Emotional Blackmail, Ketika Anda Dipaksa Patuh untuk Memenuhi Keinginan Pasangan


Emotional blackmail adalah tindakan manipulasi yang dilakukan pasangan agar keinginannya terpenuhi, termasuk dengan memberikan tekanan dan ancaman. Dalam menghadapi situasi ini, Anda harus memutuskan apakah hubungan masih bisa dilanjutkan atau memang harus diakhiri.

0,0
Emotional blackmail adalah tindakan manipulasi yang dilakukan pasangan agar keinginannya terpenuhiEmotional blackmail seringkali melibatkan ancaman, entah secara langsung maupun tidak langsung
Menuntut pasangan untuk menjadi lebih baik lagi merupakan hal yang biasa terjadi di dalam sebuah hubungan. Namun, jika tuntutan disertai dengan ancaman untuk mendapatkan apa yang diinginkan, hal tersebut tidaklah wajar.Dalam hubungan, tindakan manipulasi ini dikenal dengan emotional blackmail. Tindakan yang masuk dalam bentuk kekerasan psikologis ini biasanya bertujuan untuk mengendalikan perilaku korban melalui cara-cara tidak sehat.

Tanda-tanda emotional blackmail dalam hubungan

Dalam beberapa kasus, manipulasi yang dilakukan pelaku seringkali membuat orang-orang tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi korban emotional blackmail. Berikut ini beberapa situasi yang dapat menjadi tandanya:
  • Pengorbanan dan kepatuhan hanya berjalan satu arah, di mana itu dilakukan oleh Anda.
  • Anda merasa terintimidasi atau terancam patuh terhadap perkataan maupun keinginan pelaku
  • Anda meminta maaf untuk perbuatan yang tidak dilakukan, seperti kemarahan tanpa sebab, perilaku negatif, hingga hari buruk yang dialami oleh pelaku.
  • Pelaku bersikeras untuk melakukan sesuatu sesuai cara mereka atau tidak sama sekali. Bahkan pelaku rela mengorbankan Anda agar keinginannya terpenuhi.

Bagaimana emotional blackmail bekerja?

Menurut terapis Susan Forward dalam buku berjudul “Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You”, disebutkan cara kerja emotional blackmail terbagi ke dalam enam tahapan. Tahapan-tahapan tersebut, di antaranya:

1. Tuntutan

Hal pertama yang selalu dilakukan pelaku emotional blackmail adalah tuntutan. Sebagai contoh, ketika melihat Anda sedang bermain dengan teman-teman atau sahabat, pelaku mungkin akan cemberut atau sinis waktu diajak bicara. Saat Anda bertanya alasannya, pelaku akan menyampaikan ketidaksukaannya, misal dengan mengatakan”Aku tak suka cara mereka memandangmu. Aku pikir mereka tidak baik untukmu”. Meski terlihat peduli, cara ini sebenarnya dilakukan untuk mengontrol pertemanan Anda.

2. Perlawanan

Pelaku akan berusaha sekuat mungkin supaya keinginannya terpenuhi. Sebagai contoh, saat pelaku meminta Anda untuk menjauhi orang tertentu tapi ditolak, ia kemudian akan melakukan perlawanan. Perlawanan yang dilakukan bisa dengan marah dan menjauh hingga tuntutannya terpenuhi.

3. Tekanan

Dalam tahapan ini, pelaku emotional blackmail akan menekan Anda untuk memenuhi apa yang ia inginkan. Beberapa pendekatan yang mungkin dilakukan mulai dari mengulangi tuntutannya, membuat mereka seolah-olah terlihat baik (contoh: ini demi kebaikanmu dan masa depan kita), merendahkan Anda, hingga berkata sesuatu seperti “jika kamu mencintaiku, maka lakukan yang kuminta”.

4. Ancaman

Emotional blackmail seringkali melibatkan ancaman, entah secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, Anda berniat untuk pergi keluar bersama teman-teman. Pelaku mungkin akan mengancam secara langsung dengan berkata “jika kamu tetap pergi, maka hubungan kita selesai sampai di sini”.Sementara itu, ancaman tidak langsung bisa berupa “jika kamu tak bisa tinggal bersamaku malam ini saat aku membutuhkanmu, mungkin orang lain akan melakukannya”. Meski tidak terlihat seperti ancaman, cara tersebut dilakukan pelaku untuk memanipulasi Anda.

5. Kepatuhan

Saat mulai lelah dengan tekanan dan ancaman, Anda pun akan mulai menyerah dan patuh terhadap tuntutan pelaku. Begitu keinginannya dituruti, ia lalu akan tampak sangat baik dan penyayang terhadap Anda.

6. Pengulangan

Ketika Anda mulai patuh, pelaku akan terus melakukan pengulangan agar tuntutannya selalu terpenuhi. Pola ini tentunya menjadi pertanda bahwa Anda sedang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Cara merespons emotional blackmail

Hubungan yang disertai dengan emotional blackmail tentu akan berdampak buruk terhadap psikologis korbannya. Untuk keluar dari hubungan tersebut, berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan:
  • Kenali semua jenis perilaku mengendalikan yang dilakukan oleh pasangan.
  • Pahami mengapa pola destruktif tersebut terjadi.
  • Tentukan apakah Anda dalam bahaya atau pasangan bisa berubah.
  • Jika dalam bahaya, carilah perlindungan dengan meminta bantuan orang lain.
  • Ambil tindakan untuk mengubah pola buruk tersebut atau mengakhiri hubungan.
  • Apabila hubungan berlanjut, buat perjanjian agar pola serupa tidak berulang. Jika berakhir, dapatkan kembali kebebasan Anda.

Catatan dari SehatQ

Emotional blackmail adalah tindakan manipulasi yang dilakukan pasangan agar keinginannya terpenuhi, termasuk dengan memberikan tekanan dan ancaman. Apabila berlangsung secara terus, hal tersebut dapat berdampak buruk bagi kondisi kesehatan mental korbannya.Dalam menghadapi situasi ini, Anda harus bisa memutuskan apakah hubungan masih dapat dilanjutkan atau memang harus diakhiri. Jika ancaman yang dilakukan mengarah ke tindakan fisik, segeralah meminta bantuan pihak berwajib.Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar masalah kesehatan, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
kekerasan
Healthline. https://www.healthline.com/health/emotional-blackmail
Diakses pada 3 Agustus 2021
Positive Psychology. https://positivepsychology.com/emotional-blackmail/
Diakses pada 3 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait