Efek Samping IUD, Pertimbangkan Sebelum Memilihnya

Pergeseran posisi merupakan salah satu efek samping IUD yang mungkin terjadi
IUD memiliki benang yang nantinya akan digunakan untuk mengeluarkan alat kontrasepsi ini

KB IUD (intraurine device) atau yang dikenal juga sebagai KB spiral adalah salah satu alat kontrasepsi yang memiliki tingkat efektivitas tinggi. KB spiral ini bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama dan efeknya tidak permanen. Tak heran jika penggunaan KB Spiral sangat populer dan diminati bagi Anda yang ingin merencakan kehamilan. Namun, meski efektif dan praktis, KB IUD juga memiliki efek samping, lho. Apa saja?

Apa itu IUD?

Sebelum mengetahui berbagai efek samping dari KB spiral, ada baiknya untuk memahami apa itu KB IUD. KB IUD adalah alat kontrasepsi yang berbentuk huruf T. Alat ini dipasang di dalam rahim melalui vagina. Setelah dipasang, IUD akan menahan pergerakan sperma agar tidak masuk ke sel telur sehingga tidak terjadi kehamilan.

Umumnya, IUD atau KB spiral dibagi menjadi dua jenis, yaitu KB spiral tembaga dan hormonal. Untuk KB spiral tembaga, sesuai namanya, dilapisi dengan sedikit tembaga untuk mencegah kehamilan. Sementara untuk KB spiral hormonal, menggunakan hormon progestin yang dapat mencegah kehamilan. Kedua kontrasepsi ini dapat digunakan dalam waktu yang lama. KB spiral dapat digunakan hingga 12 dan KB hormonal mulai dari 3 hingga 7 tahun.

Kelebihan lain dari KB IUD adalah sifatnya yang tidak permanen. Anda dapat kembali hamil ketika IUD dilepas. Oleh karena itu, IUD cocok sekali untuk Anda yang menginginkan kehamilan terencana.

Efek samping IUD

Meski terbilang praktis dan efektif dalam mencegah kehamilan, KB IUD juga memiliki efek samping yang wajib diperhatikan. Berikut efek samping yang bisa muncul setelah pemasangannya.

  • Siklus menstruasi yang tidak lancar

Siklus menstruasi Anda akan berubah setelah pemasangan IUD. Beberapa wanita melaporkan bahwa siklus menstruasi mereka jadi lebih panjang. Sementara wanita lainnya melaporkan siklus yang lebih pendek. Bahkan, tidak jarang yang melaporkan bahwa mereka tidak mengalami menstruasi sama sekali.

Di samping itu, kemungkinan besar Anda akan mengalami keputihan yang tidak wajar. Namun, Anda tak perlu panik, karena efek samping tersebut adalah efek yang umum muncul setelah pemasangan kontrasepsi spiral. Umumnya, kondisi ini terjadi pada tiga bulan setelah pemasangan. Setelah itu tubuh Anda akan beradaptasi kembali.

  • Rahim tertusuk

Karena bentuknya yang kecil dan seperti huruf T, KB spiral memiliki kemungkinan menusuk dinding rahim yang dapat menyebabkan perdarahan hingga infeksi. Kondisi ini juga dikenal sebagai perforasi uterus. Namun, kasus ini terbilang jarang terjadi.

Tetapi seandainya terjadi, segera konsultasi ke dokter untuk mengeluarkannya karena ada kemungkinan alat kontrasepsi berpindah tempat dan melukai organ lain. Dalam kasus yang parah, dibutuhkan operasi untuk mengeluarkan alat tersebut dari rahim Anda.

  • Kehamilan ektopik

Karena ada perubahan jalur sperma, ada kemungkinan penggunaan kontrasepsi spiral menyebabkan kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim. Sering kali terjadi di tuba fallopi.

Meski terbilang efek samping yang jarang terjadi, kehamilan ektopik adalah kondisi serius yang dapat mengancam nyawa dan harus segera ditangani oleh tenaga medis.

  • Perubahan hormon

Pemasangan IUD hormonal akan memengaruhi hormon yang ada di tubuh Anda. Akibatnnya Anda bisa merasakan nyeri payudara, kulit berminyak, mual, sakit kepala, sakit perut, dan gejala PMS yang lebih berat dari sebelumnya. Untungnya, hal ini akan terjadi di beberapa bulan setelah pemasangan saja. Namun jika gejala sangat mengganggu, lekas konsultasi dengan dokter.

  • Rasa sakit saat pemasangan

Memasukkan benda asing ke dalam vagina pasti selalu menyakitkan, apa lagi jika bentuknya tajam. Anda bisa merasakan nyeri saat proses pemasangan alat kontrasepsi. Makanya, tak heran beberapa orang membutuhkan anestesi lokal.

Rasa sakit dan tidak nyaman bukan hanya muncul saat pemasangan tapi juga sesudahnya. Anda bisa mengalami sakit kepala, nyeri perut atau kram, hingga perdarahan. Tetapi untungnya hal ini akan lewat dalam waktu beberapa hari saja.

Penyebab pergeseran KB spiral, salah satu efek samping IUD

Selain beberapa efek samping yang sudah di sebutkan di atas, IUD bergeser adalah salah satu efek samping yang sangat dikhawatirkan oleh banyak wanita.

Saat pemasangan IUD, dokter akan sengaja membiarkan 1 atau 2 benang menjuntai ke dalam saluran vagina. Tujuannya agar Anda bisa memeriksa dengan ujung jari apakah posisi benang masih tepat atau tidak. 

Jika Anda tidak dapat merasakan benang tersebut atau mencurigainya bergeser, tak perlu panik. Ada banyak wanita yang juga tidak bisa merasakannya. 

Beberapa kondisi yang membuat benang IUD tidak terasa meliputi: 

  • Benang yang dipotong terlalu pendek 

Potongan benang yang terlalu pendek bisa membuatnya tidak terasa ketika diraba.

  • Benang menggelung di samping leher rahim

Benang ini kadang bisa menggelung di samping leher rahim, atau bersembunyi di balik jaringan vagina. 

  • Lepasnya IUD

Meski tidak umum, tetap ada kemungkinan IUD Anda keluar dari uterus. Biasanya, kondisi ini terjadi pada tahun pertama pemasangan.

Namun jangan mencoba untuk kembali memasang IUD yang sudah lepas atau keluar. Segeralah ke dokter kandungan untuk mengatasinya.   

Tanda-tanda IUD yang bergeser dari posisinya

Setelah mengetahui penyebab dari pergeseran IUD, Anda tentu juga harus mengenal tanda-tandanya agar lebih waspada.

Bagi wanita yang menggunakan IUD, disarankan untuk mengecek benang tiap bulan guna memastikan posisi IUD masih tepat atau tidaknya. Idealnya, Anda dapat melakukan ini setelah haid selesai dan dapat mengeceknya secara mandiri dengan memeriksa langsung masih terabakah benang tersebut saat Anda membasuh vagina. 

Saat IUD terlepas atau bergeser, Anda biasanya akan merasakan setidaknya satu perubahan ini saat mengecek benang:

  • Benang terasa lebih pendek dari biasanya
  • Benang teraba aneh posisinya 
  • Benang tidak berada di posisi seharusnya
  • Benang menghilang atau tidak terasa sama sekali

Dalam beberapa kasus, IUD yang lepas atau bergeser bisa menimbulkan gejala fisik yang meliputi:

  • Perdarahan hebat
  • Kram perut yang parah
  • Keputihan yang abnormal
  • Demam dan lelah (malaise)

Meski tidak selalu berbahaya, Anda tetap harus memeriksakan diri ke dokter jika merasakan IUD bergeser atau terlepas. Terlebih jika disertai dengan gejala fisik yang mengganggu. 

Apakah efek samping IUD yang bergeser memengaruhi risiko kehamilan?

Saat terjadi efek samping IUD, seperti IUD yang bergeser atau terlepas, risiko Anda untuk mengalami kehamilan yang tak diinginkan akan meningkat.

Tak hanya itu, kesehatan Anda dan janin bisa terganggu jika IUD masih di dalam uterus ketika Anda hamil. Kemungkinan untuk mengalami keguguran dan kehamilan ektopik pun turut meningkat. 

Untuk itu, penting bagi Anda untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila merasakan IUD bergeser atau terlepas. 

Cara mengecek benang IUD

Ikuti langkah di bawah ini untuk mengecek benang IUD dengan benar: 

  • Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
  • Duduk atau jongkok dengan posisi yang nyaman. 
  • Masukkan jari ke dalam vagina hingga menyentuh leher rahim (serviks). Leher rahim ini terasa keras dan kenyal, seperti ujung hidung Anda.
  • Jika Anda merasakan ujung benang di dalam serviks, berarti IUD masih berada pada tempatnya.

Bagaimana menangani IUD yang bergeser?

Penanganan untuk IUD yang bergeser atau terlepas bisa berbeda-beda dan tergantung penyebabnya. Namun bantuan dokter kandungan tetap dibutuhkan. Dokter biasanya dapat menganjurkan langah-langkah medis di bawah ini:

  • Menggunakan alat khusus

Jika IUD bergeser atau terlepas sebagian, dokter akan mengeluarkannya dengan sebuah alat khusus. Proses pengeluaran IUD umumnya cuma memakan waktu beberapa menit, dan tidak terlalu sakit.

Sebelum prosedur dimulai, dokter akan memasukkan obat misoprostol ke dalam vagina untuk mengurangi nyeri. Dokter juga mungkin memberikan ibuprofen untuk mencegah kram. Lalu dokter akan mulai membuka leher rahim Anda dengan alat bernama cocor bebek. 

Selanjutnya, dokter akan menggunakan sebuah alat khusus untuk menjangkau rahim dan mengeluarkan IUD. Banyak wanita yang langsung meminta pemasangan IUD baru setelah proses pengeluaran ini selesai. 

  • Tindakan bedah

Jika Anda mengalami perforasi, IUD harus dikeluarkan dengan tindakan bedah. 

Sama seperti alat kontrasepsi lainnya, penggunaan alat kontrasepsi IUD juga bisa menimbulkan risiko. Salah satu efek samping IUD adalah posisinya yang dapat bergeser atau IUD yang lepas.

Walau tidak selalu berbahaya, Anda sebaiknya segera membuat janji dengan dokter kandungan agar bisa kondisi IUD dapat diperiksa dan posisinya diperbaiki. Dengan ini, Anda pun terhindar dari komplikasi yang tidak diinginkan.

Healthline. https://www.healthline.com/health/birth-control/cant-feel-IUD-string
Diakses pada 24 Januari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322290.php#is-an-iud-likely-to-fall-out
Diakses pada 24 Januari 2020

Artikel Terkait