Rahang Ternyata Juga Bisa Mengalami Dislokasi, Apa Penyebabnya?

Bergesernya sendi rahang dari tempatnya pada tulang tengkorak disebut sebagai dislokasi rahang
Dislokasi rahang dapat terjadi secara sebagian, utuh, unilateral, ataupun bilateral

Apakah Anda pernah memegang sendi rahang ketika sedang mengunyah makanan? Ketika membuka dan menutup mulut, Anda akan merasakan bahwa rahang bagian bawahlah yang bergerak, sedangkan bagian rahang atas tidak bergerak.

Sendi rahang terletak di area depan telinga dan sendi rahang memiliki nama khusus, yaitu sendi temporomandibula (temporo = temporal, tengkorak bagian telinga; mandibula = rahang bawah). Bergesernya sendi temporomandibula dari tempatnya dikenal dengan istilah dislokasi sendi temporomandibula (dislokasi rahang).

Sendi temporomandibula menghubungkan rahang bawah dengan tulang tengkorak, dan berfungsi seperti engsel pintu. Sendi ini memungkinkan rahang Anda untuk bergerak ke atas, ke bawah, dan ke samping kiri-kanan, sehingga Anda dapat berbicara dan mengunyah.

Tulang rahang bawah memiliki tonjolan di kedua sisi kiri dan kanan, tonjolan inilah yang masuk ke dalam cekungan di tulang tengkorak. Pada dislokasi, posisi tulang rahang bawah keluar dari cekungan dan tidak dapat kembali ke posisi normal (bayangkan engsel pintu yang terlepas). Dislokasi rahang bisa terjadi sebagian, utuh, unilateral (satu sisi) atau bilateral (dua sisi), akut, ataupun kronis.

Penyebab Dislokasi Rahang

Beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebab dislokasi rahang, antara lain:

  • Sendi atau kapsul ligamen yang longgar
  • Spasme otot penyokong sendi rahang
  • Radang pada sendi rahang yang menyebabkan perubahan bentuk
  • Umumnya terjadi pada usia 25-45 tahun, tetapi juga dapat terjadi pada usia lanjut
  • Perubahan struktur gigi. Sering terjadi setelah gigi dicabut atau gigi yang tanggal, terutama gigi geraham bagian belakang. Gigi geraham belakang dianggap sebagai penyangga struktur sendi rahang, sehingga tanpanya sendi rahang mudah bergeser.
  • Membuka rahang yang terlalu lebar dan dipaksakan, misalnya ketika tertawa, menguap, muntah, saat serangan kejang, atau dalam prosedur perawatan gigi. Menggigit terlalu keras juga dapat menyebabkan dislokasi rahang.
  • Beberapa penyakit juga dapat menyebabkan rahang rentan terdislokasi, seperti pada penyakit Parkinson, sindrom Ehler-Danlos, distonia wajah, dan sindrom Marfan.

Gejala Dislokasi Rahang

Gejala yang paling jelas dari dislokasi rahang adalah rahang tidak dapat dikatupkan. Rahang seperti terkunci setelah membuka mulut. Hal ini menyebabkan kesulitan berbicara, air liur mengalir keluar, dan bibir tidak dapat mengatup. Pada dislokasi rahang akut, dapat disertai rasa nyeri di sekitar telinga, tetapi kondisi kronis sering tidak disertai rasa nyeri.

Dislokasi rahang unilateral (satu sisi) menyebabkan dagu tampak miring atau asimetris. Pada perabaan di area depan telinga, dapat ditemukan area yang kosong karena tulang rahang sudah bergeser. Pada kasus kronis, dislokasi rahang menyebabkan kesulitan mengunyah, sehingga dapat ditemukan tanda-tanda malnutrisi. Kejadian dislokasi rahang dapat berulang pada 20% pasien.

Penanganan Dislokasi Rahang

Dislokasi rahang akut menyebabkan rasa sakit yang hebat, tapi relatif mudah untuk ditangani. Rahang yang bergeser dapat dikembalikan ke posisi semula secara manual. Pertama pasien akan diberi anestesi dan sedasi lokal, kemudian dokter akan mendorong rahang ke arah bawah dan belakang atas untuk mengembalikannya ke posisi semula.

Penanganan dislokasi rahang kronis dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap konservatif dan jika tidak berhasil, dilanjutkan dengan tindakan operasi. Tindakan konservatif mencakup dua hal berikut:

  • Suntikan agen yang menyebabkan sklerosis ke ruang sendi. Agen penyebab sklerosis memicu reaksi radang, dan kemudian diharapkan akan membentuk jaringan fibrotik yang kaku. Gerakan rahang juga harus dibatasi, sehingga rahang biasanya akan dibalut selama 3-4 minggu untuk meminimalisir gerakan.

  • Terapi konservatif yang baru adalah suntikan racun botulinum (botox) pada sendi rahang yang mengalami dislokasi berulang. Efek dari racun botulinum ini bersifat sementara, sehingga suntikan ulangan dibutuhkan untuk mendapatkan hasil maksimal. Suntikan botox efektif untuk pasien dislokasi rahang akibat kelemahan otot.

Jika terapi konservatif tidak berhasil, opsi lainnya yang dapat dilakukan adalah operasi.

WebMD. https://www.webmd.com/oral-health/guide/temporomandibular-disorders-tmd#1
Diakses pada April 2019

Sharma NK, et al. Temporomandibular Joint Dislocation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4668726/
Diakses pada April 2019

Prechel U, et al. The Treatment of Temporomandibular Joint Dislocation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5817180/
Diakses pada April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed