Tidak Semua Orang Bisa Menjalani Transplantasi Rahim, Ketahui Faktanya!

Transplantasi rahim dapat dilakukan dengan mengangkat rahim dan menggantinya dengan rahim baru
Perlu banyak pertimbangan dari Anda dan dokter untuk melakukan transplantasi rahim

Anda mungkin familiar dengan istilah transplantasi jantung, hati, maupun ginjal. Tetapi, apakah Anda pernah mendengar istilah transplantasi rahim?

Transplantasi rahim memang belum awam dilakukan di belahan dunia manapun karena tindakan medis ini sifatnya masih dikembangkan dalam penelitian. Meski demikian, hingga November 2019, tercatat sudah ada 20 bayi yang dilahirkan dari rahim hasil transplantasi di Swedia, Brasil, Tiongkok, Jerman, India, dan Amerika Serikat.

Fakta-fakta di balik transplantasi rahim

Teknologi mutakhir ini tentu terlihat seperti titik terang bagi para pasangan, terutama wanita, yang ingin segera memiliki momongan. Berikut fakta mengenai transplantasi rahim yang dapat Anda ketahui dan mungkin dijadikan referensi Anda dalam memiliki keturunan.

1. Tidak semua wanita bisa menjalani transplantasi rahim

Transplantasi rahim bukanlan prosedur kesehatan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jika Anda tertarik menjalani transplantasi rahim, ada beberapa persyaratan yang harus Anda penuhi, yaitu:

  • Wanita yang tidak memiliki rahim, baik karena bawaan lahir (kongengital) maupun saat rahim diangkat karena penyakit tertentu
  • Wanita yang memiliki rahim, tapi mengalami infertilitas
  • Berusia antara 20-35 tahun dengan kondisi ovarium normal
  • Memiliki indeks massa tubuh kurang dari 30
  • Tidak pernah menderita kanker, setidaknya dalam 5 tahun terakhir
  • Tidak pernah mengidap HIV, hepatitis B dan C, maupun penyakit menular seksual seperti klamidia, gonore, atau herpes
  • Tidak menderita diabetes
  • Tidak merokok.

Syarat tersebut di atas juga berlaku untuk orang yang ingin mendonorkan rahimnya. Bedanya, pendonor juga tidak boleh memiliki riwayat hipertensi.

2. Pendonor bisa masih hidup atau sudah meninggal dunia

Rahim yang akan didonorkan bisa berasal dari wanita yang masih hidup ataupun sudah meninggal dunia. Donor hidup harus setuju dengan sadar bahwa rahimnya akan diangkat untuk kemudian dipindahkan pada wanita lain.

Sama halnya dengan donor yang sudah meninggal, biasanya persetujuan dilakukan sebelum ia meninggal dunia sehingga rahimnya akan langsung diangkat sesaat setelah ia menghembuskan napas terakhir.

3. Persiapan berbulan-bulan

Setelah Anda dan donor setuju untuk melakukan transplantasi rahim, dokter akan melakukan persiapan jelang transplantasi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Pada kasus wanita di Sao Paulo yang melakukan transplantasi rahim karena tidak memiliki rahim akibat sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser (kongengital), ia harus menjalani tes praoperasi selama 4 bulan.

Dalam sebuah tes terkuak walaupun tidak memiliki rahim, wanita tersebut masih mempunyai ovarium atau indung telur yang berfungsi dengan baik, dan masih bisa memproduksi sel telur. Delapan sel telur ini dalam kondisi baik kemudian diambil melalui teknik in-vitro, dan disimpan serta disiapkan untuk disuntikkan ke dalam rahim setelah transplantasi nanti.

4. Operasi memakan waktu lebih dari 10 jam

Untuk melakukan transplantasi rahim, dokter membutuhkan waktu lebih dari 10 jam. Pasalnya dalam operasi ini, dokter harus menyambungkan pembuluh darah vena dan arteri, ligamen, serta saluran vagina dari rahim donor ke pasien penerima.

Setelah operasi, pasien penerima transplantasi rahim harus beristirahat setidaknya 8 hari untuk dipantau ada atau tidaknya penolakan tubuh pasien terhadap rahim donor. Selama di rumah sakit, pasien akan diberi obat pelemah sistem imun agar tubuh tidak terlalu resisten terhadap organ transplantasi tersebut.

5. Rahim baru mulai bekerja setelah 37 hari

Hanya 37 hari setelah menjalani transplantasi rahim, pasien mulai mengalami menstruasi. Ini menandakan organ reproduksinya mulai bekerja secara normal dan mengalami siklus kesuburan seperti halnya wanita normal yang tidak menjalani transplantasi rahim.

6. Fertilisasi dilakukan dengan teknik in-vitro

Meski rahim sudah berfungsi normal, pasien transplantasi rahim biasanya hanya boleh hamil dengan cara in-vitro atau bayi tabung. Sel telur disuntikkan ke dalam rahim 7 bulan hingga 1 tahun setelah transplantasi rahim dan wanita bisa langsung hamil setelahnya.

7. Bayi harus dilahirkan secara prematur

Bayi yang dikandung dalam rahim transplantasi harus dilahirkan saat usia kehamilan 34-36 minggu alias prematur. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi efek buruk dari obat pelemah sistem imun terhadap janin. Selain itu, melahirkan bayi dari rahim transplantasi juga hanya bisa dilakukan lewat operasi caesar.

8. Transplantasi rahim tidak permanen

Meski dilakukan dengan prosedur yang tidak mudah, rahim transplantasi tidak bisa menetap dalam tubuh wanita selamanya. Dalam kasus wanita di Sao Paulo tersebut, rahimnya bahkan langsung diangkat setelah ia melahirkan bersamaan dengan operasi caesar yang dilakukan untuk mengeluarkan si bayi.

Cleveland Clinic mencatat seorang wanita yang melakukan transplantasi rahim bisa melahirkan maksimal dua kali. Setelah itu, rahim harus diangkat kembali atau dibiarkan tanpa si pasien meminum obat pelemah sistem imun sehingga tubuh akan menolak rahim dengan sendirinya.

Bionews UK. https://www.bionews.org.uk/page_145998
Diakses pada 15 Desember 2019

Baylor Scott and White Health. https://www.bswhealth.med/Pages/departments/transplant/uterus-transplantation.aspx
Diakses pada 15 Desember 2019

CNN. https://edition.cnn.com/2018/12/04/health/uterus-transplant-deceased-donor-study/index.html
Diakses pada 15 Desember 2019

The Lancet Journals. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(18)31766-5/fulltext
Diakses pada 15 Desember 2019

Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/for-the-first-time-in-north-america-woman-gives-birth-after-uterus-transplant-from-deceased-donor/
Diakses pada 15 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed