11 Efek Samping Antibiotik yang Patut Diwaspadai

(0)
21 Sep 2020|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Efek samping antibiotik ada yang umum maupun berbahaya.Efek samping antibiotik tak boleh disepelekan, karena ada yang bisa membahayakan kesehatan.
Efek samping antibiotik cukup beragam, mulai dari munculnya kondisi yang tergolong ringan hingga berbahaya. Efek samping ini sebaiknya perlu dipahami supaya Anda dapat membedakan mana kondisi yang perlu mendapatkan penanganan atau tidak.Antibiotik adalah golongan obat yang diresepkan dokter untuk mengatasi infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri di dalam tubuh.Sayangnya, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi akibat kinerja obat-obatan antibiotik di dalam tubuh kita. Apa saja efek samping antibiotik itu?

Efek samping antibiotik yang umum

Sebagian besar efek samping antibiotik memang tidak serius. Meski begitu, ada pula beberapa efek samping yang lebih parah, misalnya anafilaksis. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk mengetahui efek samping antibiotik agar tahu cara menghindarinya.

1. Masalah pencernaan

Masalah pada pencernaan, seperti mual, muntah, diare dan perut kembung, adalah efek samping antibiotik yang umum terjadi.Obat-obatan antibiotik makrolida seperti sefalosporin, penisilin, dan fluoroquinolon merupakan jenis antibiotik yang paling sering menyebabkan efek samping pada pencernaan.Tanyalah dokter apakah Anda harus mengonsumsi makanan terlebih dahulu sebelum meminum obat-obatan antibiotik. Sebab, efek samping antibiotik yang satu ini biasanya dapat diredam dengan mengonsumsi makanan sebelum meminumnya.

2. Sensitif terhadap cahaya

Sensitif terhadap cahaya atau photosensitivity adalah efek samping antibiotik yang juga umum terjadi. Kondisi ini dapat membuat cahaya terlihat lebih terang di mata Anda. Selain itu, photosensitivity juga dapat menyebabkan kulit lebih mudah terbakar.Umumnya, obat antibiotik yang menyebabkan Anda lebih sensitif terhadap cahaya adalah tetrasiklin. Cobalah gunakan tabir surya yang mengandung UVA atau UVB, serta memakai pakaian lengan panjang dan kacamata hitam saat keluar rumah di siang hari.

3. Demam

Demam merupakan efek samping antibiotik yang biasanya disebabkan oleh reaksi alergi. Umumnya, obat-obatan antibiotic, seperti beta-laktam, cephalexin, minocycline, dan sulfonamida, yang menyebabkannya.Efek samping antibiotik ini biasanya akan hilang dengan sendirinya. Namun, jika demam tidak kunjung mereda setelah 1-2 hari, tanyalah dokter apakah Anda boleh mengonsumsi acetaminophen atau ibuprofen untuk mengatasi demamnya.Jika demam sudah mencapai 40 derajat Celcius, atau ditemani dengan gejala ruam kulit dan sesak napas, segeralah datang ke dokter.

4. Infeksi jamur

Di saat obat antibiotik membunuh bakteri, infeksi jamur dapat terjadi. Sebab, obat-obatan antibiotik dapat membunuh bakteri baik yang memiliki tugas mencegah infeksi jamur dari tubuh.Hasilnya, infeksi jamur di vagina, mulut, hingga tenggorokan dapat muncul. Jika hal ini terjadi, segera datang ke dokter dan berkonsultasilah. Biasanya, Anda akan diberikan obat antijamur untuk mengatasinya.

5. Perubahan warna gigi

Beberapa jenis antibiotik, seperti tetrasiklin dan doksisiklin, dapat menyebabkan munculnya noda gigi permanen, terutama pada anak-anak (di bawah usia 8 tahun) yang giginya masih dalam masa pertumbuhan.Begitu juga dengan wanita hamil, efek samping antibiotik ini dapat terjadi pada gigi bayi nantinya. Itulah mengapa orangtua dan ibu hamil diwajibkan untuk berkonsultasi dulu pada dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan antibiotik, terutama tetrasiklin dan doksisiklin.

6. Reaksi alergi

Efek samping antibiotik dapat menyebabkan reaksi alergi
Efek samping antibiotik dapat sebabkan alergi
Reaksi alergi dapat disebabkan banyak obat-obatan, termasuk antibiotik. Beberapa reaksi alergi memang bersifat ringan, namun sebagian reaksi alergi dapat menyebabkan gejala yang lebih parah, misalnya sesak napas atau bahkan anafilaksis.Jika memang Anda memiliki alergi terhadap antibiotik, biasanya gejala-gejala akan muncul tepat setelah Anda meminumnya. Segera berkonsultasi ke dokter untuk meminta bantuan medis.Ingatlah, reaksi alergi merupakan efek samping antibiotik yang serius. Jangan pernah menyepelekannya.

7. Gagal ginjal

Para penderita penyakit ginjal, ada baiknya lebih berhati-hati dalam mengonsumsi obat antibiotik karena dianggap dapat merusak ginjal.Terutama pada orang lanjut usia yang fungsi ginjalnya sudah tidak optimal. Biasanya, dokter akan memberikan obat antibiotik dengan dosis yang lebih rendah untuk menghindari efek samping.Gagal ginjal adalah efek samping antibiotik yang serius. Berdiskusilah terlebih dahulu pada dokter jika Anda memiliki penyakit ginjal sebelum mengonsumsi antibiotik.

8. Perubahan pada darah

Beberapa obat antibiotik, seperti beta-laktam dan sulfametoksazol, dapat menyebabkan perubahan pada darah. Salah satunya adalah leukopenia yang menurunkan kadar sel darah putih di dalam tubuh sehingga infeksi lebih mudah menyerang.Selain itu, trombositopenia (kondisi menurunnya trombosit atau keeping darah), juga dapat terjadi. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan, memar dan lambatnya proses pembekuan darah.Bagi Anda yang memiliki sistem imun lemah, berkonsultasilah dulu pada dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan antibiotik.

9. Masalah jantung

Dalam kasus yang jarang terjadi, obat antibiotik juga dapat menyebabkan masalah jantung, seperti detak jantung tak beraturan hingga tekanan darah rendah.Kondisi ini biasanya disebabkan oleh jenis obat-obatan antibiotik eritromisin, ciprofloxacin, hingga terbinafine. Jika Anda mengidap penyakit jantung, beri tahu kondisi tersebut pada dokter supaya Anda dapat diresepkan obat antibiotik yang tepat.

10. Kejang

Efek samping antibiotik pun mampu menyebabkan kejang-kejang
Efek samping antibiotik harus diwaspadai
Kejang adalah efek samping antibiotik yang jarang terjadi, tetapi bukan berati Anda boleh menyepelekannya.Efek samping antibiotik ini biasanya disebabkan oleh jenis antibiotik ciprofloxacin, imipenem, cefixime, hingga cephaxelin. Jika Anda mengidap epilepsi atau pernah mengalami kejang sebelumnya, berkonsultasilah pada dokter sebelum mengonsumsi obat antibiotik.

11. Tendonitis

Tendonitis adalah peradangan pada tendon. Tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan otot ke tulang. Masalah ini juga bisa disebabkan oleh obat antibiotik seperti ciprofloxacin.Beberapa orang memiliki risiko tendonitis yang lebih tinggi, di antaranya:
  • Penderita gagal ginjal
  • Pernah melakukan transplantasi jantung, paru-paru, atau ginjal
  • Punya riwayat penyakit pada tendon
  • Mengonsumsi obat-obatan steroid
  • Lanjut usia (di atas 60 tahun).
Bagi Anda yang tergolong dalam kriteria di atas, berkonsultasilah pada dokter agar terhindar dari efek samping antibiotik.

Catatan dari SehatQ:

Berkonsultasilah dulu pada dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan apa pun, termasuk antibiotik. Sebab, dokter akan memberi tahu Anda dosis dan cara mengonsumsinya dengan tepat agar tidak terjadi efek samping.Beberapa efek samping antibiotik di atas tentunya tidak dapat diremehkan. Beragam kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kita harus tetap waspada dan selalu berkonsultasi pada dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun.
penyakitantibiotikalergi obat
Healthline. https://www.healthline.com/health/infection/antibiotic-side-effects
Diakses pada 7 September 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322850
Diakses pada 7 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait