logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

13 Faktor Penyebab Bullying yang Tidak Boleh Diremehkan

open-summary

Faktor penyebab bullying atau perundungan cukup beragam. Selain karena minimnya rasa empati, masalah ini dapat diakibatkan hubungan anak dengan orangtua yang buruk, memiliki saudara kandung yang abusif, hingga tidak percaya diri. Waspadalah, dampak buruk bullying bisa bersifat jangka Panjang.


close-summary

3.83

(6)

12 Mei 2022

| Fadli Adzani

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Haus akan kekuasaan dan pernah alami kekerasan dapat menjadi penyebab bullying yang harus diperhatikan.

Ada banyak penyebab bullying yang harus diwaspadai, salah satunya haus akan kekuasaan.

Table of Content

  • Apa penyebab bullying yang perlu diwaspadai?
  • Dampak buruk akibat bullying
  • Cara mengatasi bullying
  • Catatan dari SehatQ

Bullying atau perundungan adalah tindakan agresif secara fisik dan verbal yang dapat menyebabkan korbannya merasa tidak nyaman atau bahkan terluka. Salah satu cara untuk mencegah perilaku buruk ini adalah memahami penyebabnya. Kenali berbagai faktor penyebab bullying agar si kecil tidak menjadi pelaku atau korbannya.

Advertisement

Apa penyebab bullying yang perlu diwaspadai?

Faktor penyebab bullying bisa datang dari lingkungan sosial, keluarga, hingga diri sendiri. Sebelum terlambat, berikut adalah berbagai penyebab terjadinya bullying yang perlu Anda ketahui.

1. Pernah menyaksikan dan merasakan kekerasan

Pernah mengalami kekerasan dapat menjadi penyebab bullying
Pernah mengalami kekerasan dapat picu tindakan bullying

Orang yang pernah menyaksikan dan merasakan kekerasan di rumah lebih berisiko melakukan tindakan bully kepada orang lain.

Jika ada anak atau anggota keluarga yang melakukan bullying, jangan buru-buru menghakiminya. Cari tahu apakah mereka sedang memiliki masalah internal dengan keluarganya.

Apabila ini yang jadi penyebabnya, cobalah untuk memberikan mereka dukungan dan bimbingan.

2. Memiliki orangtua yang bersifat permisif

Orangtua yang bersifat permisif atau serba mengizinkan, dinilai menjadi salah satu alasan mengapa bullying bisa terjadi.

Sebab, orangtua dengan faktor bullying ini cenderung tidak membuat peraturan yang bisa mengawasi anak-anaknya sehingga mereka bebas melakukan apa saja, termasuk perundungan di luar rumah.

3. Kurangnya hubungan dengan orangtua

Memiliki hubungan atau komunikasi yang buruk dengan orangtua dipercaya dapat membuat seorang anak berisiko melakukan tindakan bullying.

Dengan memiliki hubungan yang erat dengan orangtua, si kecil diharapkan dapat memiliki rasa empati dan mengenal rasa kasih sayang. Dengan begitu, dirinya dipercaya tidak akan melakukan tindakan perundungan.

4. Memiliki saudara kandung yang abusif

Anak-anak yang memiliki kakak kandung abusif atau sering melakukan kekerasan fisik, cenderung akan mencontoh perbuatan saudaranya.

Ditambah lagi, faktor terjadinya bullying ini dapat membuat si kecil merasa tidak punya kekuatan.

Untuk mendapatkan kekuatan dan dominasi, akhirnya mereka melampiaskan kepada orang lain di luar rumah.

5. Tidak percaya diri

Anak-anak yang tidak percaya diri cenderung akan melakukan bullying. Sebab, tindakan ini dapat membuat mereka merasa memiliki kekuatan dan dominasi.

Tidak hanya itu, anak-anak yang tidak percaya diri ini juga cenderung berbohong mengenai kemampuan dirinya, demi menutupi rasa kurang percaya diri yang mereka miliki.

6. Kebiasaan mengejek orang lain

Kebiasaan mengejek orang lain dinilai sebagai faktor penyebab bullying menurut para ahli. Ejekan ini dapat mengarah pada penampilan, kemampuan, ras, budaya, dan gaya hidup orang lain.

Penindasan yang dilakukan oleh pelaku bullying ini sering kali datang dari rasa takut atau kurangnya pemahaman terhadap lingkungan di sekitarnya.

7. Haus akan kekuasaan

Haus akan kekuasan bisa menjadi penyebab bullying
Haus akan kekuasaan, penyebab bullying yang harus diwaspadai

Anak-anak yang selalu haus akan kekuasaan dan terus ingin memegang kontrol juga cenderung melakukan tindakan bullying.

Mereka hanya mau bekerja sama jika yang orang lain mengikuti peraturan yang dibuatnya. Jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencananya, maka mereka dapat mulai melakukan tindakan bullying.

8. Ingin menjadi populer di lingkungannya

Anak-anak yang ingin dikenal atau menjadi populer di lingkungannya dinilai berisiko melakukan tindakan bullying.

Mereka akan menunjukkan sifat ingin memerintah, mengontrol, dan menuntut teman-temannya demi popularitas dan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

9. Tidak dibekali pendidikan empati

Minimnya bekal pendidikan empati dapat menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya bullying.

Tanpa empati, anak tidak bisa atau bahkan tidak mau mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Mereka pun bisa menyalahkan korban-korbannya.

Kurangnya rasa empati ini dapat membuat anak-anak merasa bahwa tindakan bullying-nya hanyalah candaan semata, di saat orang lain merasa sakit hati akibat tindakan tak terpuji itu.

10. Tidak mendapatkan apa yang mereka mau

Di saat anak-anak tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka cenderung akan merasa frustrasi.

Sebagian anak dapat menerima situasi ini dengan lapang dada. Namun, beberapa anak tidak kuat menahan perasaan tersebut. Hasilnya, mereka dapat melakukan tindakan bullying demi kepentingan pribadi.

Umumnya, hal ini disebabkan oleh sifat perfeksionis. Sebagai orangtua, cobalah ajarkan kepada mereka bahwa segala sesuatu tidak harus menjadi sempurna.

11. Menggunakan kekuatan fisik untuk mengintimidasi

Tubuh besar dan fisik yang kuat dapat disalahgunakan anak-anak untuk mendapatkan apa yang mereka mau dengan cara bullying.

Mereka akan mengontrol situasi dengan membuat anak-anak yang lain merasa lemah.

12. Dorongan untuk bisa berbaur dengan teman-teman

Salah satu penyebab bullying di sekolah yang perlu diwaspadai adalah dorongan untuk bisa berbaur dengan teman-temannya.

Dorongan untuk berbaur ini dapat membuat anak melakukan berbagai cara agar bisa dikenal di sekolahnya, salah satunya menggunakan kekerasan dan melakukan tindakan bullying.

Sebenarnya, anak-anak yang melakukan bullying untuk berbaur dengan temannya dapat merasa tidak nyaman dengan perilaku buruknya. Hanya saja, mereka rela melakukannya demi bisa diterima teman-temannya di sekolah.

13. Minimnya perhatian sekolah terhadap fenomena bullying

Faktor bullying di sekolah yang tak boleh disepelekan adalah kurangnya perhatian sekolah terhadap fenomena bullying.

Faktor penyebab bullying menurut para ahli ini membuat siswa dan siswi menganggap bahwa tindakan bullying adalah hal yang biasa. Sehingga, mereka terus melakukannya di sekolah.

Untuk mengatasinya, peran guru dan pihak sekolah lainnya sangat diperlukan. Sekolah disarankan untuk menanggapi masalah bullying secara serius.

Dampak buruk akibat bullying

Dampak buruk akibat dari bullying tidak hanya dirasakan korbannya, tapi juga pelakunya. Berikut adalah penjelasan mengenai efek negatif dari tindakan perundungan.

Dampak buruk akibat bullying yang dirasakan korban:

  • Mengalami gangguan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, merasa sedih, dan kesepian.
  • Perubahan pola tidur dan makan
  • Berkurangnya ketertarikan untuk melakukan hobi atau aktivitas yang disenangi
  • Masalah kesehatan
  • Menurunnya performa akademis.

Dampak buruk akibat bullying yang dirasakan pelaku:

  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, terutama pada pelaku bully remaja dan dewasa
  • Rentan berkelahi, merusak properti, dan dikeluarkan dari sekolah
  • Berisiko melakukan hubungan seks di usia muda
  • Melakukan tindakan kekerasan.

Cara mengatasi bullying

Supaya tidak ada lagi korban perundungan di sekitar kita, Anda sebagai orangtua juga perlu memahami cara mengatasi bullying.

Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk menghentikan tindakan perundungan:

1. Berbicara dengan anak

faktor penyebab bullying
Anak korban perundungan perlu diberikan perhatian lebih.

Salah satu tindakan pertama yang perlu dilakukan untuk mengatasi bullying adalah berbicara dengan anak Anda.

Jika Anda melihat ada sesuatu yang tidak biasanya pada anak, cobalah ajak ia berbicara. Pasalnya, korban bullying sering kali tidak mau berbicara tentang pengalamannya ketika dirundung.

Perhatikan perasaan anak dan buat mereka tahu bahwa kedua orangtuanya sangat peduli kepadanya.

2. Menjadi panutan bagi anak

Supaya anak tidak menjadi pelaku bullying di lingkungannya, orangtua perlu menjadi role model atau panutan yang baik untuknya.

Pasalnya, pelaku bullying sering kali melakukan tindakan tak terpujinya itu karena melihat perilaku bullying di sekitarnya, entah itu dari orangtua, teman-teman, atau bahkan adegan-adegan film yang mereka tonton di televisi.

Cobalah berikan contoh perilaku sosial yang baik kepada anak-anak sejak dini. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat terhindar dari perilaku bullying ketika beranjak dewasa.

3. Mensosialisasikan dampak bullying kepada anak-anak

Adanya sosialisasi terkait dampak dan bahaya bullying menjadi salah satu kunci penting untuk menghentikan kasus perundungan di lingkungan.

Orangtua, guru, atau masyarakat secara umum perlu mensosialisasikan bahaya bullying dan tindakan apa saja yang termasuk dalam kategori bullying.

Selain itu, orangtua, guru, dan masyarakat secara umum disarankan untuk mengetahui cara merespons kasus bullying dan bagaimana cara mencegahnya agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan.

4. Jangan berdiam diri saat ada kasus perundungan di sekitar kita

faktor penyebab bullying
Orang di sekitar perlu membantu korban bullying

Terkadang, orang-orang di sekitar tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat tindakan bullying di sekitar. Jika terus dibiarkan, hal ini justru bisa membuat kasus bullying semakin marak.

Orangtua, teman-teman, guru, dan masyarakat secara umum perlu bergerak dan melakukan inisiatif ketika melihat kasus bullying di sekelilingnya.

5. Berbicara dengan pelaku bullying

Tidak hanya fokus kepada korban kita juga perlu berbicara dengan pelaku bullying untuk menghentikan tindakan perundungan.

Pelaku bullying umumnya melakukan tindakan tak terpuji ini karena tidak memiliki rasa empati atau memiliki masalah keluarga di rumah. Jika ini kasusnya, bantulah mereka untuk mengatasi masalah tersebut.

Selain itu, pelaku bullying juga perlu memahami bahwa tindakan mereka termasuk dalam kategori bullying. Kemudian, mereka juga harus tahu bahwa perundungan dapat membahayakan kesehatan mental dan bahkan fisik korbannya.

Baca Juga

  • Mengenal Mindful Parenting, Pola Asuh yang Bisa Perkuat Hubungan dengan Anak
  • Ini 6 Cara Mengatasi Bayi Cegukan dan Mencegahnya Datang Kembali
  • Bibir Bayi Kering Bikin Orangtua Khawatir, Ini 7 Cara Mengatasinya

Catatan dari SehatQ

Jika Anda memerhatikan adanya faktor penyebab bullying pada diri Si Kecil, janganlah menganggap enteng isu ini. Bantulah dia untuk bisa menghilangkan sifat bullying dan ajari mereka sifat empati.

Jika Anda khawatir dengan kesehatan anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!

Advertisement

tips parentingbullyingparenting stressanak sekolah

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved