Fandom adalah Komunitas Fans Berat pada Idola, Ini Penjelasan Ilmiahnya


Fandom adalah komunitas berisi para fans berat yang benar-benar merasa memiliki kedekatan emosional dengan sang idola. Apakah Anda salah satunya?

(0)
13 Nov 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Fandom adalah komunitas fans berat sosok idola, dan ternyata berhubungan dengan gangguan mentalFandom adalah kumpulan individu dengan perilaku ngefans berat yang membawa pro dan kontra
Fandom adalah sebutan bagi komunitas yang sangat mengidolakan seseorang maupun kelompok tertentu, misalnya band. Bahkan, perilaku komunitas itu terkadang dinilai berlebihan. Bahkan, para psikolog menganggap fandom menyiratkan kelainan mental yang disebut sindrom pemujaan selebritas (celebrity worship syndrome) atau populer disebut sindrom ngefans berat.Sebenarnya, fandom adalah istilah untuk menggambarkan komunitas yang dibangun atas dasar kesukaan terhadap hal tertentu, misalnya buku, aktor maupun aktris, grup musik, tim sepak bola, dan lain-lain.Beberapa orang mengenal fandom sebagai fans base, beberapa lagi menyebutkan sebagai fans culture. Sementara itu, orang yang tidak tergabung dalam fandom akan menganggap mereka sebagai geek.

Fandom adalah kondisi akibat celebrity worship syndrome, ini penjelasannya

Orang-orang yang bergabung dengan fandom biasanya bukan sekadar penggemar biasa, melainkan benar-benar merasa memiliki kedekatan emosional dengan sang idola. Mereka pun mewujudkan kecintaan itu dengan mengadakan acara rutin, seperti festival kostum.Melihat orang yang ngefans berat dengan sesuatu atau seseorang memang sudah sangat umum di tengah masyarakat. Namun, bukan berarti cinta buta ini boleh dibiarkan berlarut-larut, karena ternyata bisa mengganggu kesehatan mental Anda.
Fandom berisiko menimbulkan tidak percaya diri pada bentuk tubuh sendiri
Sindrom pemujaan selebriti alias celebrity worship syndrome adalah sebutan untuk kelainan perilaku obsesif-adiktif pada diri seseorang. Sindrom ini bisa terjadi pada setiap orang, tapi biasanya dialami oleh mereka yang mengidolakan selebriti, politisi, atau tokoh publik yang muncul di televisi maupun media massa lainnya.Menurut penelitian, sindrom pemujaan selebriti pada orang yang tergabung dalam fandom adalah 3 dimensi. Berikut ini penjelasannya.

1. Dimensi hiburan-sosial

Dimensi ini berhubungan dengan perilaku seseorang yang tertarik pada selebriti atau figur publik karena citra mereka yang ditampilkan di media. Citra ini membuat para penggemarnya memiliki kesamaan topik untuk dibicarakan atau dielu-elukan.

2. Dimensi intens-personal

Dimensi ini berkaitan dengan individu yang memiliki perasaan intensif dan kompulsif terhadap seorang selebriti.

3. Dimensi batas-patologis

Dimensi ini terjadi ketika seseorang tidak ragu menampilkan perilaku dan fantasi tak terkendali tentang selebriti yang dimaksud.Dalam sebuah riset di Inggris, sindrom pemujaan selebriti ini berhubungan erat dengan kondisi kesehatan mental yang kurang baik pada para penderitanya. Mereka cenderung mengalami kecemasan, depresi, stres tingkat tinggi, dan kurangnya kepercayaan diri terhadap bentuk tubuh sendiri.Sindrom ini banyak ditemukan pada orang dewasa, tapi tidak sedikit juga remaja perempuan yang berusia 14-16 tahun yang terkena sindrom ini. Penelitian yang sama juga mengungkap orang yang ngefans berat dengan sesuatu atau seseorang, memiliki sikap suka menyendiri dan senang berkhayal.

Pro dan kontra fandom

Tidak sedikit orang yang menganggap fandom sebagai saranan menyalurkan kesukaan terhadap seseorang atau sesuatu. Jika tidak sampai berlanjut menjadi celebrity worship syndrome, hal ini sebetulnya memiliki dampak positif bagi kesehatan mental, seperti tidak rentan stres, mendapat ajang sosialisasi, dan meningkatkan kepercayaan diri.
Fandom pun berisiko timbulkan perilaku belanja kompulsif
Sebaliknya, rasa ngefans berlebihan hingga menimbulkan justru memiliki dampak yang negatif bagi kesehatan mental Anda, seperti berikut ini.

1. Disosiasi

Disosiasi adalah adanya ketidaksesuaian antara pikiran, lingkungan, tindakan, hingga identitas diri. Dalam ilmu psikologi, gangguan identitas disosisiatif dikenal juga sebagai kepribadian ganda yang biasanya terjadi pada orang dengan sindrom pemujaan selebritas level tinggi.

2. Perilaku menguntit

Sindrom ngefans berat dapat membuat seseorang tidak ragu untuk mengikuti para idolanya ke manapun mereka pergi. Bahkan, para fans ini suka menguntit dan mengulik hingga kehidupan pribadi figur publik tersebut yang seharusnya bukan untuk konsumsi publik.

3. Berbelanja secara kompulsif

Orang yang mengidap sindrom pemujaan selebriti sering kali tidak berpikir panjang dalam membeli barang-barang yang berhubungan dengan idola mereka tersebut. Bahkan jika mereka tidak memiliki uang untuk membeli barang tersebut, para fans tidak segan melakukan cara-cara ekstrem, seperti mencuri.

4. Depresi dan kecemasan

Efek sindrom pemujaan selebriti terakhir yang mungkin terjadi di dalam fandom adalah depresi dan gangguan kecemasan yang artinya sudah sangat merusak mental seseorang. Orang dengan sindrom ini biasanya tidak percaya diri, termasuk karena bentuk tubuh atau wajah yang tidak mirip dengan sang idola.

Catatan dari SehatQ

Semua yang berlebihan memang tidak baik, termasuk dalam memuja seseorang, bahkan kecanduan dan menutup mata dari kekurangan-kekurangannya. Bergabung dalam fandom memang sah-sah saja, asalkan Anda tetap lebih mementingkan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang cara sindrom ngefans berat ini dan efeknya bagi kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalmasalah kejiwaanpenyakit kejiwaan
Grinnell College. https://haenfler.sites.grinnell.edu/subcultural-theory-and-theorists/fandom-and-participatory-culture/
Diakses pada 1 November 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/sg/blog/in-excess/201307/celebrity-worship-syndrome
Diakses pada 1 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3960781/
Diakses pada 2 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait