Kebanyakan Makan Mie, Risiko 4 Penyakit ini Bisa Gentayangi Anda

(0)
Kebanyakan makan mie berisiko obesitas hingga darah tinggi.Semangkuk mie instan yang ternyata berisiko tinggi bagi kesehatan.
Anda belakangan ini merasa sudah kebanyakan makan mie? Jika ya, sebaiknya mulai rem kebiasaan itu.Membuat mie instan memang cepat dan mudah. Tak heran jika kudapan satu ini sering jadi solusi seketika tiap kali lapar melanda.Akan tetapi, segala sesuatu yang berlebihan akan membahayakan bagi tubuh.

Kebanyakan makan mie berisiko timbulkan berbagai penyakit

obesitas adalah efek kebanyakan makan mie
Tidak cuma obesitas, risiko diabetes pun meningkat
jika Anda kebanyakan makan mie instan
Mie instan adalah salah satu jenis makanan cepat saji yang berkalori tinggi. Selain itu, mie instan juga diolah dengan banyak kandungan garam, mecin, hingga pengawet dan pewarna.Masing-masing dari zat tersebut dapat berpotensi negatif pada kesehatan tubuh jika dikonsumsi terlalu banyak.Itu kenapa Anda akan cenderung lebih rentan terhadap risiko berbagai penyakit dalam jangka panjang akibat terlalu sering makan mie.Berikut penyakit yang muncul akibat sering makan mie instan.

1.Obesitas

Penelitian yang dilakukan The Korean Nutrition Society and The Korean Society of Community Nutrition menunjukkan, obesitas adalah salah satu akibat dari kebanyakan makan mie instan. Sebab, mie instan terbuat dari tepung terigu dengan kandungan kalori yang tergolong cukup tinggi.Berdasarkan perhitungan Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan, kandungan kalori satu porsi mie instan bisa mencapai 168 kcal.Namun, beda merk, ukuran penyajian, dan varian rasa mungkin mengandung jumlah kalori yang berbeda. Rata-rata kandungan kalori mie instan yang dijual di pasaran bisa berkisar antara 300-500 kcal ke atas.Menurut American Heart Association, makanan berkalori tinggi digolongkan sebagai makanan yang mengandung kalori sebesar 400 ke atas.Jika kita mengonsumsi makanan tinggi kalori tetapi tidak diimbangi dengan aktivitas fisik, kelebihan energi itu akan disimpan dalam bentuk lemak. Lemak inilah yang lama-lama menyebabkan obesitas.

2. Diabetes

Kebanyakan makan mie instan juga bisa memicu diabetes. Mie diketahui memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Di dalam tubuh, karbohidrat akan diubah menjadi glukosa.Oleh karena itu, orang yang mengonsumsi mie instan sebanyak dua kali atau lebih dalam seminggu lebih rentan terkena sindrom metabolik.Salah satu faktor pemicu sindrom metabolik adalah obesitas di bagian perut. Obesitas tadi erat kaitannya dengan kalori mie instan yang tinggi.Sebagian besar orang dengan sindrom metabolik tidak mampu menghasilkan insulin. Padahal, insulin bekerja untuk mengubah glukosa menjadi energi.Jika tubuh kekurangan insulin, gula darah pun meningkat dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

3. Stroke

Kebanyakan makan mie instan memicu timbulnya stroke. Kandungan mie instan yang menjadi pemicu stroke adalah garam atau natrium.Dalam satu bungkus mie instan terdapat kandungan natrium sebesar 1.722 gram atau sekitar 9-11 sendok makan.Jika kebanyakan makan mie instan, kadar natrium berlebih di tubuh akan menyerap air ke pembuluh darah dan membuat volume darah bertambah.Peningkatan volume darah ini membuat pembuluh darah bekerja  lebih kuat sehingga terjadi hipertensi.Pada kasus ini, hipertensi membuat darah di pembuluh darah membeku dan tersumbat. Hal ini menghalangi aliran darah ke otak dan menyebabkan stroke.

4. Asma

Kebanyakan makan mie instan berisiko menimbulkan serangan asma, yang dipicu oleh tingginya kandungan penyedap rasa monosodium glutamat (MSG).Penelitian yang dipublikasikan The Journal of Allergy and Clinical Immunology melaporkan, MSG mampu memicu serangan asma pada orang-orang yang sudah memiliki penyakit ini sebelumnya.Pada penelitian tersebut, penderita asma diuji coba dengan makanan yang mengandung MSG. Setelah 1 hingga 12 jam kemudian, mereka mengalami MSG symptom complex, asma, dan kombinasi keduanya.MSG symptom complex adalah keluhan yang muncul akibat kebanyakan asupan MSG, seperti setelah kebanyakan makan mie.Anda mungkin merasakan sakit kepala, berkeringat, kulit memerah, dan mual. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap kondisi ini.Batas konsumsi harian MSG yang diperbolehkan oleh European Food Safety Authority (EFSA) maksimal sebesar 30 miligram per berat badan.Jika seseorang memiliki berat badan 60 kilogram, asupan MSG hariannya hanya 1,8 gram atau 1.800 miligram.

Alternatif mie yang lebih sehat sebagai pengganti mie instan

mie shirataki sehat
mengganti mie instan dengan mie soba atau shirataki lebih sehat
Kebanyakan mie instan mengakibatkan berbagai macam penyakit. Akibat sering makan mie instan bisa membahayakan diri. Namun, berikut ini adalah pilihan pengganti mie instan dalam versi yang lebih sehat.

1. Mie shirataki

Mie shirataki berwarna putih, cenderung transparan, dan panjang. Mi jenis ini terbuat dari umbi konnyaku yang rendah kalori. Bahkan, dalam beberapa produk tertentu, mi shirataki tidak mengandung kalori sama sekali alias nol kalori.Mie shirataki kaya akan serat glukomanan, yang mampu menstabilkan gula darah dan mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Hal ini membuat kita makan lebih sedikit, sehingga kita tidak merasa perlu makan mie lebih banyak.Glukomanan adalah serat kental yang lama dicerna oleh tubuh. Oleh karena itu, gula darah pun tidak melonjak drastis dan nutrisinya lebih optimal diserap ke dalam tubuh. Artinya, Anda lebih bisa menghindari risiko penyakit dari kebanyakan makan mie instan.Glukomanan juga membantu menurunkan kolesterol dalam tubuh dengan mengeluarkan kelebihannya saat buang air besar.Maka itu, jumlah kolesterol yang terserap kembali di dalam darah jadi lebih sedikit. Glukomanan menurunkan kolesterol jahat (LDL) rata-rata sebesar 16 m/dL dan lemak darah dengan rata-rata 11 mg/dL.

2. Mi soba

Mie soba adalah terbuat dari tepung soba (buckwheat). Kalori mi soba lebih rendah daripada mie instan yang terbuat dari terigu, tapi kandungan serat dan proteinnya tetap terjaga.Dalam satu porsi mie soba matang seberat 56 gram, ada kandungan 7 gram protein dan 3 gram serat. Dalam 100 gram mie soba, kalorinya lebih rendah daripada mie instan, yakni berkisar 300 hingga 400 kalori. Soba memiliki indeks glikemik (GI) yang rendah sehingga tidak membuat gula darah melonjak drastis. Risiko kebanyakan makan mie pun berkurang sehingga mie ini cocok untuk penderita diabetes.Jurnal yang diterbitkan Multidisciplinary Digital Publishing Institute menunjukkan, konsumsi 40 gram soba per hari selama empat minggu mampu menurunkan kolesterol dan trigliserida.Mi soba juga mengandung senyawa bernama rutin yang dapat memperkuat dan meningkatkan kelenturan pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi tidak mudah menyempit dan terhindar dari penggumpalan darah.

3. Pasta gandum utuh

Dalam 340 gram pasta gandum utuh, terkandung 174 kalori 37 gram karbohidrat, dan 6,3 gram serat.Mie dari gandum utuh jauh lebih bergizi daripada mie terigu biasa yang memiliki kandungan dengan 221 kalori, 43 gram karbohidrat, dan 3 gram serat.Jumlah serat yang lebih banyak ini mampu memperlambat penyerapan gula dari saluran pencernaan. Gula darah pun tidak melonjak drastis. 

Catatan dari SehatQ

Kebanyakan makan mie meningkatkan risiko beragam penyakit. Pada dasarnya, asupan apapun yang dikonsumsi berlebihan membawa dampak buruk bagi tubuh.Namun jika Anda menyukai mie instan, hobi ini tetap dapat diakali. Selain memilih pengganti mie instan, risiko kebanyakan makan mie tetap bisa ditanggulangi dengan cara mengolah mie instan yang lebih sehat.Sebagai contoh, Anda bisa meracik bumbu mie instan sendiri dengan menggunakan kaldu ayam rendah garam.Tambahkan pula topping (isian) yang bergizi tinggi seperti sayur-mayur dan protein misalnya tahu, ikan, atau daging ayam. Dengan tambahan "lauk" sehat, risiko penyakit akibat kebanyakan makan mie dapat dikurangi.
bahaya msgobesitasbahaya mie instan
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5449380/
Diakses pada 31 Agustus 2020
Fat Secret. https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/indomie Diakses pada 31 Agustus 2020Heart. http://www.heart.org/idc/groups/heart-public/@wcm/@fc/documents/downloadable/ucm_466725.pdf\ Diakses pada 31 Agustus 2020NHS. https://www.nhs.uk/conditions/obesity/causes/
Diakses pada 31 Agustus 2020)
Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140812121642.htm
Diakses pada 31 Agustus 2020
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/metabolic-syndrome
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healhtline. https://www.healthline.com/nutrition/instant-noodles
Diakses pada 31 Agustus 2020
Heart. https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/sodium/sodium-and-salt
Diakses pada 31 Agustus 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/high-blood-pressure/art-20045868
Diakses pada 31 Agustus 2020
EFSA. http://www.efsa.europa.eu/en/press/news/170712
Diakses pada 1 September 2020
NCBI. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3312372/
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/chinese-restaurant-syndrome
Diakses pada 31 Agustus 2020
NCBI. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3312372/
Diakses pada 1 September 2020
Fat Secret. https://www.fatsecret.com/calories-nutrition/miracle-noodle/angel-hair-shirataki-pasta
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/shirataki-noodles-101
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healhtline. https://www.healthline.com/nutrition/gluten-free-pasta
Diakses pada 31 Agustus 2020
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/soba-noodles
Diakses pada 1 September
MDPI. https://www.mdpi.com/2072-6643/10/5/619
Diakses pada 1 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/potential-benefits-of-rutin
Diakses pada 1 September 2020
The Diabetes Council. https://www.thediabetescouncil.com/can-i-eat-pasta-if-i-have-diabetes/
Diakses pada 1 September 2020
Kementerian Kesehatan RI. http://promkes.kemkes.go.id/wp-content/uploads/pdf/publikasi_materi_promosi/Informasi%20CERDIK/5.%20Diet%20Seimbang_425x28.5mm.pdf
Diakses pada 1 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait