Ereksi tahan lama hingga lebih dari 4 jam perlu penanganan medis dengan segera
Ereksi tahan lama tanpa adanya rangsangan seksual merupakan pertanda terjadinya priapismus

Ereksi terkadang menjadi dilema tersendiri bagi pria. Ada yang menginginkan ereksi tahan lama demi pengalaman seksual yang berkesan. Namun di sisi lain, ereksi tahan lama adalah mimpi buruk bagi orang yang menderita priapismus.

Pernahkah Anda mendengar istilah medis priapismus? Ini adalah kondisi ketika seorang pria ereksi tahan lama namun menyaktikan. Tidak tanggung-tanggung, ereksi bisa berlangsung selama lebih dari 4 jam!

Buruknya lagi, ereksi ini tidak terpicu karena rangsangan seksual. Justru, ini adalah kondisi medis yang perlu segera ditangani.

[[artikel-terkait]]

Mengapa ereksi tahan lama namun menyakitkan terjadi?

Ada tiga kategori priapismus yang bisa terjadi pada pria, yaitu:

  • Priapismus iskemik

    Ketika priapismus iskemik terjadi, aliran darah memenuhi penis dan tidak kunjung mereda. Biasanya, penderitanya akan merasakan nyeri karena ereksi tahan lama selama berjam-jam. Bagian batang penis akan terasa keras, namun ujungnya lembut.
  • Priapismus non-iskemik

    Berbeda dengan priapismus iskemik yang membuat penderitanya merasa nyeri, pada priapismus non-iskemik mereka tidak akan merasa sakit. Priapismus ini juga dikenal dengan high-flow priapism dan tidak terkait dengan aktivitas seksual. Cedera penis bisa menjadi pemicu terjadinya priapismus non-iskemik.
  • Priapismus intermitten

    Selain kedua kategori di atas, American Urological Association (AUA) juga merilis priapismus intermitten yaitu priapismus iskemik yang berulang dalam periode tertentu. Biasanya, priapismus yang berulang ini terjadi pada pria yang memiliki gangguan sel darah merah. Akibatnya, aliran darah di penis tersumbat dan membuat ereksi tahan lama dan menyakitkan. Perlu diambil langkah penanganan medis bagi orang yang menderita hal ini.

Siapa saja yang berisiko mengalami priapismus?

Idealnya, ereksi terjadi sebagai respons atas stimulasi fisik atau psikologis. Stimulasi inilah yang membuat aliran darah mengalir ke jaringan sponge di penis. Sebagai konsekuensinya, penis akan mengeras.

Priapismus adalah kondisi yang cukup langka. Penelitian mengestimasi setidaknya satu dari 100.000 pria sehat mengalami priapismus setiap tahunnya.

Priapismus terjadi ketika beberapa bagian dari sistem darah, saraf, atau otot manusia mengubah aliran darah. Akibatnya, ereksi tahan lama terasa menyakitkan.

Untuk itu, penting mengetahui siapa saja yang berisiko mengalami priapismus, di antaranya adalah pria yang:

  1. mengonsumsi obat-obatan untuk menangani penyakit mental seperti skizofrenia
  2. memiliki gangguan darah seperti leukemia, thalassemia, anemia sel sabit
  3. memiliki gangguan metabolisme seperti artritis gout dan amiloidosis
  4. mengonsumsi obat-obatan seperti kokain, mariyuana, dan alkohol
  5. mengonsumsi obat-obatan antidepresi seperti fluoxetine, bupropian, dan sertraline
  6. mendapatkan suntikan medis untuk menangani disfungsi ereksi (alprostadil, papaverine, phentolamine, dan lainnya)
  7. cedera di penis, panggul, atau perineum
  8. memiliki masalah neurogenic seperti cedera tulang belakang atau menderita sifilis
  9. menderita kanker yang berkaitan dengan penis
  10. faktor lain seperti gigitan laba-laba, kalajengking, atau gigitan serangga beracun lainnya

Selain kategori di atas, masih banyak hal lain yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya priapismus. Penderitanya harus segera mengambil langkah medis untuk menghindari komplikasi.

Darah yang terjebak di penis saat ereksi tahan lama ini akan kekurangan oksigen. Jika hal ini dibiarkan, darah minim oksigen ini bisa merusak jaringan di penis dan berujung pada disfungsi ereksi.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/priapism/symptoms-causes/syc-20352005
Diakses 13 Mei 2019

Med Safe. https://www.medsafe.govt.nz/Consumers/educational-material/Priapism.pdf
Diakses 13 Mei 2019

American Urological Association. https://www.auanet.org/guidelines/priapism-guideline
Diakses 13 Mei 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3921718/
Diakses 13 Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed