logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Memahami Gejala dan Penyebab Dispraksia pada Anak Beserta Cara Mengatasinya

open-summary

Dispraksia adalah gangguan saraf motorik pada anak sehingga kesulitan mengembangkan kemampuan motorik halus maupun kasar. Kondisi medis yang juga dikenal sebagai gangguan koordinasi perkembangan ini dapat ditandai dengan tidak mampu untuk duduk, berjalan, sulit berteman, hingga kesulitan belajar.


close-summary

3.67

(9)

17 Mei 2022

| Asni Harismi

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Kesulitan belajar yang dialami anak dapat mengindikasikan gangguan koordinasi perkembangan

Gangguan koordinasi perkembangan menyebab kesulitan belajar pada anak

Table of Content

  • Apa itu dispraksia?
  • Penyebab anak mengalami gangguan koordinasi perkembangan
  • Gejala dispraksia pada anak sesuai usianya
  • Cara mendiagnosis dispraksia pada anak
  • Cara mengatasi dispraksia pada anak

Orangtua perlu memperhatikan perkembangan motorik anak, baik motorik halus maupun kasar, di tahun pertama kehidupan mereka. Ketika anak tidak mampu mencapai milestone tertentu dalam rentang waktu yang telah ditentukan, waspadai kemungkinan gangguan koordinasi perkembangan atau dispraksia (dyspraxia).

Advertisement

Apa itu dispraksia?

Dispraksia adalah gangguan saraf motorik pada anak yang menyebabkan kesulitan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus maupun kasar. Kondisi ini juga dikenal sebagai gangguan koordinasi perkembangan.

Penderitanya dapat kesulitan melakukan gerakan-gerakan yang membutuhkan koodinasi otak dengan saraf motorik, mulai dari gerakan sederhana seperti melambaikan tangan, menyikat gigi, hingga gerakan yang lebih kompleks seperti mengikat tali sepatu.

Anak dengan penyakit saraf ini dapat terlihat seperti anak yang bodoh karena mengalami kesulitan belajar akibat kondisi tersebut. Namun, tingkat intelegensi mereka sebenarnya tidak terdampak.

Dispraksia kemungkinan besar dapat terbawa hingga dewasa. Meski demikian, ada beberapa jenis terapi yang dapat membantu meringankan kesulitan motorik penderitanya.

Penyebab anak mengalami gangguan koordinasi perkembangan

Melakukan gerakan yang membutuhkan koordinasi antara otak dengan saraf motorik merupakan proses yang kompleks bagi anak.

Namun, penyakit saraf ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Hanya saja, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa membuat anak rentan terhadap gangguan kordinasi perkembangan, di antaranya:

  • Bayi yang lahir belum cukup bulan (di bawah 37 minggu usia kehamilan)
  • Lahir dengan berat badan rendah (di bawah 1,5 kg)
  • Memiliki keluarga yang juga pernah mengidap gangguan koordinasi perkembangan
  • Ibu kerap minum alkohol atau melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlarang ketika hamil.

Gejala dispraksia pada anak sesuai usianya

anak bayi merangkak

Dispraksia bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Gejala yang penyakit gangguan saraf otak ini pun berbeda-beda dan didasari oleh usia penderitanya.

1. Bayi di bawah 3 tahun

Contoh kasus dispraksia pada bayi di bawah 3 tahun dapat ditandai dengan ketidakmampuan untuk duduk, berjalan, berdiri, dan dilatih untuk buang air kecil/besar sendiri (potty trained).

Selain itu, penderitanya juga sulit untuk bicara, yang ditandai dengan kesulitan mengulang kata-kata yang diucapkan orangtua, berbicara dengan sangat pelan, lambat ketika menjawab pertanyaan, memiliki kosakata sedikit, dan sebagainya.

2. Anak di atas usia 3 tahun

Anak-anak di usia ini seharusnya mulai bisa bersosialisasi dan senang mempelajari banyak hal.

Namun, anak dengan dispraksia justru sulit berteman dan cenderung bergerak pelan atau ragu-ragu karena setiap perintah yang diterimanya dicerna dengan lambat.

Selain itu, anak dengan dispraksia pada usia ini dapat menunjukkan tanda-tanda, seperti:

  • Kesulitan melakukan gerakan yang melibatkan motorik halus, seperti mengikat tali sepatu dan mengancingkan baju, dan menulis.
  • Kesulitan melakukan gerakan yang melibatkan motorik kasar, seperti melompat, menangkap dan menendang bola, naik-turun tangga.
  • Kesulitan belajar, termasuk mempelajari hal-hal baru, misalnya mewarnai, menggunting kertas, bermain bongkar pasang.
  • Sulit memproses kata-kata yang diajarkan kepadanya.
  • Sulit konsentrasi, apalagi dalam waktu yang panjang.
  • Pelupa.
  • Ceroboh, misalnya sering jatuh atau menjatuhkan sesuatu.

3. Menjelang remaja

Pertambahan usia anak tidak membuat gejala yang dialaminya membaik. Sebaliknya, mereka justru dapat menunjukkan gejala-gejala dispraksia sebagai berikut:

  • Menghindari kegiatan olahraga.
  • Bisa belajar dengan baik hanya secara privat.
  • Kesulitan dalam menulis dan mata pelajaran matematika.
  • Tidak bisa mengingat dan mengikuti instruksi.

4. Dewasa

Dispraksia pada orang dewasa dapat ditunjukkan lewat sejumlah gejala berikut:

  • Postur tubuh tidak ideal dan sering merasa kelelahan.
  • Kesulitan melakukan pekerjaan yang mendasar, seperti menulis dan menggambar.
  • Kesulitan mengoordinasikan kedua belah badannya.
  • Bicara tidak jelas.
  • Ceroboh dan sering terjatuh atau tersandung.
  • Kesulitan mendandani diri sendiri, misalnya memakai baju, bercukur, menggunakan make-up, mengikat tali sepatu, dan lain-lain.
  • Gerakan mata yang tidak terkoordinasi.
  • Kesulitan membuat perencanaan atau mengeluarkan ide.
  • Tidak sensitif terhadap sinyal nonverbal.
  • Mudah frustrasi dan memiliki kepercayaan diri rendah.
  • Sulit tidur.
  • Sulit membedakan musik dan irama sehingga cenderung sulit menari.

Peneliti dari Universitas Bolton, Inggris, menggambarkan penderita gangguan koordinasi perkembangan ini sebagai orang yang menangkap perintah apa adanya. Mereka mungkin mendengarkan kata-kata orang lain, tapi tidak mengerti maknanya.

Baca Juga

  • Perbedaan Motorik Kasar dan Halus pada Anak yang Perlu Diketahui Orangtua
  • Sederet Latihan Koordinasi yang Mudah dan Menyenangkan bagi Anak
  • 4 Gangguan Bicara pada Anak yang Mungkin Terjadi

Cara mendiagnosis dispraksia pada anak

Untuk mendiagnosis gangguan motorik pada anak yang disebabkan oleh dispraksia, Anda memerlukan bantuan psikolog klinis, dokter anak, atau ahli terapi okupasi.

Saat melakukan diagnosis, psikolog, dokter anak, atau ahli terapi okupasi membutuhkan penjelasan mengenai riwayat perkembangan anak, perkembangan intelektual, hingga keterampilan motorik dan halusnya.

Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mencatat berbagai rincian di atas sebelum datang ke dokter untuk melakukan diagnosis dispraksia.

Tidak hanya itu, dokter yang mendiagnosis dispraksia juga perlu mengetahui kapan berbagai tonggak perkembangan anak, seperti berjalan, merangkak, dan berbicara berhasil dicapai

Baca Juga

Cara mengatasi dispraksia pada anak

Meskipun dispraksia tidak bisa disembuhkan, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu penderitanya menjalani hidup layaknya anak-anak normal.

Kabar baiknya, jika dispraksia didiagnosis lebih dini, maka hasil pengobatan dan penanganannya dapat menjadi lebih baik.

Berikut adalah sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi dispraksia:

1. Terapi okupasi

Terapi okupasi dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana seorang anak bisa melakukan kegiatan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.

Terapis yang memandu terapi okupasi akan membantu anak untuk mempelajari kemampuan tertentu guna mengatasi kesulitan yang mereka alami dalam melakukan aktivitas kesehariannya.

2. Terapi wicara dan bahasa

Seorang pemandu terapi wicara dan bahasa akan melakukan penilaian terhadap kemampuan penderita dispraksia dalam berbicara.

Setelah itu, terapis tersebut akan membuat perencanaan untuk membantu anak penderita dispraksia agar bisa berkomunikasi secara efektif.

3. Latihan persepsi motorik

Latihan persepsi motorik dilakukan guna meningkatkan kemampuan bahasa, visual, pergerakan, hingga pendengaran.

Dalam latihan ini, anak dengan dispraksia akan diberikan beberapa tugas secara bertahap yang tingkat kesulitannya dapat terus disesuaikan dengan kemampuannya.

Tujuan dari latihan persepsi motorik adalah menantang anak agar bisa melatih diri dan meningkatkan kemampuan motoriknya.

Meskipun menantang, Anda tidak perlu khawatir karena latihan persepsi motorik dipercaya tidak akan membuat anak frustrasi atau stres.

4. Bermain secara aktif

Sejumlah ahli percaya bahwa aktif bermain atau memainkan permainan apa pun yang melibatkan aktivitas fisik, dapat meningkatkan aktivitas motorik anak.

Ketika sedang bermain, anak dapat belajar mengenai lingkungan sekitarnya. Khusus untuk anak berusia 3-5 tahun, bermain adalah bagian penting dari perkembangan mereka.

Tidak hanya itu, bermain juga bisa meningkatkan kemampuan fisik, emosional, bahasa, kesadaran, hingga kelima indra mereka.

Semakin sering anak bermain secara aktif, kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan anak lain juga dapat meningkat.

Jika Anda ingin berdiskusi seputar dispraksia lebih lanjut,  tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

perkembangan anakgangguan koordinasi perkembangan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved