Drop Out Dialami Anak, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?


Drop out tidak semata-mata dialami anak akibat masalah akademis. Orangtua sebaiknya mengenali berbagai faktor penyebabnya dan tidak langsung menghakimi anak.

(0)
13 Dec 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Drop out tidak seharusnya jadi alasan orang tua untuk menghakimi anakJangan langsung menghakimi anak ketika mengalami drop out
Drop out alias dikeluarkan dari sekolah bisa membuat anak sekaligus orangtua terpukul. Dengan mengetahui faktor penyebabnya, orangtua diharapkan bisa mengurangi kemungkinan anak putus sekolah serta efek negatif yang ditimbulkannya.Pemutusan hubungan studi atau drop out (DO) adalah pemutusan hak pelajar maupun mahasiswa berupa dihentikannya status sebagai peserta didik di sekolah atau universitas tertentu karena suatu sebab.Penyebab drop out ini bisa bermacam-macam, mulai dari faktor akademis hingga faktor internal berupa kesehatan mental anak.

Drop out bisa terjadi akibat kondisi ini

Gangguan kecemasan berisiko membuat anak di-DO
Ketika anak harus drop out dari sekolah atau universitas, jangan dulu menghakimi apalagi menghukumnya. Orangtua harus mengetahui penyebab DO ini sendiri terlebih dahulu, seperti:

1. Masalah akademis

Penyebab utama anak drop out tidak lain adalah persoalan akademis, seperti nilai ulangan yang selalu jeblok, IPK tidak memenuhi standar, hingga ketidakmampuan anak untuk memenuhi tuntutan kurikulum yang ditetapkan sekolah atau universitas.

2. Merawat keluarga

Sekitar 22% mahasiswa drop out atau tidak melanjutkan studinya karena harus merawat anggota keluarga yang sakit. Hal ini membuat mereka tidak mungkin lagi melanjutkan studi, baik secara fisik, emosi, maupun finansial. Apabila anak mengalami DO akibat alasan ini, tentu Anda tidak boleh serta-merta menghukumnya.

3. Kesulitan ekonomi

Bagi siswa atau mahasiswa dari kalangan ekonomi yang kurang mampu, drop out bisa terjadi karena mereka harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi finansial yang kurang bagus juga tidak memungkinkan mereka untuk membeli peralatan sekolah atau kuliah.

4. Penyalahgunaan narkoba

Bagi mayoritas sekolah, penyalahgunaan narkoba merupakan pelanggaran berat yang tidak bisa ditoleransi. Jadi, siswa atau mahasiswa yang terlibat harus dikeluarkan dari institusi pendidikan tersebut.

5. Masalah mental

Faktor internal dari anak pun bisa menuntunnya pada drop out. Menurut riset yang dipublikasikan American Psychological Association (APA), kondisi mental yang bisanya membuat anak didik dikeluarkan dari sekolah adalah gangguan kecemasan (41,6%), depresi (36,4%), dan faktor lainnya (35,8%).Tidak semua anak dengan masalah di atas pasti mengalami drop out. Hanya saja, faktor risiko tersebut sebaiknya diminimalisir oleh orangtua sehingga anak bisa fokus menyelesaikan studi, bahkan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Apa saja yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mencegah anak drop out?

Jadikan rumah sebagai tempat berlindung anak
Sebelum anak drop out, ada hal-hal preventif yang dapat dilakukan oleh orangtua, seperti:
  • Membangun komunikasi dengan anak. Dengarkan keluhan anak selama berada di sekolah, dan berikan pujian jika ia mencapai target tertentu.
  • Menjadikan rumah sebagai tempat berlindung anak. Jangan hakimi anak di rumah saat nilai ulangannya jelek atau tidak bisa mengikuti tuntutan akademis di sekolah.
  • Mendukung anak. Sebisa mungkin dukung semua kegiatan positif anak, mulai dari lingkaran pertemanannya, kegiatan ekstrakurikuler yang dipilihnya, hingga tempat les yang diinginkannya.
  • Memberi perhatian. Perhatian bukan hanya berbentuk materi, melainkan juga kepedulian yang menunjukkan orangtua tidak lepas tangan atas perkembangan anak.
  • Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Jika anak memperlihatkan gejala gangguan mental yang mengancam dirinya dikeluarkan dari sekolah, jangan ragu untuk mendampinginya ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Drop out bukan hanya terasa menyesakkan dada orangtua, tapi juga dapat mengganggu kondisi mental anak. Oleh karena itu saat anak dikeluarkan dari sekolah karena alasan apapun, orangtua wajib memastikan anak tidak mengalami gejala depresi.Jaga pola makannya dengan memberi makanan bergizi, pastikan anak tidur cukup, berolahraga, dan melakukan aktivitas yang positif. Jangan lupa juga untuk mendukung inisiatif yang dilakukan anak, selama itu positif. Termasuk jika ia ingin merawat orangtua, memulai bisnis, atau bahkan mengambil pendidikan jalur lain seperti kursus.Jika drop out terjadi akibat penyalahgunaan narkoba, anak harus diperiksakan ke dokter dan menjalani proses rehabilitasi. Jauhi juga ia dari pengaruh lingkungan, termasuk memotong rantai pertemanannya yang buruk dengan penyuplai barang haram tersebut.

Catatan dari SehatQ

Jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain dalam mengatasi masalah ini. Selain membawa anak berkonsultasi dengan dokter atau ahli kejiwaan, orangtua juga dapat melakukan hal yang sama karena drop out juga berisiko menimbulkan efek kejiwaan maupun penurunan kondisi fisik bagi siapapun yang mengalaminya.Setelah kondisi relatif tenang, Anda bisa mulai menyusun kembali rencana masa depan anak, terutama dari sisi akademis. Drop out bukanlah akhir dari dunia Anda dan buah hati Anda. Untuk berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater, Anda bisa melakukan booking secara online di SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentingdepresistrestumbuh kembang anakgaya parenting
AMN. https://amn.ac.id/page/detail/passing-out-drop-out-dan-pengunduran-diri
Diakses pada 3 Desember 2020
Community for Accredited Online Schools. https://www.accreditedschoolsonline.org/resources/preventing-students-dropping-out/
Diakses pada 3 Desember 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/two-takes-depression/202008/depression-and-school-drop-out-rates
Diakses pada 3 Desember 2020
Healthy Place. https://www.healthyplace.com/parenting/the-parent-coach/handling-child-dropping-out-of-college
Diakses pada 3 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait