5 Gejala Anemia Sel Sabit pada Bayi, Orangtua Wajib Tahu

Krisis nyeri pada bayi adalah salah satu tanda dari anemia sel sabit hingga membuat bayi terus menangis
Bayi bisa terus-menerus menangis akibat krisis nyeri yang menjadi salah satu gejala anemia sel sabit

Bukan hanya orang dewasa yang bisa menderita anemia, bayi pun bisa terkena penyakit kurang darah ini. Hanya saja, anemia pada bayi biasanya berjenis anemia sel sabit atau sickle cell anemia.

Penyebab anemia pada anak dan bayi tersebut adalah faktor genetik. Namun anak harus memiliki dua gen sabit dari ibu maupun ayahnya untuk menderita anemia sel sabit. Jika hanya satu gen, bayi bisa menjadi carrier (pembawa) tanpa mengalami gejala anemia sel sabit.

Pada anak yang mengalami anemia sel sabit, sebagian besar atau seluruh sel darah merahnya akan berbentuk seperti bulan sabit. Padahal, sel darah seharusnya berbentuk bulat pipih seperti piring.

Bentuk abnormal tersebut membuat sel darah merah menjadi mudah lengket, kaku, sulit diedarkan ke seluruh tubuh, dan mudah terperangkap dalam pembuluh darah. Akibatnya, penderita dapat mengalami kerusakan jaringan, bahkan kerap merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.

Apa saja gejala anemia sel sabit pada bayi?

Meski tergolong sebagai penyakit yang bersifat genetis atau keturunan, gejala anemia sel sabit tidak akan langsung terlihat pada bayi. Biasanya, gejala anema ini baru mulai tampak pada bayi berusia lima bulan hingga satu tahun. 

Pasalnya, masih terdapat hemoglobin yang diproduksi oleh tubuh bayi saat masih dalam kandungan, yang disebut juga fetal hemoglobin. Hemoglobin ini melindungi sel darah merah menjadi bentuk bulan sabit. 

Fetal hemobglobin akan mulai menghilang ketika bayi menginjak usia lima bulan. Di saat itulah anemia sel sabit juga mulai menunjukkan gejalanya. Apa sajakah gejalanya?

  • Anemia

Gejala ini adalah indikasi anemia sel sabit yang paling umum. Pada bayi, kondisi ini akan mengakibatkan Si Kecil terlihat pucat dan lesu.

  • Jaundice atau penyakit kuning

Sel darah merah pada penderita anemia sel sabit memiliki masa hidup yang lebih singkat. Ketika sel darah merah ini mati, ia akan melepaskan bilirubin.

Saat pemecahan sel darah merah terjadi terlalu sering, kadar bilirubin pada bayi menjadi terlalu tinggi. Sebagai akibatnya, bayi bisa memiliki kulit, bagian putih mata, dan mulut yang menguning. Kondisi ini dikenal dengan sakit kuning atau jaundice.

  • Krisis nyeri (pain crisis)

Gejala anemia sel sabit yang satu ini terjadi saat sel darah merah menyebabkan penyumbatan aliran darah, sehingga menimbulkan rasa sakit di area tersebut. Krisis nyeri bisa terjadi di bagian tubuh manapun, tapi paling sering di dada, lengan, dan kaki.

  • Dactylis

Dactylis merupakan pembengkakan pada jari tangan dan kaki yang terasa sakit, sehingga bayi akan rewel ketika bagian itu disentuh.

  • Sindrom dada akut

Sindrom dada akut disebabkan oleh adanya pembengkakan, infeksi, dan penyumbatan pembuluh darah di paru-paru. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis, sehingga penderita harus segera dibawa ke rumah sakit.

Tanda-tanda sindrom akur bisa meliputi rasa sakit di dada, batuk terus-menerus, kesulitan bernapas, dan mengalami demam di atas 38 derajat celcius.

Gejala-gejala anemia sel sabit mungkin terlihat seperti mirip gejala penyakit-penyakit lain. Untuk memastikan diagnosis, Anda sebaiknya membawa buah hati ke dokter spesialis anak.

Apabila buah hati juga mengalami kejang, pingsan, serta muntah terus-menerus, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Cara merawat bayi yang menderita anemia sel sabit

Merawat bayi dengan penyakit kurang darah berjenis anemia sel sabit memang tidak mudah. Namun beberapa langkah berikut bisa Anda lakukan untuk merawat bayi dan anak yang mengalami anemia ini:

  • Rutin memeriksakan kondisi bayi ke dokter agar kesehatannya bisa terus terpantau dengan baik.
  • Komunikasikan semua kekhawatiran Anda pada dokter, termasuk jika Anda mencurigai timbulnya gejala anemia sel sabit yang baru pada buah hati.
  • Pastikan bayi meminum semua obat yang diresepkan oleh dokter.
  • Tidak ada salahnya untuk memeriksakan bayi ke beberapa dokter spesialis, misalnya untuk mendapatkan second opinion maupun mengecek ada atau tidaknya komplikasi.
  • Bantu bayi Anda agar menghindari hal-hal yang menyebabkan krisis nyeri. Contohnya, menjaga temperatur ruangan agar tidak terlalu panas atau dingin, maupun menghindari stres.
  • Pastikan bayi tidak melakukan aktivitas yang membuatnya kelelahan. Bila perlu, minta rekomendasi dokter mengenai aktivitas yang boleh boleh dilakukan dan yang tidak.
  • Pastikan bayi sering minum dan cukup istirahat supaya tidak mengalami kekurangan cairan, apalagi sampai dehidrasi.

Ketika bayi mengalami anemia sel sabit, butuh bantuan dokter dalam menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan yang sesuai. Pasalnya, anemia jenis ini bisa memicu komplikasi berbahaya di kemudian hari. Mulai dari kerusakan organ, kebutaan, hingga stroke.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/sickle-cell-anemia.html
Diakses pada 20 Agustus 2019

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=sickle-cell-disease-in-children-90-P02327
Diakses pada 20 Agustus 2019

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/sickle_cell/article.htm
Diakses pada 20 Agustus 2019

University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02327
Diakses pada 20 Agustus 2019

About Kids Health. https://www.aboutkidshealth.ca/Article?contentid=745&language=English
Diakses pada 20 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed