Fungsi Otak Kecil Ternyata Besar Bagi Kemampuan Gerak Kita

Fungsi otak kecil ternyata besar bagi kita, salah satunya adalah untuk menjaga keseimbangan
Otak kecil memiliki fungsi penting untuk menjaga keseimbangan

Otak kecil atau cerebellum adalah bagian dari struktur otak belakang, yang berlokasi di dekat batang otak. Fungsi otak kecil berkaitan dengan kemampuan motorik, seperti koordinasi gerak, keseimbangan, dan postur tubuh. 

Ukuran otak kecil hanyalah 10% dari volume total otak. Tetapi di cerebellum, terdapat lebih dari separuh sel-sel saraf otak. 

Fungsi otak kecil bagi manusia

Fungsi otak kecil sangatlah penting dalam kendali kemampuan motorik tubuh. Beberapa fungsi utamanya meliputi:

   1. Koordinasi gerak tubuh yang disadari

Menggerakkan tubuh adalah sebuah proses yang rumit dan membutuhkan kerja sama dari beberapa kelompok otot yang berbeda. Gerak tubuh yang nampak sederhana (seperti berjalan, berlari, atau melempar bola) sejatinya membutuhkan kerja sama dari banyak otot. 

Pemicu gerakan tubuh kita bukan berasal dari otak kecil. Namun bagian otak inilah yang mengontrol gerakan seluruh kelompok otot yang mesti terlibat dalam sebuah gerakan tertentu, dan memastikan tubuh kita mampu mengkoordinasikan gerakan secara lancar. 

   2. Mengatur keseimbangan dan postur tubuh

Fungsi otak kecil lainnya adalah mengatur keseimbangan tubuh dapat. Bila fungsinya terganggu, tubuh pun bisa limbung dan kesulitan berdiri tegak. Misalnya, saat seseorang mabuk akibat konsumsi alkohol.

Terlalu banyak mengonsumsi alkohol akan memengaruhi fungsi otak kecil. Akibatnya, orang yang mabuk tidak mampu mengontrol dan mengkoordinasi gerakan tubuhnya dengan benar.

Orang mabuk umumnya tidak mampu untuk berjalan mengikuti garis lurus, bahkan tidak bisa menyentuh hidungnya sendiri. 

   3. Pembelajaran motorik

Ketika Anda belajar suatu ketrampilan baru (seperti naik sepeda atau memukul bola tenis), Anda pasti berlatih melalui metode coba-coba. Makin lama, gerakan Anda akan makin sempurna dan makin mahir ketika melakukannya. Otak kecillah yang memegang peran penting dalam proses pembelajaran ketrampilan motorik ini. 

Gejala dan penyebab gangguan pada otak kecil 

Adanya gangguan pada otak kecil ditandai dengan ataksia, yaitu kurangnya kemampuan mengontrol atau koordinasi otot dalam melakukan gerakan yang disadari. Misalnya, berjalan.

Ataksia bisa memengaruhi kemampuan Anda dalam melakukan berbagai gerakan dan menimbulkan kesulitan saat berbicara, menelan, atau menggerakkan mata. 

Kondisi ataksia yang menetap biasanya merupakan akibat dari adanya gangguan pada fungsi otak kecil yang mengatur koordinasi otot. Cukup banyak kondisi medis yang bisa menimbulkan ataksia. Misalnya, stroke, tumor otak, cerebral palsy, degenerasi otak, multiple sclerosis, dan penyalahgunaan alkohol. 

Ataksia bisa muncul perlahan-lahan atau mendadak dengan gejala-gejala berupa:

  • Menurunnya kemampuan koordinasi gerak tubuh.
  • Sulit berjalan lurus dan cenderung untuk jatuh atau tersandung.
  • Kesulitan melakukan gerak motorik halus, seperti makan, menulis, atau mengancingkan pakaian.
  • Ada perubahan pada cara bicara.
  • Bola mata bergerak-gerak tanpa disadari (nystagmus).
  • Kesulitan menelan.

Penyakit-penyakit tertentu dan kecelakaan yang merusak saraf tulang belakang dan saraf tepi (perifer), yang menghubungkan otak kecil dengan otot-otot juga bisa menyebabkan ataksia.  Beberapa kondisi medis yang menimbulkan gangguan pada otak kecil meliputi:

   1. Cedera kepala

Benturan hebat pada kepala seperti yang terjadi pada kecelakaan lalu lintas bisa menyebabkan kerusakan pada otak kecil atau saraf tulang belakang sehingga menimbulkan gejala ataksia.

   2. Stroke

Ketika suplai darah ke otak terhenti atau menurun secara signifikan akibat adanya penyumbatan aliran darah maupun perdarahan pada otak, sel-sel otak kecil akan keurangan oksigen dan nutrisi sehingga mengalami kerusakan.

   3. Cerebral palsy

Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah istilah untuk sekelompok kelainan yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengendalikan dan mengkoordinasikan gerak tubuhnya. Kondisi ini timbul sebagai akbat kerusakan pada otak anak sebelum, selama, atau segera sesudah proses kelahiran. 

   4. Penyakit autoimun

Multiple sclerosis, sarkoidosis, dan penyakit celiac merupakan beberapa contoh dari kondisi autoimun.

   5. Infeksi

Meski jarang terjadi, penyakit infeksi yang umum menyerang anak-anak (seperti flu dan cacar air) bisa menyebabkan komplikasi pada otak. Dengan kondisi ini, gejala ataksia biasa muncul pada fase penyembuhan infeksi dan berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. 

   6. Tumor

Adanya tumor, baik yang jinak maupun ganas, pada otak bisa merusak dan menurunkan fungsi otak kecil.

   7. Keracunan

Ataksia bisa muncul sebagai efek keracunan obat, terutama jenis barbiturate dan sedatif. Demikian pula dengan keracunan logam berat dan penyalahgunaan alkohol. 

   8. Sindrom paraneoplastic

Sindrom paraneoplastic merupakan degenerasi otak yang langka terjadi. Kondisi ini dipicu oleh respon sistem imunitas tubuh terhadap kemunculan kanker.

Gejala ataksia akibat sindrom paraneoplastic bisa timbul beberapa bulan sebelum penyakit kankernya terdiagnosis. 

Untuk menjaga fungsi otak kecil, kita perlu melakukan upaya pencegahan terjadinya stroke dan cedera kepala, serta menghindari penyalahgunaan alkohol. Segeralah berkonsultasi ke dokter jika muncul gejala ataksia agar kerusakan otak lebih lanjut bisa dicegah.

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-the-cerebellum-2794964
Diakses pada 14 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ataxia/symptoms-causes/syc-20355652
Diakses  pada 14 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed