Faktor pemicu bipolar adalah genetik, lingkungan, serta perubahan pada otak
Gangguan bipolar menyebabkan suasana hati, tingkah laku, dan energi seseorang berubah secara ekstrem

Istilah gangguan bipolar mungkin sudah tak asing lagi di telinga Anda. Penyakit mental ini bisa menyebabkan suasana hati, tingkah laku, dan energi Anda berubah secara ekstrem hingga membuat Anda tertekan serta mengganggu kehidupan.

Gangguan bipolar dipercaya memengaruhi otak penderitanya. Menurut National Institute of Mental Health, gangguan ini terjadi pada usia rata-rata 25 tahun. Tak ada penyebab tunggal yang diketahui, namun beberapa faktor bisa menjadi pemicu bipolar.

Faktor-faktor pemicu bipolar

Para ahli percaya bahwa berbagai faktor risiko bekerja sama untuk memicu penyakit mental ini. Adapun faktor-faktor pemicu bipolar yang perlu Anda ketahui di antaranya:

1. Genetik

Genetik dianggap berperan dalam gangguan bipolar karena kondisi ini cenderung diwariskan dalam keluarga. Jika orangtua atau saudara kandung Anda mengalami gangguan ini, maka Anda memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalaminya daripada mereka yang tak memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bipolar. 

Para ilmuwan percaya bahwa gangguan bipolar tak mungkin disebabkan oleh satu gen tunggal, melainkan beberapa gen yang berkontribusi. Kemungkinan gen dan lingkungan pun bekerja sama dalam memicu kondisi ini.

2. Lingkungan

Terkadang peristiwa yang menyebabkan stres atau perubahan besar dalam hidup, misalnya memiliki masalah medis atau kehilangan orang yang dicintai bisa memicu gangguan bipolar pada seseorang. Kondisi ini dapat menyebabkan perasaan gembira dan depresi yang berubah secara ekstrem pada orang dengan gangguan bipolar. 

Tak hanya itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa memicu gangguan ini. Diperkirakan 60% individu yang menderita bipolar bergantung pada obat-obatan atau alkohol. Orang dengan depresi musiman atau gangguan kecemasan juga lebih berisiko mengalami bipolar.

3. Perubahan pada otak

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat berinteraksi untuk menghasilkan fungsi abnormal sirkuit otak yang menyebabkan gejala gangguan bipolar, seperti depresi dan kegembiraan yang hebat. Suatu penelitian menjelaskan bahwa hormon esterogen memainkan peran dalam terjadinya bipolar pada wanita. Akan tetapi, masih dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memastikannya secara spesifik.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan gangguan bipolar. Akan tetapi, jika Anda memiliki faktor risiko dan khawatir terkena gangguan ini, maka Anda dapat berkonsultasi pada psikolog atau psikiater. Di sisi lain, Anda juga harus memerhatikan gejala bipolar yang mungkin terjadi.

Gejala gangguan bipolar

Terdapat dua jenis bipolar, yaitu bipolar 1 dan 2. Bipolar 1 adalah episode manik atau kegembiraan dan  bipolar 2 adalah episode depresi. Keduanya dapat terjadi bergantian atau bersamaan dalam satu waktu. Ketika berada dalam episode manik, Anda akan merasakan gejala gangguan bipolar seperti:

  • Berbicara dengan cepat
  • Kurang konsentrasi
  • Gairah seks tinggi
  • Berkurangnya kebutuhan waktu tidur, namun terjadi peningkatan energi
  • Meningkatnya impulsif

Sementara ketika mengalami episode depresi, gejala gangguan bipolar yang mungkin Anda rasakan antara lain:

  • Kehilangan energi
  • Merasa putus asa
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sifat lekas marah 
  • Sulit tidur atau terlalu banyak tidur
  • Berubahnya selera makan
  • Memikirkan kematian atau bunuh diri
  • Melakukan percobaan bunuh diri

Jika tak mendapat perawatan yang tepat, gangguan bipolar dapat menyebabkan masalah serius yang memengaruhi kehidupan Anda. Anda mungkin akan mengalami masalah terkait penggunaan narkoba atau alkohol, upaya bunuh diri, masalah hukum atau keuangan, serta hubungan maupun pekerjaan yang kacau.

Mendapat perawatan dengan segera sejak munculnya tanda paling awal dapat membantu mencegah gangguan bipolar memburuk. Selain menjalani perawatan bersama psikolog atau psikiater, Anda juga harus menghindari narkoba dan alkohol karena bisa memperburuk kondisi Anda.

Jika diresepkan obat-obatan, minumlah sesuai anjuran yang diberikan. Jangan menghentikan pengobatan atau mengurangi dosis sendiri karena bisa menyebabkan gejala gangguan bipolar semakin memburuk atau datang kembali. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk selalu berkonsultasi mengenai kondisi Anda tersebut.

Healthline. https://www.healthline.com/health/bipolar-disorder/bipolar-risk-factors#symptoms
Diakses pada 15 Juni 2020

WebMD. https://www.webmd.com/bipolar-disorder/guide/bipolar-disorder-whos-at-risk#1
Diakses pada 15 Juni 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955#:~:text=Risk%20factors,Drug%20or%20alcohol%20abuse
Diakses pada 15 Juni 2020

NCBI. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23510130/
Diakses pada 16 Juni 2020

Artikel Terkait