Pertengkaran orang tua yang terus-menerus bisa memicu disorganisasi keluarga
Pertengkaran orang tua bisa memengaruhi kondisi mental anak

Kondisi dalam keluarga yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya disebut sebagai disorganisasi keluarga. Biasanya, fungsi keluarga gagal tercapai atau keluarga terpecah karena beragam hal. Mulai dari ketegangan dan konflik antara suami dengan istri hingga orang tua dengan anak.

Dampak ketidakharmonisan dalam rumah tangga tersebut kemudian akan memengaruhi perkembangan anak dan akan terbawa hingga buah hati dewasa.

Apa saja penyebab disorganisasi keluarga?

Beberapa jenis pola hubungan di bawah ini umumnya dapat menyebabkan disorganisasi keluarga:

  • Orang tua yang mengalami masalah kecanduan

Adiksi bisa berupa kecanduan minuman keras, obat terlarang, belanja, judi, bahkan gila kerja. Bila terus berlangsung di depan anak, kondisi-kondisi ini akan sangat memengaruhi mereka.

  • Kekerasan fisik

Tidak jarang salah satu atau kedua orang tua menggunakan ancaman atau melakukan tindak kekerasan fisik sebagai cara mengontrol anggota keluarga, terutama anak.

Anak-anak yang pernah menyaksikan atau mengalami kekerasan dalam rumah tangga akan hidup dalam ketakutan. Kondisi ini tentu akan berpengaruh pada perkembangan mental mereka.

  • Eksploitasi anak

Tanpa sadar, orang tua bisa saja mengeksploitasi anak-anaknya dengan memperlakukan mereka barang miliknya. Kebiasaan ini menuntut agar anak merespons pada kebutuhan fisik atau emosional orang tuanya.

Padahal, orang tualah yang seharusnya mencukupi kebutuhan fisik atau emosional anaknya. Bukan sebaliknya.

  • Masalah finansial

Disorganisasi keluarga dapat terjadi ketika salah satu atau kedua orang tua tidak mampu mencukupi kebutuhan pokok, finansial, maupun emosional dari keluarganya.

  • Pola asuh otoriter

Salah satu atau kedua orang tua menerapkan pola asuh yang sangat otoriter terhadap anak. Orang tua seperti ini sering memegang teguh norma-norma tertentu. Misalnya, norma agama dan budaya.

Orang tua tipe ini akan menuntut anak-anaknya untuk senantiasa tunduk pada norma-norma tersebut tanpa pengecualian. Kondisi ini bisa memicu pemberontakan dari anak hingga berujung ada disorganisasi keluarga.

Dampak disorganisasi keluarga terhadap anak

Secara sistematis, pola-pola hubungan yang menyebabkan disorganisasi keluarga akan menimbulkan kekerasan atau pengabaian anak. Hal-hal yang umum dialami anak dalam keluarga yang tidak harmonis meliputi:

  • Dipaksa untuk memihak

Anak bisa dipaksa untuk memihak pada ayah atau ibu saat terjadi konflik di antara orang tuanya

  • Mengalami ‘reality shifting

Reality shifting adalah kondisi ketika apa yang dikatakan atau dipercaya bertentangan dengan kenyataan. Misalnya saat orang tua yang menyangkal kasus kekerasan dalam keluarga yang disaksikan oleh anak dengan menyatakan keluarganya baik-baik saja.

  • Pengabaian anak

Orang tua yang bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu urusan anaknya akan membuat sang anak merasa diabaikan, tidak dianggap, dan selalu dikritik. Orang tua juga tidak mempertimbangkan perasaan serta pemikiran mereka.

  • Sikap terlalu protektif yang mengganggu

Orang tua bisa saja terlalu protektif atau memiliki ikut campur yang berlebihan sampai mengganggu keleluasaan anak. Misalnya, hanya bisa memerintah tanpa memberikan alasan atau bimbingan yang memadai.

  • Pilih kasih

Pada orang tua yang gemar membanding-bandingkan anak dengan saudara-saudara kandungnya sendiri, anak akan merasa seolah-olah ditolak atau mengalami pilih kasih. Pola asuh seperti ini bisa membuat anak saling bersaing seumur hidup tanpa penyelesaian.

  • Kekerasan fisik

Anak bisa mengalami kekerasan fisik oleh orang tua, seperti ditampar, dipukuli, atau diusir dari rumah. Kondisi ini bisa membuat sang anak balas dendam dengan mempraktikkannya di luar rumah, misalnya melakukan bullying di sekolah.

Pengabaian dan kekerasan yang dialami oleh anak-anak akan menghalangi tumbuhnya kepercayaan diri dan perasaan berharga. Anak juga cenderung sulit memercayai orang lain dan tidak memiliki keyakinan pada dunianya.

Ketika dewasa nanti, anak-anak tersebut berpotensi memiliki masalah sikap dan perilaku, tidak mampu membuat keputusan yang baik, dan merasa tidak berharga. Masalah ini tentu akan menghambat pencapaian akademis, pekerjaan, dan relasinya dengan orang lain.

Cara mengatasi disorganisasi keluarga

Untuk mengatasi disorganisasi keluarga, Anda sebagai orang tua harus menyadari masalahnya terlebih dulu. Kemudian, Anda bisa menerapkan beragam langkah berikut:

  • Mulailah dengan berhenti mengomeli dan mengkritik anggota keluarga lain.
  • Orangtua perlu memberikan respons dengan sikap respek tanpa melangkahi batasan personal anak, terutama pada remaja. Dengan ini, anak akan cenderung berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
  • Orang tua mesti berusaha untuk mengurangi sikap overfocusing pada anak-anaknya. Fokus pada anak memang tak bisa ditinggalkan. Tapi orangtua perlu membagi perhatiannya pada relasi antara suami-istri supaya relasi intim dan harmonis tetap terjaga.
  • Hindari sikap menghakimi dan menyalahkan. Begitu juga dengan kebiasaan selalu ingin menyelamatkan, mengorbankan diri, maupun rela disalahkan.
  • Tetapkan batasan Anda dalam relasi antara anggota keluarga.
  • Hormati batasan dari anggota keluarga lainnya supaya Anda tidak terlalu ikut campur dalam urusan mereka.

Menjaga keharmonisan keluarga mungkin memang sulit. Menerapkan perubahan-perubahan tertentu perlu waktu dan komitmen yang besar. Anda perlu percaya bahwa dampak positif akan terjadi secara perlahan-lahan, tapi pasti.

Apabila disorganisasi keluarga terasa sudah tidak terbendung dan Anda maupun pasangan kewalahan dalam mengatasinya, mintalah bantuan dari tenaga profesional. Misalnya psikolog maupun psikiater.

UK Essays. https://www.ukessays.com/essays/sociology/the-history-of-the-family-disorganization-sociology-essay-php
Diakses pada 18 Mei 2020

Brown University. https://www.brown.edu/campus-life/support/counseling-and-psychological-services/dysfunctional-family-relationships
Diakses pada 18 Mei 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/counseling-keys/201712/the-key-fixing-dysfunctional-family
Diakses pada 18 Mei 2020

Artikel Terkait