Waspada, Ini Gejala Awal HIV yang Harus Anda Kenali!

Infeksi HIV dapat terjadi karena adanya kontak langsung dengan darah atau air mani
Pada fase awal infeksi, demam dan sakit kepala bisa menjadi gejala awal HIV.

Gejala HIV dapat dideteksi sejak awal dan setiap individu memiliki gejala yang berbeda-beda. Perlu diingat, satu-satunya cara untuk dapat mengetahui gejala awal HIV adalah dengan melakukan uji laboratorium. Meskipun infeksi virus biasanya akan menyebabkan gejala, hal ini bukanlah cara yang dapat diandalkan untuk mengetahui infeksi HIV. Namun, ada sejumlah gejala awal HIV yang bisa Anda cermati.

Bahkan, ada penderita HIV yang tidak menunjukkan gejala sama sekali. Meskipun tidak merasakan adanya tanda-tanda dari infeksi virus, segera lakukan uji laboratorium khususnya untuk Anda yang berisiko.

Gejala Awal HIV pada Individu yang Berisiko

Pada dasarnya, infeksi HIV dapat terjadi karena adanya kontak langsung dengan beberapa jenis cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan pramani (pre-cum), cairan vagina, cairan dubur, dan ASI. Seks vaginal atau anal tanpa kondom, serta berbagi jarum suntik dengan pengidap HIV, bisa meningkatkan risiko penularan.

Individu berusia 13-64 tahun direkomendasikan menjalani tes HIV setidaknya sekali, sebagai pencegahan dan antisipasi. Jika ingin mengetahui risiko terhadap infeksi HIV, Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Apakah Anda melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang mengidap HIV atau seseorang yang status HIV-nya tidak Anda ketahui?
  2. Pernahkah Anda menyuntikkan obat-obatan (termasuk hormon, steroid, dan silikon) maupun berbagi jarum atau alat suntik dengan orang lain?
  3. Pernahkah Anda didiagnosis mengalami penyakit menular seksual?
  4. Pernahkah Anda didiagnosis menderita tuberkulosis (TB) atau hepatitis?
  5. Apakah Anda pernah berhubungan seks dengan siapa saja yang akan menjawab "ya" pada salah satu pertanyaan di atas?
  6. Apakah Anda pernah mengalami pelecehan seksual?

Tanda dan Gejala Infeksi HIV

Gejala HIV bersifat individual. Beberapa dari penderitanya malah mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Meskipun begitu, infeksi dapat menyebabkan beberapa perubahan umum dari waktu ke waktu. Perubahan ini dapat dikelompokkan menjadi perubahan yang terjadi pada beberapa minggu pertama setelah infeksi, dan beberapa bulan atau tahun setelah infeksi.

Beberapa Minggu Pertama Setelah Infeksi

Pada 1-4 minggu setelah terinfeksi virus, penderita HIV mungkin akan merasakan adanya gejala mirip flu yang berlangsung selama 1-2 minggu. Flu ini terjadi karena tubuh bereaksi terhadap HIV dan sistem kekebalan mencoba melawannya. Gejala-gejala pada tahap ini dapat meliputi:

Akan tetapi, gejala-gejala ini tidak serta-merta menunjukkan adanya infeksi HIV. Sebab, ada banyak penyakit berbeda yang dapat menimbulkan gejala dan masalah tersebut. Untuk itu, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau penyelenggara tes HIV jika Anda merasakan adanya kemungkinan infeksi HIV.

Pada tahap awal pengujian infeksi HIV ini, mungkin hasil yang didapatkan tidak akurat. Sebab, dibutuhkan waktu selama 3-12 minggu hingga munculnya tanda-tanda yang cukup dari virus. Kalaupun ada, jenis screening terbaru--yang juga dikenal sebagai tes asam nukleat--dapat mendeteksi keberadaan virus di tahap awal. Sayangnya, biaya untuk menjalani tes ini masih relatif mahal, dibandingkan tes HIV rutin.

Beberapa Bulan atau Tahun Setelah Infeksi

Setelah tahap pertama berlalu, sebagian besar orang dengan HIV akan mulai merasa lebih sehat. Meski demikian, bukan berarti virus ini telah hilang. Diperlukan waktu hingga 10 tahun hingga gejala dan tanda lain muncul. Selama waktu ini, virus masih hidup dan akan terus aktif menginfeksi sel-sel baru di tubuh Anda.

Dalam sepuluh tahun, virus telah mampu merusak sistem kekebalan tubuh. Dengan kondisi ini, Anda akan lebih rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Sebab, mana tubuh Anda tidak lagi cukup kuat untuk melawan dan bertahan. Bahkan, infeksi dari penyakit-penyakit tersebut dapat menjadi tanda, bahwa infeksi yang Anda alami telah berubah, dari HIV menjadi AIDS. Berikut ini adalah tanda-tanda yang harus Anda waspadai.

  • Penurunan berat badan
  • Diare
  • Demam
  • Batuk yang tidak kunjung hilang
  • Berkeringat di malam hari
  • Masalah mulut dan kulit
  • Infeksi yang sering terjadi
  • Penyakit-penyakit serius

Sekali lagi, gejala-gejala ini juga dapat menjadi tanda penyakit lain dan tidak langsung menjadi indikasi bahwa Anda mengidap HIV atau AIDS. Itulah sebabnya, pengujian lab sangat penting untuk dijalani para pasien yang berisiko terhadap HIV.

Pentingnya Tes HIV

Tes HIV merupakan pemeriksaan di laboratorium, yang bertujuan untuk menegakkan diagnosis pada individu yang diduga mengalami infeksi virus tersebut. Seperti halnya pada tes laboratorium lain, pasien akan memperoleh hal-hal berikut ini dari tes HIV.

  • Informasi singkat dan sederhana mengenai manfaat pemeriksaan
  • Formulir yang meminta persetujuan pasien dalam menjalani tes HIV
  • Hasil tes, yang disampaikan oleh dokter dan tenaga kesehatan lain
  • Tindak lanjut pengobatan dan perawatan lain, seperti skrining tuberkulosis (TB), skrining infeksi menular seksual (IMS), konseling pascapemeriksaan, dan terapi antiretroviral (ARV) jika diperlukan

Hasil pemeriksaan tersebut bersifat konfidensial. Selain pasien, hanya dokter dan tenaga kesehatan lain yang berkepentingan lah, yang bisa mengaksesnya.

Itulah beberapa gejala awal HIV yang perlu Anda antisipasi, dan pentingnya pemeriksaan HIV. Ingat, pengobatan dini adalah kunci untuk mengatasinya. Dalam 20 tahun terakhir, sejak terapi kombinasi telah ditemukan, tingkat ketahanan hidup bagi para pengidap yang mengikuti pengobatan dengan disiplin, telah meningkat secara signifikan. Penelitian telah menemukan bahwa rentang hidup pasien HIV yang menjalani pengobatan reguler pada dasarnya tidak berbeda dari seseorang tanpa HIV.

WebMD. https://www.webmd.com/hiv-aids/do-i-have-hiv#1
Diakses pada 6 Februari 2019

Kementerian Kesehatan RI.
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/4__Pedoman_Fasyankes_Primer_ok.pdf
Diakses pada 21 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed