Efek Gas Air Mata dan Pertolongan Pertama yang Harus Dicatat

Tak jarang, gas air mata dimanfaatkan untuk mengendalikan kericuhan saat demonstrasi
Gas air mata kerap digunakan untuk membubarkan massa yang berpotensi ricuh saat demonstrasi

Aksi demo ribuan mahasiswa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, yang berlangsung Selasa, 24 September 2019, dikabarkan berakhir ricuh. Para aparat kepolisian terpaksa memukul mundur mahasiswa menggunakan semprotan gas air mata. 

Demikian pula dengan long march ratusan siswa STM di Rabu, 25 September 2019, kemarin. Untuk menghalau mereka, pihak kepolisian beberapa kali melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa.

Efek gas air mata memang tidak langsung berakibat fatal atau menyebabkan kematian. Namun pertolongan pertama jika terkena gas air mata patut diketahui agar dampaknya bisa segera dikurangi. 

Efek gas air mata pada manusia

Gas air mata sering digunakan oleh para aparat penegak hukum untuk mengendalikan kerusuhan atau membubarkan kerumunan yang berpotensi ricuh saat demonstrasi. Berdasarkan kandungannya, berikut tiga jenis gas air mata yang biasa digunakan:

  • Chloroacetophenone (CN)

CN merupakan gas air mata yang paling beracun. Bila konsentrasinya tinggi, gas air mata ini bahkan bisa memicu kerusakan lapisan mata. 

  • Chlorobenzylidene malononitrile (CS)

CS adalah gas air mata yang 10 kali lipat lebih ampuh dibandingkan CN, tapi lebih tidak beracun.

  • Dibenzoxazepine (CR)

Jenis CR adalah gas air mata paling ampuh. Namun bahan kimianya sangat stabil dan sifat beracunnya paling rendah.

Umumnya, para aparat kepolisian menggunakan gas air mata jenis CS dan CN untuk menghadapi massa demonstrasi yang agresif. Kedua jenis gas air mata ini dilepaskan dalam bentuk granat atau kaleng aerosol.

Efek ketiga gas air mata tersebut merupakan lakrimator dan bersifat iritan. Lakrimator berarti kelompok zat kimia yang bisa memicu mata berair. Sementara iritan berarti gas dapat mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Meski bersifat tidak mematikan, beberapa kandungan dalam gas air mata bisa beracun.

Dampak akan mulai timbul sekitar 30 detik setelah kontak pertama dengan gas air mata. Beberapa gejala yang muncul saat terkena gas ini meliputi: 

  • Sensasi panas seperti terbakar pada membran mukosa di mata, hidung, dan mulut, serta kulit.
  • Produksi air mata yang berlebihan.
  • Mata yang sulit dibuka.
  • Penglihatan kabur.
  • Kesulitan bernapas atau perasaan seperti tercekik.
  • Dada terasa sesak.
  • Sakit kepala.
  • Produksi air liur yang berlebihan.
  • Bersin-bersin.
  • Hidung beringus.
  • Batuk-batuk.
  • Mual.

Pertolongan pertama saat terkena gas air mata

Umumnya, gas air mata dilepaskan dalam bentuk granat yang ditembakkan dengan selongsong peluru kosong. Inilah alasan kenapa ada suara tembakan ketika gas air mata dikeluarkan. 

Jika mendengar suara tembakan tersebut, segera mendongak dan menjauhlah dari jalur granat gas air mata. Gas air mata juga sering meledak di udara dan melepas wadah logam yang akan memuntahkan gas. 

Wadah tersebut sangat panas, jadi jangan pernah menyentuhnya. Bila ada tabung gas air mata yang tidak meledak, Anda juga dilarang untuk mendekati, menyentuh, atau mengambilnya. Pasalnya, kaleng ini bisa saja meledak sewaktu-waktu dan menyebabkan cedera.

Anda juga bisa memperhatikan dan mengingat langkah-langkah di bawah ini apabila terkena gas air mata: 

1. Menjauh dari titik lokasi 

Hal pertama yang perlu Anda lakukan saat terkena gas air mata adalah menjauh dari titik pelepasan gas air mata. Jika Anda berada di luar ruangan, hindarilah asap gas yang mengepul. 

Apabila Anda berbaring di tanah, segera bangkit dan bergerak karena gas air mata dapat mengendap dalam lapisan permukaan yang tebal. Sementara jika Anda berada di dalam gedung ketika gas air mata ditembakkan, keluarlah secepat mungkin untuk mencari udara segar. 

2. Bilas mata dengan air bersih

Segera bersihkan mata dengan air bersih setidaknya selama 15 menit. Khusus bagi pengguna lensa kontak, lepaskan lensa kontak dan jangan memakainya lagi. 

Bagi Anda yang memakai kacamata, lepaskan dan cuci kacamata dengan air bersih dan sabun sebelum kembali menggunakannya. 

3. Pakai masker atau perlengkapan lain

Jika Anda tidak memiliki kacamata khusus pelindung bahan kimia atau masker gas, Anda dapat menghirup udara di dalam pakaian Anda. Misalnya, mengangkat bagian baju depan hingga menutupi hidung dan bernapaslah seperti biasa. Dengan ini, konsentrasi gas yang terhirup akan lebih rendah.

Namun jangan lakukan langkah tersebut apabila pakaian Anda sudah terkontaminasi partikel gas air mata. Gunakan kain lain untuk menutupi hidung Anda.

Pada korban gas air mata dengan gejala yang parah (seperti kesulitan bernapas), Anda mungkin membutuhkan pemberian oksigen. Dalam beberapa kasus, Anda juga bisa saja membutuhkan obat asma untuk membantu pernapasan.

Jika Anda tidak sengaja menelan senyawa iritan dari gas air mata, minumlah air sebanyak-banyaknya agar Anda bisa muntah. Kemudian, cari bantuan medis secepatnya.

4. Lepaskan pakaian Anda

Anda bisa melepaskan pakaian yang sudah terkontaminasi gas air mata. Bila Anda memakai kaus atau atasan yang tidak berkancing, potong bagian depan baju Anda agar Anda tidak perlu melepasnya lewat kepala.

Pasalnya, gas yang menempel pada baju Anda bisa menambah iritasi bila terhirup ketika pakaian dilepaskan.

Jika kondisi tidak memungkinkan Anda untuk melepas pakaian, tepuk-tepuk pakaian Anda sambil berdiri menghadap arah angin. Dengan begitu, partikel gas air mata yang menempel pada pakaian tidak terkena wajah dan mata Anda. 

5. Membasuh wajah 

Ketika sudah berada di tempat yang aman, Anda bisa membasuh wajah dan kulit dengan air bersih. Apabila tersedia sabun, gunakan untuk membersihkan wajah dan kulit dari partikel gas air mata yang masih menempel. 

Anda juga bisa melakukan tindakan pencegahan dengan merendam kain atau handuk kecil dalam jus lemon atau cuka. Lalu Anda cukup menyimpannya dalam kantong plastik dan membawanya ketika demonstrasi.

Bila menghadapi situasi penuh gas air mata, Anda dapat bernapas melalui kain tersebut selama beberapa menit. Langkah ini bisa menghalangi efek gas air mata untuk sementara agar Anda bisa menjauh dari titik lokasi atau mencapai tempat yang lebih tinggi. 

Catatan dari SehatQ

Menjauh dari titik lokasi pelepasan gas air mata, membasuh mata, wajah, dan kulit merupakan langkah pertolongan pertama yang perlu Anda catat saat terkena efek gas air mata. Jika memungkinkan, Anda dapat mempersiapkan dan menggunakan masker atau alat pelindung lainnya. 

Bila gejala terus berlangsung atau bertambah parah meski Anda sudah menerapkan langkah-langkah pertolongan pertama, segera cari bantuan medis.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15071820
Diakses pada 26 September 2019

How Stuff Works. https://science.howstuffworks.com/question340.htm
Diakses pada 26 September 2019

How Stuff Works. https://science.howstuffworks.com/tear-gas4.htm
Diakses pada 26 September 2019

Thought Co. https://www.thoughtco.com/what-to-do-if-exposed-to-tear-gas-604104
Diakses pada 26 September 2019

WHO. https://www.who.int/environmental_health_emergencies/deliberate_events/signs_symptoms_en.pdf?ua=1
Diakses pada 26 September 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed