Dispraksia, Gangguan Saraf Otak Penghambat Motorik Halus Anak

Kesulitan belajar yang dialami anak dapat mengindikasikan gangguan koordinasi perkembangan
Gangguan koordinasi perkembangan menyebab kesulitan belajar pada anak

Memerhatikan perkembangan motorik anak, baik motorik halus maupun kasar, sangat penting dilakukan oleh orangtua di tahun pertama kehidupan anak. Ketika anak tidak mampu mencapai milestone tertentu dalam rentang waktu yang telah ditentukan, maka anak bisa saja mengalami masalah tumbuh kembang yang dinamakan gangguan koordinasi perkembangan.

Gangguan koordinasi perkembangan atau dispraksia adalah kelainan pada sistem saraf otak yang mengakibatkan anak kesulitan mengembangkan kemampuan motorik halus maupun kasar. Mereka akan kesulitan melakukan gerakan-gerakan yang membutuhkan koodinasi otak dengan saraf motorik, mulai dari gerakan sederhana seperti melambaikan tangan, menyikat gigi, apalagi gerakan yang lebih kompleks seperti mengikat tali sepatu.

Anak dengan penyakit saraf ini akan terlihat seperti anak yang bodoh karena akan mengalami kesulitan belajar akibat kondisi tersebut, tapi sebetulnya tingkat intelegensi mereka tidak terpengaruh. Gangguan ini kemungkinan besar akan terbawa hingga si anak dewasa, namun terdapat beberapa jenis terapi untuk meringankan kesulitan motorik yang dialaminya.

Apa yang menyebabkan anak mengalami gangguan koordinasi perkembangan?

Melakukan gerakan yang membutuhkan koordinasi antara otak dengan saraf motorik memang merupakan proses yang kompleks bagi anak. Namun, penyakit saraf ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Hanya saja, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memperbesar anak terkena gangguan kordinasi perkembangan, di antaranya:

  • Bayi yang lahir belum cukup bulan (di bawah 37 minggu usia kehamilan).
  • Lahir dengan berat badan rendah (di bawah 1,5 kg).
  • Memiliki keluarga yang juga pernah mengidap gangguan koordinasi perkembangan.
  • Ibu kandung si anak kerap minum alkohol atau melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlarang ketika hamil.

Gejala gangguan koordinasi perkembangan berbeda-beda

anak bayi merangkak

Dispraksia bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Gejala yang diperlihatkan penderita penyakit gangguan saraf otak ini pun berbeda-beda, tergantung usia.

1. Bayi di bawah 3 tahun

Dispraksia di usia ini ditandai dengan ketidakmampuan anak untuk duduk, berjalan, berdiri, dan dilatih untuk buang air kecil/besar sendiri (potty trained).

Selain itu, anak juga sulit untuk bicara yang terlihat dari sulitnya ia mengulang kata-kata yang diucapkan orangtua, berbicara dengan sangat pelan, lambat ketika menjawab pertanyaan, memiliki kosakata sedikit, dan sebagainya.

2. Anak di atas usia 3 tahun

Anak seusia ini seharusnya sudah mulai bisa bersosialisasi dan senang mempelajari banyak hal. Namun, anak dengan dispraksia justru sulit berteman serta cenderung bergerak pelan atau ragu-ragu karena setiap perintah yang diterimanya dicerna secara lambat.

Selain itu, anak dengan dispraksia pada usia ini akan menunjukkan tanda, seperti:

  • Kesulitan melakukan gerakan yang melibatkan motorik halus, seperti mengikat tali sepatu dan mengancingkan baju, dan menulis.
  • Kesulitan melakukan gerakan yang melibatkan motorik kasar, seperti melompat, menangkap dan menendang bola, naik-turun tangga.
  • Kesulitan belajar, termasuk mempelajari hal-hal baru, misalnya mewarnai, menggunting kertas, bermain bongkar pasang.
  • Sulit memproses kata-kata yang diajarkan kepadanya.
  • Sulit konsentrasi, apalagi dalam waktu yang panjang.
  • Pelupa.
  • Ceroboh alias sering jatuh atau menjatuhkan sesuatu.

3. Menjelang remaja

Pertambahan usia anak tidak membuat gejala yang dialaminya membaik. Sebaliknya, ia justru akan menunjukkan gejala-gejala dispraksia sebagai berikut:

  • Menghindari kegiatan olahraga.
  • Bisa belajar dengan baik hanya secara privat.
  • Kesulitan dalam menulis dan mata pelajaran matematika.
  • Tidak bisa mengingat dan mengikuti instruksi.

4. Dewasa

Dispraksia pada orang dewasa akan memperlihatkan gejala, antara lain:

  • Postur tubuh tidak ideal dan sering merasa kelelahan.
  • Kesulitan melakukan pekerjaan yang mendasar, seperti menulis dan menggambar.
  • Kesulitan mengoordinasikan kedua belah badannya.
  • Bicara tidak jelas.
  • Ceroboh dan sering terjatuh atau tersandung.
  • Kesulitan mendandani diri sendiri, misalnya memakai baju, bercukur, menggunakan make-up, mengikat tali sepatu, dan lain-lain.
  • Gerakan mata yang tidak terkoordinasi.
  • Kesulitan membuat perencanaan atau mengeluarkan ide.
  • Tidak sensitif terhadap sinyal nonverbal.
  • Mudah frustrasi dan memiliki kepercayaan diri rendah.
  • Sulit tidur.
  • Sulit membedakan musik dan irama sehingga cenderung sulit menari.

Peneliti dari Universitas Bolton, Inggris, menggambarkan penderita gangguan koordinasi perkembangan ini sebagai orang yang menangkap perintah apa adanya. Mereka mungkin mendengarkan kata-kata orang lain, tapi tidak mengerti maknanya.

Bagaimana cara mengobati gangguan koordinasi perkembangan?

Gangguan koordinasi perkembangan bisa ditangani dengan terapi sensori integrasi jangka panjang yang melibatkan terapi fisik, terapi okupasi, program pembejalaran tertentu, dan latihan kemampuan sosial. Tujuan terapi ini adalah meningkatkan koordinasi saraf motorik halus dan kasar sehingga anak bisa menjalani aktivitas seperti anak-anak pada umumnya.

Terapi fisik mengajarkan anak cara koordinasi, keseimbangan, dan komunikasi yang lebih baik pada tubuh. Salah satu caranya, yaitu melibatkan anak dalam olahraga yang bersifat individu, misalnya berenang atau menggunakan sepeda roda tiga untuk mengasah skill motoriknya.

Sementara terapi okupasi juga bisa melibatkan terapis yang mendampingi anak ke sekolah untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapinya. Bila perlu terapis akan meminta guru atau kepala sekolah untuk mengizinkan anak belajar menggunakan telepon pintar atau komputer karena memiliki keterbatasan dalam kegiatan menulis.

Healthline. https://www.healthline.com/health/developmental-coordination-disorder
Diakses pada 13 September 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/151951.php
Diakses pada 13 September 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/developmental-coordination-disorder
Diakses pada 13 September 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/developmental-coordination-disorder-dispraksia/
Diakses pada 13 September 2019

Banner Telemed