Gangguan Makan Pica, Mengonsumsi Benda Tak Lazim Seperti Tanah Hingga Logam


Gangguan makan pica ditandai dengan pola mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dimakan.. Bahkan, kondisi ini bisa menjadi sangat serius dan berpotensi mengancam nyawa seseorang.

(0)
09 Apr 2021|Azelia Trifiana
Gangguan makan pica membuat seseorang memakan benda tak lazimGangguan makan pica membuat seseorang memakan benda tak lazim
Gangguan makan pica ditandai dengan pola mengonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dimakan. Pola ini terus berulang sehingga termasuk ke dalam spektrum gangguan makan. Bahkan, kondisi ini bisa menjadi sangat serius dan berpotensi mengancam nyawa seseorang.Orang dengan pica bisa mengonsumsi berbagai objek tidak biasa mulai dari kertas, plastik, kain, batu, sabun, puntung rokok, rambut, hingga objek metal seperti koin.

Mengenal gangguan makan pica

Pica bisa terjadi pada siapa saja, utamanya anak-anak. Kondisi ini lebih umum terjadi pada anak-anak yang memiliki kendala intelektual dan perkembangan. Pada beberapa kasus, pica juga terjadi bersamaan dengan gangguan lain seperti spektrum autisme, OCD, dan ADHD.Selain itu, ibu hamil juga bisa mengalami gangguan ini, utamanya dari perempuan berkebangsaan Afrika dan Afrika-Amerika. Bahkan, ada juga praktik budaya di Afrika-Amerika yang menganggap konsumsi objek tak lazim ini memberikan manfaat psikologis dan sosial.Di sinilah perlu ada garis batas yang jelas antara pica sebagai gangguan makan dengan kebiasaan serupa yang terkait dengan budaya. Apabila murni berkaitan dengan budaya, artinya itu bukan merupakan gangguan psikologis.

Apa saja indikatornya?

Lebih jauh lagi, untuk membedakan atau mendiagnosis apakah seseorang mengalami gangguan makan pica atau tidak, berikut ini beberapa indikatornya:
  • Terus menerus mengonsumsi zat bukan makanan setidaknya selama satu bulan
  • Mengonsumsi zat makanan meski tahap perkembangan usianya sudah di atas 2 tahun
  • Bukan berkaitan dengan praktik budaya
  • Terjadi bersamaan dengan gangguan mental lain seperti skizofrenia, keterbelakangan intelektual, spektrum autisme, dan lainnya
  • Terjadi bersamaan dengan kondisi medis yang perlu penanganan klinis sesegera mungkin (termasuk kehamilan)
Dulunya, pica termasuk dalam “Disorders Usually First Diagnosed in Infancy, Childhood, or Adolescence”. Namun kini, pica sudah masuk dalam kategori “Feeding and Eating Disorders”. Artinya, ada kemungkinan terjadi pada orang dewasa, bukan hanya anak-anak saja.Namun pica bukan merupakan diagnosis pada orang dengan anoreksia nervosa yang sengaja mengonsumsi zat bukan makanan demi menekan nafsu makan.

Mengapa pica terjadi?

Mengingat zat non-makanan dan tidak bernutrisi ada begitu banyak, istilah seputar gangguan makan pica pun beragam. Beberapa contohnya adalah:
  • Geophagia: mengonsumsi tanah liat
  • Coprophagia: mengonsumsi feses
  • Pagophagia: mengonsumsi es batu (tidak berhubungan dengan pica)
  • Amylogphagia: mengonsumsi tepung (tidak berhubungan dengan pica)
Motivasi mengapa seseorang mengonsumsi zat-zat bukan makanan ini berbeda-beda. Ada yang merasa suka dengan konsistensi, rasa, atau sekadar terdorong keinginan untuk memakannya.Selain itu, ada pula yang melakukan pica demi mendapatkan stimulasi oral. Menariknya lagi, tak sedikit yang menganggap aktivitas pica dapat menenangkan diri ketika merasa panik atau tidak tenang.Hingga kini, masih sedikit riset yang menjelaskan seputar pica sehingga faktor risikonya pun belum jelas betul. Namun, ada satu teori cukup populer bahwa pica terjadi karena kekurangan mineral berupa zat besi.Ada beberapa bukti bahwa perilaku mengonsumsi zat non-makanan ini mereda setelah defisiensi teratasi.

Risiko pica

Risiko medis dari gangguan makan pica cukup signifikan, bergantung pada zat yang termakan serta seberapa parah perilakunya. Sebagai contoh metal seperti merkuri, zinc, tembaga, dan timbal bisa menyebabkan keracunan.Selain itu, mengonsumsi zat berbahaya dalam jumlah banyak juga bisa menimbulkan masalah pada perut dan saluran cerna. Bukan tidak mungkin, zat yang tidak bisa dicerna ini akan menyumbat usus dan menyebabkan robekan. Apabila ini terjadi, perlu dilakukan operasi.Lebih parahnya lagi, pica juga bisa menyebabkan masalah-masalah lain seperti adanya parasit, tersedak, masalah pernapasan, hingga kematian.

Bagaimana penanganannya?

Hingga kini belum ada penanganan khusus untuk gangguan makan pica. Intervensi yang mungkin dilakukan berkaitan dengan nutrisi, farmasi, dan perilaku. Mungkin juga diperlukan intervensi operasi apabila zat yang tertelan dapat melukai organ dalam.Namun tetap saja, penanganan seperti operasi ini tidak dapat mengatasi kebiasaan makan yang tidak normal.Selain itu, dokter juga mungkin memberikan suplemen seperti zat besi apabila pemicunya adalah defisiensi atau kelebihan nutrisi. Untuk menentukannya, perlu ada pemeriksaan lebih detail terlebih dahulu.Sementara untuk penanganan pada anak-anak, beberapa intervensi yang mungkin sukses adalah:
  • Strategi pemberian hadiah

Memberikan makanan atau hadiah kepada anak ketika mereka tidak melakukan perilaku pica
  • Strategi pelatihan diskriminatif

Mengajarkan anak untuk membedakan antara zat yang bisa dimakan dan tidak, juga bahaya mengonsumsi zat bukan makananPerlu diingat bahwa prosedur memberi hukuman hanya boleh diterapkan apabila intervensi lainnya tidak berhasil. Selain itu, hanya boleh diterapkan apabila risiko signifikan dari perilaku gangguan makan pica.

Intervensi pada orang dewasa juga bisa berupa terapi perilaku kognitif. Fokusnya adalah membantu subjek mengubah pikiran mereka tentang mengonsumsi zat bukan makanan. Selain itu, juga dengan mengubah perilaku dan menggantinya dengan strategi penanganan lain.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar apa yang boleh dilakukan ketika seseorang menunjukkan gejala gangguan makan pica, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalmakanan tidak sehatpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-pica-5114566
Diakses pada 26 Maret 2021
Clinical Psychology & Psychotherapy. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/cpp.2491
Diakses pada 26 Maret 2021
Journal of Intellectual & Developmental Disability. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13668250020054486
Diakses pada 26 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait