Inilah Gejala Demensia pada Lansia dan Tips Mengurangi Risikonya

Berhenti merokok dan batasi konsumi alkohol dapat mengurangi risiko demensia pada lansia
Salah satu gejala demensia pada lansia adalah gangguan daya ingat jangka pendek.

Apakah orang tua Anda sering lupa apa yang baru dilakukan? Sementara ketika bercerita tentang kejadian beberapa tahun bahkan puluhan tahun lalu masih dapat disampaikan bahkan secara detil. Bisa jadi orang tua Anda mengalami demensia pada lansia.

Demensia bukanlah penyakit, tetapi merupakan sindrom atau kumpulan gejala-gejala yang terjadi pada seseorang. Sindrom ini memengaruhi daya ingat, proses berpikir, dan kemampuan sosial yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Demensia pada umumnya terjadi pada kelompok lansia. Namun, sindrom ini bukanlah proses penuaan yang normal terjadi. Kondisi ini merupakan penyebab terbesar disabilitas dan ketergantungan pada orang lain bagi lansia di seluruh dunia.

Gejala Demensia pada Lansia

Berikut beberapa gejala demensia pada lansia yang mungkin ditemukan pada tahap awal:

  • Sulit menyesuaikan diri dengan perubahan waktu atau lingkungan.
  • Gangguan pada daya ingat jangka pendek, bukan ingatan akan masa lalu.
  • Kesulitan mendapat kata-kata yang tepat untuk bicara.
  • Sering mengulang pertanyaan yang sama, melakukan hal yang sama, dan bercerita hal yang sama berulang kali.
  • Bingung akan arah dalam menuju suatu tempat.
  • Kesulitan mengikuti alur cerita orang lain.
  • Perubahan mood yang cepat.
  • Kehilangan minat akan hal yang disukai sebelumnya.
  • Kebingungan mengenali orang.
  • Kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang biasa dilakukan.

Apa Saja Faktor yang Memicu Terjadinya Demensia pada Lansia?

1. Faktor yang tidak dapat dikendalikan

  • Jenis kelamin. Perempuan ditemukan lebih sering mengalami demensia dibanding laki-laki terutama pada usia lanjut.
  • Usia. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama memasuki usia 65 tahun.
  • Riwayat keluarga. Memiliki riwayat anggota keluarga dengan demensia membuat risiko meningkat.
  • Sindrom Down. Sindrom ini berkaitan dengan penyakit Alzheimer yang mengakibatkan demensia.
  • Gangguan kognisi ringan. Gangguan daya ingat saja tanpa gangguan dalam aktivitas sehari-hari juga memicu terjadinya demensia.

2. Faktor yang dapat dikendalikan

  • Konsumsi alkohol yang berat.Konsumsi alkohol berlebihan memicu timbulnya demensia.
  • Faktor kardiovaskuler.Faktor ini termasuk darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah, dan obesitas.
  • Depresi
  • Kencing manis atau diabetes
  • Merokok
  • Mendengkur saat tidur

Tips Mengurangi Risiko Demensia pada Lansia

Setelah mengetahui faktor yang dapat dikendalikan, berikut tips untuk mengurangi risiko terjadinya demensia:

  1. Syukuri hidup ini dan terbukalah dengan orang terdekat untuk mengurangi risiko depresi.
  2. Kendalikan penyakit yang sudah terlanjur ada dengan rutin berobat dan menerapkan gaya hidup sehat.
  3. Tidak merokok atau hindari asap rokok.
  4. Pastikan posisi tidur yang bai Jika terlentang membuat Anda mendengkur, maka tidur miring ke salah satu sisi mungkin dapat menghilangkan dengkuran Anda.
  5. Batasi konsumsi alkohol bahkan tidak mengkonsumsinya jika memang tidak diperlukan.

Semoga informasi di atas berguna bagi Anda atau orang tua Anda sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap faktor yang ada dan mendeteksi dini kemungkinan adanya demensia pada lansia.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dementia/symptoms-causes/syc-20352013
Diakses 18 April 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dementia
Diakses 18 April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/dementia
Diakses 18 April 2019

van der Flier WM, Scheltens P. Epidemiology and risk factors of dementia. Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry. 2005 Dec 1;76(suppl 5):v2-7.

Artikel Terkait

Banner Telemed