Beberapa Gangguan Mental yang Berkaitan dengan Psikosis atau Gangguan Psikotik

Gangguan psikotik dapat muncul di berbagai gangguan mental, seperti bipolar dan skizofrenia
Psikosis atau gangguan psikotik dapat muncul di berbagai gangguan mental, seperti bipolar dan skizofrenia

Psikosis atau gangguan psikotik adalah suatu kondisi mental, yang membuat penderitanya sulit mempersepsikan realita. Gangguan ini menyebabkan penderitanya sukar membedakan realitas, dan hal yang tidak nyata. Kondisi psikosis lebih merujuk pada suatu gejala penyakit lain.

Orang yang mengalami kondisi psikosis dapat melihat atau mendengar sesuatu, yang sebenarnya tidak ada, atau disebut dengan gejala halusinasi. Selain halusinasi, penderita psikosis juga kerap meyakini suatu hal, yang sebenarnya tidak benar, atau delusi. Jadi, delusi tidak sama dengan halusinasi. 

Kondisi mental yang berkaitan dengan psikosis atau gangguan psikotik

Psikosis dan gangguan psikotik dapat menjadi gejala dari kondisi mental lainnya. Beberapa gangguan mental tersebut mungkin sudah familiar bagi Anda. Sebut saja gangguan bipolar, skizofrenia, hingga depresi pada tahap yang parah.

Berikut ini beberapa kondisi mental, yang berhubungan dengan psikosis atau gangguan psikotik

  • Skizofrenia

Gangguan skizofrenia adalah gangguan mental, yang mengakibatkan penderitanya menafsirkan realitas secara tidak normal. Skizofrenia dapat menyebabkan kombinasi gejala psikosis, halusinasi dan delusi yang mengganggu fungsi sehari-hari. Penderitanya juga menunjukkan ketidakteraturan dalam berbicara serta berperilaku, dan menunjukkan gejala negatif (seperti menarik diri dari kehidupan sosial, atau tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan hal yang menyenangkan).

Ada beberapa jenis skizofrenia. Beberapa di antaranya, yakni skizofrenia paranoid dan skizoafektif. Penderita skizofrenia paranoid memiiliki keyakinan bahwa orang-orang akan menyakiti dirinya. Sementara itu, penderita skizoafektif dapat menderita gejala yang merupakan kombinasi antara skizofrenia dengan gangguan mood, seperti mania dan depresi.

  • Gangguan skizofreniform

Gangguan skizofreniform adalah jenis skizofrenia jangka pendek. Biasanya, orang yang mengalami skizofreniform hanya menunjukkan gejala kondisi ini dalam rentang waktu satu hingga enam bulan. Lain halnya dengan skizofrenia, yang membutuhkan penanganan jangka panjang.

Orang yang menderita skizofreniform juga menunjukkan ciri-ciri skizofrenia, termasuk mengalami gejala psikosis berupa delusi dan halusinasi. Selain itu, penderita kondisi ini juga memperlihatkan ketidakteraturan berbicara dan berperilaku, serta gejala negatif.

Walau bersifat sementara, orang dengan gangguan skizofreniform tetap dapat mengalami komplikasi berupa skizofrenia.

  • Gangguan delusi

Gangguan delusi, sesuai namanya, merupakan gangguan psikotik yang membuat penderitanya tidak dapat membedakan khayalan dari realitas. Delusi yang berisiko dirasakan penderitanya antara lain merasa diikuti, diracuni, ditipu, atau dicintai seseorang. Namun, hal tersebut tidak benar pada kenyataannya.

Selain itu, jenis delusi yang dialami juga dapat berupa keyakinan yang takkan mungkin terjadi. Misalnya, penderita merasa bahwa ia telah dikuasai oleh alien.

Selain delusi, penderita gangguan delusi juga dapat merasakan halusinasi, kemarahan, dan memiliki mood yang buruk.

  • Psikosis pospartum

Psikosis postpartum adalah gangguan mental yang terjadi setelah persalinan. Penderitanya memiliki kesulitan untuk menerima bayi yang baru ia lahirkan, bahkan dapat memiliki pikiran untuk melukai anak. Psikosis postpartum berbeda dari depresi pascapersalinan, meskipun kedua kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan.

Kondisi psikosis pospartum memiliki gejala psikotik pada umumnya, seperti halusinasi dan delusi. Selain itu, penderita kondisi ini juga menunjukkan perilaku yang tidak biasa, perubahan mood yang cepat, dan pikiran bunuh diri.

Faktor risiko psikosis postpartum dapat meningkat, jika penderita memiliki riwayat penyakit mental lain. Penyakit mental tersebut termasuk depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, dan skizofrenia.

  • Gangguan bipolar

Anda mungkin sudah kerap mendengar gangguan ini. Gangguan bipolar adalah suatu gangguan mental, yang menyebabkan penderitanya mengalami perubahan mood dalam sekejap. Mood tersebut dapat berupa sangat gembira atau mania, hingga merasa sangat sedih atau depresi.

Diperkirakan, dua pertiga penderita bipolar mengalami gejala psikotik. Psikosis lebih sering dialami penderita bipolar tipe 1, yaitu pada episode mania, walau juga ditemukan pada kasus bipolar tipe 2.

  • Psikosis terinduksi zat

Sesuai namanya, psikosis terinduksi zat atau obat adalah nama diagnostik, atau psikosis yang disebabkan oleh suatu zat. Seperti gangguan psikotik lainnya, penderita psikosis terinduksi zat juga bisa mengalami delusi maupun halusinasi.

Ada banyak jenis zat yang membuat seseorang mengalami psikosis. Misalnya alkohol, obat sedatif, amfetamin, kokain, hingga ganja. Jenis obat-obatan juga membuat gangguan psikotik, seperti anestetik, analgesik, obat penyakit jantung, hingga obat antidepresan.

  • Depresi psikosis

Sesuai namanya, kondisi ini merupakan kombinasi antara gejala psikotik (psikosis) dengan kondisi depresi. Psikosis dapat menyerang 20% orang yang menderita depresi, yang tentunya berbahaya, karena juga dapat menimbulkan pikiran untuk bunuh diri.

Layaknya kondisi gangguan psikotik, penderita psikosis depresif juga akan mengalami halusinasi, delusi, dan paranoid yang diiringi dengan gejala depresi, seperti kesedihan yang mendalam. Bentuk delusi pada penderita psikosis depresif adalah kecenderungan menyalahkan diri sendiri, dan meyakini sesuatu yang berkaitan dengan tubuhnya.

[[artikel-terkait]]

Pengobatan psikosis atau gangguan psikotik

Pengobatan untuk psikosis atau gangguan psikotik diberikan berdasarkan penyebabnya. Penderitanya mungkin juga akan dirawat oleh dokter. Selain itu, ada jenis obat yang khusus untuk menangani psikosis atau gangguan psikotik. Obat ini lah yang disebut dengan antipsikotik.

Obat antipsikotik terbagi atas dua jenis, yakni antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Antipsikotik tipikal cenderung menimbulkan efek samping yang lebih tidak mengenakkan, dibandingkan antipsikotik atipikal.

Apabila Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala psikosis, terlebih diiringi dengan gejala gangguan mental tertentu, segera cari pertolongan medis. Gejala gangguan psikotik, seperti delusi dan halusinasi, dapat menimbulkan dampak yang menganggu hidup Anda, sehingga harus ditangani oleh tenaga profesional.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9571-schizophreniform-disorder

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/postpartum-psychosis

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/192770.php

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Tempo. https://metro.tempo.co/read/1220829/dokter-jiwa-wanita-pembawa-anjing-masuk-masjid-angkat-bicara/full&view=ok

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/bipolar-psychosis-symptoms-379872

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-psychosis-p2-379828

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-substance-medication-induced-psychotic-disorder-21938

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/ss/slideshow-types-of-psychotic-disorders

Diakses pada 26 Agustus 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/delusional-disorder#1

Diakses pada 26 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed