Jangan Remehkan Dislokasi Siku, Kenali Penyebab dan Penanganannya!

Dislokasi siku merupakan salah satu cedera ekstremitas atas yang sering dialami setelah dislokasi bahu
Dislokasi siku merupakan salah satu cedera ekstremitas atas yang sering dialami

Dislokasi siku merupakan salah satu jenis cedera ekstremitas atas yang sering dialami setelah dislokasi bahu. Dislokasi siku terjadi pada 10-25% dari seluruh cedera pada siku. Kondisi ini terjadi ketika tulang pada lengan bawah (radius dan ulna) mengalami perubahan posisi terhadap tulang lengan atas (humerus). Dislokasi siku menyebabkan terjadinya gangguan pergerakan dalam menekuk dan meluruskan lengan bawah, juga gerakan supinasi dan pronasi (memutar telapak tangan ke atas dan bawah. 

Penyebab Dislokasi Siku

Penyebab dislokasi siku yang paling umum adalah trauma, seperti jatuh atau kecelakaan. Pada saat terjatuh, seringkali secara refleks seseorang akan menahan dengan tangan sehingga beban tersalurkan ke siku dan mendorong tulang lengan bawah keluar dari persendian.

Hal ini sering dialami pada olahraga yang mudah kehilangan keseimbangan, seperti gimnastik atau bersepeda. Dislokasi siku juga dapat terjadi pada anak-anak berusia di bawah empat tahun akibat tarikan pada kedua tangan anak. Anak-anak lebih rentan terkena dislokasi siku karena mereka memiliki ligamen yang kendur akibat tulang yang belum terbentuk sempurna.

Jenis Dislokasi Siku

Dislokasi siku dapat terjadi secara utuh atau parsial. Pada dislokasi siku utuh, seluruh permukaan sendi siku menjadi terpisah, sedangkan pada dislokasi parsial hanya sebagian permukaan sendi yang terpisah. Dislokasi parsial juga dikenal sebagai subluksasi.

Dislokasi siku utuh lebih mudah dikenali ketimbang dislokasi siku parsial. Pada dislokasi siku utuh, akan tampak deformitas pada lengan disertai rasa nyeri yang sangat hebat. Sebaliknya, dislokasi siku parsial terkadang sulit terdeteksi karena persendian akan tampak normal. Siku masih dapat digerakkan, tetapi disertai rasa sakit. Selain itu, dapat ditemukan memar pada siku bagian dalam maupun luar akibat robekan ligamen.

Penting untuk mengidentifikasi adanya cedera pada pembuluh darah dan saraf pada siku yang mengalami dislokasi dengan mengevaluasi denyut nadi pergelangan tangan dan rasa baal. Jika terjadi cedera pada pembuluh darah arteri, maka tangan akan terasa dingin saat disentuh dan berwarna putih keunguan. Hal ini dikarenakan aliran darah menuju tangan yang kurang.

Pada cedera saraf, sebagian atau seluruh lengan akan menjadi baal atau tidak dapat digerakkan. Pada kasus yang dicurigai terjadi dislokasi siku, akan dilakukan pemeriksaan rontgen siku untuk melakukan konfirmasi cedera.

Penanganan Dislokasi Siku

Dislokasi siku merupakan suatu kasus gawat darurat yang harus segera ditangani. Tujuan tatalaksana adalah untuk mengembalikan tulang pada posisinya dan mengembalikan fungsi lengan. Tatalaksana dapat dilakukan tanpa operasi maupun operasi bila diperlukan.

Penanganan dislokasi siku bergantung pada berat atau ringannya dislokasi yang dialami. Pada dislokasi sederhana yang tidak melibatkan cedera tulang berat, dapat dilakukan pengembalian posisi tulang pada sendi siku (reduksi) di instalasi gawat darurat dengan pemberian obat sedasi dan penghilang nyeri untuk mengurangi rasa sakit yang dialami.

Setelah itu, akan dilakukan imobilasi sendi siku selama 1-3 minggu, dilanjutkan dengan latihan gerak sederhana. Hal ini penting untuk mencegah keterbatasan gerak persedian apabila dilakukan imobilisasi terlalu lama. Dislokasi kompleks, di mana terjadi cedera tulang berat dan ligamen; serta dislokasi berat, di mana terjadi cedera pada pembuluh darah dan saraf.

Pada keduanya, dilakukan tindakan operasi untuk mengembalikan posisi tulang dan memperbaiki ligamen yang rusak. Apabila terdapat kerusakan pembuluh darah dan saraf, akan dilakukan reparasi pada bagian yang rusak. Dislokasi siku yang tidak diperbaiki dapat berdampak pada keterbatasan gerak sendi siku dan meningkatkan kemungkinan terjadinya peradangan sendi dini pada sendi tersebut. Pada dislokasi kompleks juga terdapat peningkatan risiko cedera kambuh dan instabilitas kronis pada siku.

Banner Telemed