Seperti Apa Pengaruh Epilepsi Terhadap Tumbuh Kembang Anak?


Pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Pada kebanyakan kasus, epilepsi dapat menyebabkan anak memiliki gangguan belajar seperti sulit mengingat dan ketidakmampuan berpikir kritis.

(0)
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak sekolah sejak usia diniPengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak yang paling umum adalah masalah kognitif
Melansir laman Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, jumlah anak penderita epilepsi di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 660 ribu pada tahun 2015. Epilepsi itu sendiri adalah gangguan sistem saraf pusat yang menyebabkan seseorang mengalami kejang secara berulang. Sebagai penyakit yang menyerang sistem saraf dan otak, seperti apa pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak?

Pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak

Penyebab kejang pada anak belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa anak bisa memilikinya karena mengalami kerusakan otak akibat cedera, trauma, atau kondisi kesehatan lain yang memengaruhi otak. Gangguan ini dapat memengaruhi struktur atau aktivitas senyawa otak menjadi tidak normal.Gangguan kejang yang punya nama lain penyakit ayan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan. Akan tetapi, epilepsi bukan hanya tentang kejang. Banyak orang tidak menyadari bahwa epilepsi sangat berpengaruh pada tumbuh kembang sebagian anak.Lebih lanjut, bukan hanya kondisinya saja yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Proses pengobatannya pun dapat memengaruhi perkembangan maupun kegiatan sehari-hari anak.Berbagai hal tersebut dapat menyebabkan anak penyandang epilepsi mengalami masalah pembelajaran dan performa akademis di sekolah, yang terkadang bisa jadi lebih sulit untuk diatasi daripada kejang itu sendiri.Oleh karena itu, penting bagi para orang tua mengenali lebih jauh pengaruh dari penyakit epilepsi terhadap tumbuh kembang anak. Dengan begitu, Anda dapat memberikan pendampingan yang tepat untuk Si Buah Hati.

1. Gangguan perilaku

Beberapa pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang anak yang paling sering terlihat adalah  kurangnya antusiasme, masalah perilaku seperti ledakan emosi (anak lebih mudah marah), gangguan kecemasan, frustasi, perilaku impulsif, hingga keengganan untuk bersosialiasi karena malu atau merasa terisolasi dari teman sebayanya.Beberapa anak mungkin mengalami disorientasi setelah mengalami episode epilepsi, yang membuatnya tidak bisa mengenali keadaan sekitar, seperti orang, benda, waktu, dan tempatnya berada, hingga penurunan kesadaran.Pada beberapa kasus, depresi juga dapat menjadi salah satu pengaruh pada tumbuh kembang psikologis anak yang ikut berdampak pada perilakunya.Penyebab depresi pada anak pengidap epilepsi belum sepenuhnya dipahami. Namun, hal ini diduga disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.Depresi terkait epilepsi dapat terjadi sebelum, selama, atau setelah kejang, tapi paling sering terlihat di periode antara kejang.

2. Gangguan belajar

Episode kekambuhan epilepsi yang terjadi sangat sering, baik yang disadari maupun tidak, dapat memengaruhi perkembangan otak anak. Kerusakan pada bagian otak tertentu menyebabkan kesulitan belajar. Salah satu pengaruh yang paling jelas terlihat dari epilepsi pada tumbuh kembang kognitif anak adalah gangguan memori.Pasalnya, kejang epilepsi dapat mengganggu aktivitas otak normal yang dapat memengaruhi memori. Gangguan memori ini dapat berkisar dari konsentrasi yang buruk dan sulit mengingat. Semakin banyak kejang yang dialami seorang anak, semakin banyak informasi yang akan mereka lewatkan.Sebagai contoh, jika seorang anak mengalami ratusan kali serangan kejang yang membuatnya tidak sadarkan diri pada siang hari, mereka akan kehilangan banyak informasi baru.Sementara jika cenderung terjadi pada malam hari, kejang epilepsi dapat mengganggu proses penguatan dan penyimpanan memori jangka panjang dari informasi yang mereka dapat sepanjang hari.Selain itu, laman Learning Disabilities Association of America (LDAA) juga menyebutkan sekitar 40% anak berusia antara 4-15 tahun yang mengidap epilepsi juga memiliki satu atau lebih gangguan neurologis tambahan. Hal ini akan membuat kesenjangan dalam proses pembelajaran mereka.Pengaruh epilepsi yang paling umum pada tumbuh kembang anak adalah disabilitas intelektual (retardasi mental), ketidakmampuan berbicara dan berbahasa, gangguan belajar tertentu, seperti disleksia ataupun disgrafia, hingga kelemahan kognitif lainnya, seperti kesulitan memecahkan masalah, ketidakmampuan berpikir kritis, dan masalah kecepatan berpikir. Berbagai pengaruh ini bukan hanya bisa disebabkan oleh efek dari kekambuhan kondisinya saja. Beberapa obat antikejang untuk mengendalikan penyakitnya dapat menimbulkan efek samping yang berdampak pada kemampuan anak untuk berpikir, pemahaman, berbicara serta berbahasa, dan mengingat.Namun untuk beberapa anak, ingatan dan pemahaman mereka dapat meningkat ketika mereka mulai minum obat epilepsi.

3. Gangguan kesehatan fisik

Pada kebanyakan kasus, pengaruh epilepsi pada tumbuh kembang fisik anak tidak begitu terlihat.Beberapa anak penderita epilepsi tidak akan mengalami gejala fisik selain kejang, sementara yang lain mungkin akan sering mengalami kelelahan dan kekurangan energi karena gangguan tidur atau setelah pemulihan kejang.Obat-obatan seperti valproate juga dapat menyebabkan anak memiliki nafsu makan yang buruk.Sebagian anak dengan epilepsi mungkin sering tidak masuk sekolah karena episode kejang mereka rentan kambuh di siang hari atau karena mereka harus pergi ke dokter untuk berobat. Ini dapat berpengaruh pada proses pembelajaran mereka.

Langkah yang bisa dilakukan untuk mendampingi epilepsi pada anak

Seperti apa pastinya pengaruh dari epilepsi pada tumbuh kembang anak Anda mungkin akan sulit untuk diprediksi.Sebab, tidak semua kasus bisa menimbulkan pengaruh serupa pada terhadap setiap anak. Bagi beberapa anak, epilepsi tidak begitu berpengaruh pada tumbuh kembang dan keseharian mereka. Meski begitu, sebagai orangtua, Anda dapat membantu Si Kecil untuk menerima kondisinya dan membuatnya berpikiran lebih terbuka terhadap penyakit ini.Langkah yang dapat Anda lakukan di antaranya:
  • Jika dirasa sudah waktunya, Anda dapat mulai menjelaskan kepada anak mengenai epilepsi yang dialaminya. Beritahukan juga jenis-jenis obat yang perlu ia konsumsi.

  • Ketahui dosis, waktu pemberian, serta efek samping dari obat yang perlu dikonsumsi oleh Si Kecil. Berikanlah obat pada anak sesuai petunjuk dokter.

  • Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter, sebelum memberikan obat-obatan lain, untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan.

  • Bantu anak untuk menghindari berbagai pemicu kejang. Pastikan anak tidur cukup, karena kurang tidur bisa memicu kejang.

  • Pastikan kontrol ke dokter secara berkala.
Penting juga untuk mengajak anak rutin beraktivitas fisik. Epilepsi seharusnya tidak menghalangi anak untuk melakukan kegiatan fisik, seperti olahraga.Olahraga justru dipercaya baik untuk proses tumbuh kembang anak dengan kondisi ini karena kegiatan ini jarang memicu kejang. Kuncinya, jangan sampai membuat anak terlalu lelah dan dehidrasi hingga mengalami penurunan kadar gula darah.Jika kejang pada anak sudah terkontrol dengan baik, Anda mungkin tidak perlu membatasi kegiatannya. Hanya saja, Anda tetap perlu selalu memerhatikan keselamatannya.
tumbuh kembang anakperkembangan anakepilepsikejangmasalah sarafpenyakit otakanak sekolah
Epilepsy Society. https://www.epilepsysociety.org.uk/epilepsy-childhood
Diakses pada 21 Mei 2019
Epilepsy Action https://www.epilepsy.org.uk/info/education/learning-and-behaviour Diakses pada 1 Des 2020Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/epilepsy/seizures-and-epilepsy-in-children
Diakses pada 21 Mei 2019
Nationwide Children’s Hospital https://www.nationwidechildrens.org/family-resources-education/700childrens/2017/03/epilepsy-and-learning-disabilities-helping-children-at-school Diakses pada 1 Des 2020Universitas Gadjah Mada http://fk.ugm.ac.id/epilepsi-pada-anak/ Diakses pada 1 Des 2020LDAA https://ldaamerica.org/info/epilepsy-and-learning-disabilities/ Diakses pada 1 Des 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait