanjur ada dengan rutin berobat dan menerapkan gaya hidup sehat.
  • Tidak merokok atau hindari asap rokok.
  • Pastikan posisi tidur yang baik. Jika terlentang membuat Anda mendengkur, maka tidur miring ke salah satu sisi mungkin dapat menghilangkan dengkuran Anda.
  • Batasi konsumsi alkohol bahkan tidak mengkonsumsinya jika memang tidak diperlukan.
  • Rajin berolahraga
  • Mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayuran
  • Syukuri hidup ini dan terbukalah dengan orang terdekat untuk mengurangi risiko depresi.
Untuk berkonsultasi dengan dokter seputar demensia, Anda bisa gunakan layanan live chat di aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasi SehatQ di App Store dan Google Play sekarang juga. 
demensiagangguan lansialansiakesehatan lansia
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dementia/symptoms-causes/syc-20352013
Diakses 18 April 2019
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia
Diakses 18 April 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/dementia
Diakses 18 April 2019
van der Flier WM, Scheltens P. Epidemiology and risk factors of dementia. Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry. 2005 Dec 1;76(suppl 5):v2-7.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait