Efek Stres Saat Hamil dan Cara Mengatasinya yang Wajib Bumil Ketahui


Stres saat hamil terkadang merupakan hal yang normal terjadi. Namun, apabila terjadi secara berlebihan maka bisa memberi efek yang buruk pada kehamilan. Lantas, bagaimana mengatasinya?

(0)
04 Sep 2020|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Stres saat hamil dapat meningkatkan risiko keguguranStres saat hamil bisa menyebabkan ibu sakit kepala dan kelelahan
Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan oleh ibu hamil. Bumil harus tetap berpikiran positif dan menghindari stres agar kehamilan berjalan dengan sehat. Sebab, stres saat hamil dapat memberi efek yang buruk pada janin yang tengah dikandung dan tubuh ibu hamil itu sendiri.Kondisi ini umumnya terjadi pada kehamilan di trimester pertama. Meski terkadang stres saat hamil merupakan hal yang normal, kondisi tersebut juga bisa meningkatkan risiko komplikasi kehamilan tertentu bila terjadi secara berlebihan. Hormon kehamilan yang memengaruhi suasana hati dipercaya memicu terjadinya stres pada ibu hamil.

Penyebab stres saat hamil

Stres pada ibu hamil bisa disebabkan oleh satu atau beberapa faktor. Beberapa penyebab umum stres saat hamil, di antaranya:
  • Kehamilan tidak diinginkan atau direncanakan
  • Takut keguguran
  • Takut melahirkan
  • Gejala kehamilan yang tak nyaman, seperti mual, kelelahan, perubahan suasana hati, atau sakit punggung
  • Pengalaman buruk dengan kehamilan sebelumnya, seperti keguguran atau kematian janin
  • Takut merawat bayi
  • Masalah dalam hubungan, misalnya menjadi korban KDRT
  • Kesulitan keuangan
  • Terbebani oleh nasihat orang lain
  • Momen menyedihkan, misalnya kematian anggota keluarga
  • Penyalahgunaan narkoba atau alkohol
  • Kecemasan masa lalu, depresi, atau penyakit mental lainnya.
Jika Anda mengalami lebih dari satu hal di atas terjadi secara bersamaan, maka Anda berpotensi mengalami stres parah. 

Efek stres pada ibu hamil

Ketika mengalami stres, beberapa perubahan akan terjadi pada ibu, seperti detak jantung berdetak cepat, sakit kepala, perut tidak nyaman, menggeretakkan gigi, sulit berkonsentrasi, kelelahan yang berlebihan, sulit tidur, hilang selera makan atau makan berlebihan, suka menyendiri atau takut menyendiri, hingga merasa khawatir, frustrasi, marah, atau sedih.Selain itu, stres pada ibu hamil juga meningkatkan risiko terjadinya kondisi seperti berikut:

1. Keguguran

Sebuah tinjauan studi pada tahun 2017 menghubungkan stres prenatal dengan meningkatnya risiko keguguran. Para peneliti menemukan bahwa ibu hamil yang mengalami peristiwa buruk atau terkena stres psikologis dua kali lebih mungkin mengalami keguguran dini. Hal ini diduga terjadi karena tubuh memproduksi hormon kortisol selama stres mungkin saja turut masuk ke plasenta.Tak hanya itu, stres di tempat kerja juga bisa memicu keguguran. Jadi, penting untuk membuat penyesuaian kerja saat hamil, terutama jika Anda bekerja shift malam atau mengharuskan untuk bepergian.

2. Preeklamsia

Stres bisa saja memicu kenaikan tekanan darah pada ibu hamil. Tingginya tekanan darah saat hamil ini bisa memicu terjadinya preeklamsia pada ibu hamil. Kondisi ini harus segera ditangani karena jika tidak, preeklampsia dapat memicu terjadinya eklampsia dan komplikasi kehamilan berbahaya lainnya.

3. Diabetes gestasional

Stres saat hamil bisa memicu ibu hamil lebih ingin makan makanan manis sebagai ajang pelampiasan stres yang terjadi padanya. Saat hamil, kebiasaan konsumsi makanan manis dapat menyebabkan kelebihan berat badan dan meningkatkan risiko mengalami diabetes gestasional bila dilakukan terus-menerus.

4. Infeksi rahim

Ibu hamil stres dan menangis terus-menerus juga bisa meningkatkan terjadinya risiko infeksi dalam rahim (korioamnionitis). Kondisi ini merupakan efek samping dari komplikasi ketuban pecah dini pada ibu hamil.

Efek stres saat hamil pada janin

Tak hanya bisa memengaruhi Anda, janin pun dapat ikut terpengaruh. Berikut efek stres yang terkait dengan risiko pada kehamilan:

1. Kelahiran prematur dan berat lahir rendah

Sebuah studi kecil menghubungkan stres dengan kelahiran prematur (persalinan sebelum 37 minggu kehamilan). Studi tersebut menemukan bahwa stres dapat meningkatkan risiko ibu melahirkan bayi prematur yang mungkin juga memiliki berat lahir rendah. Bayi prematur cenderung mengalami keterlambatan perkembangan dan gangguan belajar. Ketika dewasa, ia juga lebih mungkin memiliki masalah kesehatan kronis, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

2. Gangguan tidur

Wanita yang mengalami stres selama mengandung lebih mungkin melahirkan bayi dengan gangguan tidur pasca lahir. Pasalnya, tingginya kadar kortisol atau hormon stres selama kehamilan mungkin saja masuk ke plasenta yang selanjutnya memengaruhi bagian otak yang mengatur pola tidur bayi.

3. Gangguan perilaku

Meningkatnya hormon kortisol pada ibu ternyata juga berdampak pada bayi setelah dilahirkan, yang menyebabkan bayi akan cenderung lebih rewel, mudah marah dan sulit tidur. Selain itu, sebuah jurnal menyatakan bahwa stres yang terjadi saat hamil memiliki resiko tinggi anak mengalami autis, hal ini disebabkan oleh karena terjadi perubahan gen ketika seorang ibu mengalami stres.Stres saat hamil juga bisa memengaruhi pertumbuhan janin dan lamanya kehamilan. Bahkan dalam beberapa kasus, efek stres pada ibu hamil bisa muncul bertahun-tahun kemudian setelah bayi dilahirkan. Sebuah studi pada tahun 2012 menunjukkan bahwa anak-anak lebih mungkin mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) akibat stres prenatal. 

4. Meningkatkan bayi lahir rentan dengan berbagai penyakit

Emosi dan stres berkepanjangan saat hamil bisa membuat bayi lebih berisiko terserang penyakit, termasuk jantung, tekanan darah tinggi, obesitas dan diabetes saat sudah beranjak dewasa.Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan pembuluh darah di dalam tubuh bayi menyempit dan aliran darahnya tidak lancar sehingga membuatnya kekurangan oksigen. Kurangnya pasokan oksigen ini membuat tumbuh kembangnya terganggu.

Cara mengatasi stres saat hamil

Agar terhindar dari masalah kehamilan, Anda harus belajar mengendalikan stres dengan baik. Ikuti cara mengatasi stres berikut ini:

1. Bicara dengan orang yang Anda percaya

Anda dapat berbicara dengan pasangan, orangtua, sahabat, dokter, terapis, atau ibu hamil lainnya mengenai kekhawatiran atau ketakutan yang Anda rasakan. Hal ini dapat membantu Anda merasa didengar dan merasa lebih baik, bahkan mungkin mendapat solusi atas permasalahan tersebut.

2. Melakukan relaksasi

Anda dapat melakukan prenatal yoga atau meditasi agar terbebas dari stres. Tarik napas dalam-dalam, dan pada setiap embusan napas buat pikiran menjadi lebih tenang. Bayangkan kehidupan menyenangkan bersama Si Kecil nanti. Ulangi latihan relaksasi ini beberapa kali.

3. Tidur dengan cukup

Tidur yang cukup dapat membantu Anda merasa lebih baik dan berenergi kembali. Lain halnya dengan waktu tidur yang sedikit, justru bisa memperparah stres yang Anda alami. Jadi, cobalah mandi air hangat, minum teh chamomile, atau mendengarkan musik yang menenangkan sebelum tidur untuk mendorong rasa kantuk agar tidur lebih nyenyak.

4. Berolahraga

Olahraga merupakan salah satu metode penghilang stres terbaik karena dapat meningkatkan hormon endorfin yang membuat Anda merasa nyaman dan menurunkan tingkat stres. Bumil bisa mencoba berenang atau berjalan-jalan sekitar 30 menit per hari. Namun, pastikan kondisi Anda aman-aman saja untuk melakukannya.

5. Makan dan minum dengan baik

Konsumsi makanan bergizi seimbang dan minum air putih dengan cukup supaya tubuh tetap berenergi dan tingkat stres menurun. Pastikan Anda memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuh maupun janin, tetapi jangan pula makan secara berlebihan karena bisa meningkatkan risiko obesitas.Selain beberapa hal di atas, Anda juga bisa berkumpul bersama keluarga atau sahabat, menonton film komedi, dan menekuni hobi, seperti menjahit, memasak, atau melukis untuk mengendalikan stres saat hamil.Jika Anda ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
hamilkehamilanstresmasalah kehamilanibu hamil
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/stress-during-pregnancy#treatment
Diakses pada 24 Agustus 2020
Nature. https://www.nature.com/articles/s41598-017-01792-3
Diakses pada 24 Agustus 2020
Pregnancy Birth Baby. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/stress-and-pregnancy
Diakses pada 24 Agustus 2020
What to Expect. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/ask-heidi/stress-during-pregnancy.aspx
Diakses pada 24 Agustus 2020
Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2016/06/160607220116.htm Diakses pada 17 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait