logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Fandom adalah Komunitas yang Diisi Fans Berat Para Idola

open-summary

Fandom adalah komunitas berisi para fans berat yang benar-benar merasa memiliki kedekatan emosional dengan sang idola. Apakah Anda salah satunya?


close-summary

4.75

(4)

13 Nov 2020

| Asni Harismi

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Fandom adalah komunitas fans berat

Fandom menyimpan kebaikan dan keburukan di dalamnya

Table of Content

  • Fandom adalah kondisi akibat celebrity worship syndrome
  • Pro dan kontra fandom
  • Fandom Kpop
  • Catatan dari SehatQ

Fandom adalah sebutan bagi komunitas yang sangat mengidolakan seseorang maupun kelompok tertentu, misalnya band. Sayangnya, perilaku komunitas itu terkadang dinilai berlebihan. Para psikolog menganggap fandom menyiratkan kelainan mental yang disebut sindrom pemujaan selebritas (celebrity worship syndrome) atau populer disebut sindrom ngefans berat.

Advertisement

Sebenarnya, fandom adalah istilah untuk menggambarkan komunitas yang dibangun atas dasar kesukaan terhadap hal tertentu. Istilah fandom ini dipakai untuk penggemar buku, aktor maupun aktris, grup musik, tim sepak bola, dan dunia K-Pop

Beberapa orang mengenal fandom sebagai fans base, beberapa lagi menyebutkan sebagai fans culture. Sementara itu, orang yang tidak tergabung dalam fandom akan menganggap mereka sebagai geek.

Fandom adalah kondisi akibat celebrity worship syndrome

Orang-orang yang bergabung dengan fandom biasanya bukan sekadar penggemar biasa. Basis penggemar di dalamnya benar-benar merasa memiliki kedekatan emosional dengan sang idola. Mereka pun mewujudkan kecintaan itu dengan mengadakan acara rutin, seperti festival kostum.

Melihat orang yang ngefans berat dengan sesuatu atau seseorang memang sudah sangat umum di tengah masyarakat. Namun, bukan berarti cinta buta ini boleh dibiarkan berlarut-larut karena ternyata bisa mengganggu kesehatan mental Anda.

Fandom
Fandom berisiko menimbulkan tidak percaya diri

Sindrom pemujaan selebriti alias celebrity worship syndrome adalah sebutan untuk kelainan perilaku obsesif-adiktif pada diri seseorang. Sindrom ini bisa terjadi pada setiap orang, tapi biasanya dialami oleh mereka yang mengidolakan selebriti, politisi, atau tokoh publik yang muncul di televisi maupun media massa lainnya.

Menurut penelitian, sindrom pemujaan selebriti pada orang yang tergabung dalam fandom adalah 3 dimensi. Berikut ini penjelasannya.

1. Dimensi hiburan-sosial

Dimensi ini berhubungan dengan perilaku seseorang yang tertarik pada selebriti atau figur publik karena citra mereka yang ditampilkan di media. Citra ini membuat para penggemarnya memiliki kesamaan topik untuk dibicarakan atau dielu-elukan.

2. Dimensi intens-personal

Dimensi ini berkaitan dengan individu yang memiliki perasaan intensif dan kompulsif terhadap seorang selebriti.

3. Dimensi batas-patologis

Dimensi ini terjadi ketika seseorang tidak ragu menampilkan perilaku dan fantasi tak terkendali tentang selebriti yang dimaksud.

Dalam sebuah riset di Inggris, sindrom pemujaan selebriti ini berhubungan erat dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik pada para penderitanya. Mereka cenderung mengalami kecemasan, depresi, stres tingkat tinggi, dan kurangnya kepercayaan diri terhadap bentuk tubuh sendiri.

Sindrom ini banyak ditemukan pada orang dewasa, tapi tidak sedikit juga remaja perempuan yang berusia 14-16 tahun yang terkena sindrom ini. Penelitian yang sama juga mengungkap orang yang ngefans berat dengan sesuatu atau seseorang, memiliki sikap suka menyendiri dan senang berkhayal.

Pro dan kontra fandom

Tidak sedikit orang yang menganggap fandom sebagai saranan menyalurkan kesukaan terhadap seseorang atau sesuatu. Jika tidak sampai berlanjut menjadi celebrity worship syndrome, hal ini sebetulnya memiliki dampak positif bagi kesehatan mental, seperti tidak rentan stres, mendapat ajang sosialisasi, dan meningkatkan kepercayaan diri.

no caption
Fandom pun berisiko timbulkan perilaku belanja kompulsif

Sebaliknya, rasa ngefans berlebihan hingga menimbulkan perilaku obsesif dan adiktif justru memiliki dampak yang negatif bagi kesehatan mental Anda, seperti berikut ini.

1. Disosiasi

Disosiasi adalah adanya ketidaksesuaian antara pikiran, lingkungan, tindakan, hingga identitas diri. Dalam ilmu psikologi, gangguan identitas disosisiatif dikenal juga sebagai kepribadian ganda yang biasanya terjadi pada orang dengan sindrom pemujaan selebritas level tinggi.

2. Perilaku menguntit

Sindrom ngefans berat dapat membuat seseorang tidak ragu untuk mengikuti para idolanya ke manapun mereka pergi. Bahkan, para fans ini suka menguntit dan mengulik hingga kehidupan pribadi figur publik tersebut yang seharusnya bukan untuk konsumsi publik.

3. Berbelanja secara kompulsif

Orang yang mengidap sindrom pemujaan selebriti sering kali tidak berpikir panjang dalam membeli barang-barang yang berhubungan dengan idola mereka tersebut. Bahkan jika mereka tidak memiliki uang untuk membeli barang tersebut, para fans tidak segan melakukan cara-cara ekstrem, seperti mencuri.

4. Depresi dan kecemasan

Efek sindrom pemujaan selebriti terakhir yang mungkin terjadi di dalam fandom adalah depresi dan gangguan kecemasan yang artinya sudah sangat merusak mental seseorang. Orang dengan sindrom ini biasanya tidak percaya diri, termasuk karena bentuk tubuh atau wajah yang tidak mirip dengan sang idola.

Baca juga: Mengenal Musik Relaksasi yang Bisa Jadi Musik Pengantar Tidur

Fandom Kpop

Dunia KPop atau Korean Pop sudah makin mendarah daging di Indonesia. Penggemar K-Pop sudah bukan lagi spesifik pada usia dan jenis kelamin tertentu. Hal ini juga yang banyak memunculkan fandom K-Pop itu sendiri.

Lalu, apa itu fandom K-pop? Ini adalah kumpulan para penggemar yang menyukai kebudayaan populer yang berasal dari Korea Selatan. Di dalamnya, berisi informasi atau hanya sekadar foto dan video dari keseharian para idola.

Sayangnya, fandom K-Pop kadang sering tidak bisa dikontrol dengan baik. Mereka bisa "menyerang" orang lain saat idolanya diolok-olok. Bukan hanya itu, internal di anggota fandom juga tidak jarang berbeda pendapat hingga saling berselisih.

Di sisi lain, basis penggemar K-Pop tetap ada yang punya kebiasaan baik juga. Banyak dari mereka yang sering bahu-membahu untuk mengumpulkan donasi untuk mereka yang membutuhkan. Namun, belum banyak orang yang tahu soal ini karena tidak semuanya diuangkap ke khalayak ramai.

Baca juga: Genre Buku Bacaan Bagus yang Bisa Mengasah Otak

Catatan dari SehatQ

Semua yang berlebihan memang tidak baik, termasuk dalam memuja seseorang, bahkan kecanduan dan menutup mata dari kekurangan-kekurangannya. Bergabung dalam fandom memang sah-sah saja, asalkan Anda tetap lebih mementingkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang cara sindrom ngefans berat ini dan efeknya bagi kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

gangguan mentalkesehatan mentalmasalah kejiwaanpenyakit kejiwaan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved