Endang Jamaludin, Runtuhkan Mitos Seputar Penderita HIV Lewat Berlari

Penderita HIV masih bisa aktif dan produktif, Endang Jamaludin buktinya
Endang Jamaludin, penderita HIV yang aktif berlari untuk menghilangkan diskriminasi terhadap ODHIV (sumber foto: dokumen pribadi Endang Jamaludin)

Stigma yang melekat kepada para penderita HIV, membuat tingkat diskriminasi terhadap kondisi mereka masih tinggi. Banyak orang masih mengira bahwa pengidap penyakit ini adalah orang-orang yang terbaring lemah dan bisa menjadi sumber penularan penyakit yang harus benar-benar dihindari.

Padahal, hal tersebut tidaklah tepat. Orang dengan HIV (ODHIV) masih bisa beraktivitas seperti biasa, tetap aktif dan produktif dalam berkarya dan bekerja. Seperti sosok seorang Endang Jamaludin.

Endang ingin menghapuskan diskriminasi terhadap penderita HIV

Endang adalah ODHIV. Berbeda dari stigma yang selama ini beredar di masyarakat, ia terlihat sehat dan aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan.

Dalam laman akun media sosialnya (@dankjoedien1989) yang sudah diikuti hampir 40.000 orang, Endang rutin membagikan keseharian serta komitmennya dalam menghapus diskriminasi bagi para penderita HIV. Ia pun aktif mengikuti berbagai lomba lari sambil terus mengkampanyekan kesetaraan untuk para ODHIV.

Endang memilih olahraga lari sebagai medium untuk meningkatkan kesadaran masyrakat seputar HIV dan ODHIV, bukan tanpa alasan. Ia mengungkapkan, lari adalah olahraga yang bisa dilakukan semua orang, kapan pun dan di manapun. Sehingga, olahraga ini bukan lagi sekadar tren, melainkan sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan orang banyak.

“Jadi, saya memanfaatkan event lomba lari yang selalu diikuti ribuan bahkan jutaan orang, untuk memunculkan isu #noldiskriminasi,” ungkap Endang. Yang dimaksud dengan #noldiskriminasi adalah nol diskriminasi untuk ODHIV.

Endang juga kerap mengikuti perlombaan lari sembari mengkampanyekan #runforzerodiscriminationPLWHIV. Tujuannya, untuk memberikan gambaran bahwa ODHIV sama seperti orang tanpa HIV, bisa sehat dan menjalani kehidupan seperti bekerja, menikah bahkan menorehkan prestasi seperti orang lain.

Dengan ARV, penderita HIV bisa terus sehat dan produktif

Tidak hanya dalam hal pekerjaan atau kehidupan sosial, diskriminasi atau stigma yang melekat di masyarakat juga terkadang membuat beberapa ODHIV urung pergi ke fasilitas kesehata,n untuk mendapatkan perawatan.

Padahal, dengan mengonsumsi obat antriretroviral (ARV) jumlah virus HIV di tubuh pengidapnya, bisa ditekan bahkan hingga dalam jumlah yang sangat rendah.

Menurut laporan perkembangan HIV-AIDS tahun 2017 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, jumlah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang sedang menjalani perawatan dengan ARV adalah sebanyak 91.369 orang. Sementara itu, jumlah ODHA yang tidak melanjutkan perawatan ARV atau putus obat adalah sebanyak 39.542 orang.

Berdasarkan data terbaru yang diambil dari laman situs Kementerian Kesehatan RI, dari 338.000 orang yang sudah positif HIV, baru sekitar 118.000 orang yang patuh minum obat.

Konsumsi obat ARV sangat penting untuk menekan jumlah virus di tubuh ODHIV, sehingga virus tersebut tidak terus mengganggu kerja daya tahan tubuh. Mengenai hal ini, Endang juga mengungkapkan hal yang serupa.

Ia mengatakan, sebenarnya untuk bisa tetap sehat, para ODHIV disarankan menjalani pola hidup sehat, mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, serta berolahraga. Anjuran ini sama dengan anjuran hidup sehat pada umumnya. Namun untuk ODHIV, ada anjuran lain yang harus dipatuhi.

“ODHIV juga harus menjalani pengobatan dengan terapi ARV yang baik dan benar, agar tidak akan ada masalah dengan kondisi kesehatannya,” imbuhnya.

Endang berharap, teman-teman ODHIV bisa lebih menerima status diri sebagai seseorang yang positif HIV. Sebab, ia berpesan, HIV bukanlah akhir dari segalanya. Pengobatan untuk infeksi virus ini, sudah tersedia.

Dengan menjalani pengobatan ARV yang baik, para penderita ODHIV bisa sehat dan menjalani kehidupan seperti orang lain. Endang menjelaskan, obat ARV bisa diperoleh di Puskesmas maupun rumah sakit terdekat. Tak hanya menyediakan obat ARV, para petugas di Puskesmas maupun rumah sakit akan membantu pasien dalam mendapatkan pendampingan dan informasi akurat tentang HIV dan AIDS.

Saat ini, pemerintah sudah menyediakan obat HIV di 7.000 Puskesmas Tanah Air. Masyarakat juga bisa menjalani pemeriksaan HIV di Puskesmas. Jadi, jika Anda atau orang terdekat mencurigai adanya infeksi HIV, segera jalani pemeriksaan, sebelum kondisinya bertambah parah.

Sementara itu, ODHIV yang baru menerima diagnosis maupun yang belum memulai perawatan, disarankan untuk segera mengonsumsi obat ARV. Dengan konsumsi yang tepat dan rutin, obat ini tidak hanya akan menekan jumlah virus di tubuh, tapi juga mencegah penularan HIV kepada orang lain.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.depkes.go.id/article/view/19071900001/kemenkes-fokus-temukan-penderita-hiv-untuk-diobati.html
Diakses pada 3 Desember 2019

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. https://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_HIV_AIDS_TW_4_Tahun_2017__1_.pdf
Diakses pada 3 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed