Di Samping Virus Corona, Ini Virus Lain Penyebab Pneumonia

virus penyebab pneumonia
Ada beberapa virus yang bisa menjadi penyebab pneumonia

Seiring dengan maraknya virus novel corona yang dikabarkan dapat menyebabkan pneumonia atau infeksi paru-paru, masyarakat mulai makin khawatir dengan keberadaannya. Virus novel corona merupakan salah satu jenis virus yang baru yang belum ditemukan vaksinnya.

Di samping virus corona, ada virus lain yang juga dapat menyebabkan pneumonia, yaitu virus pemicu severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS). Ketiga virus ini masih berasal dari keluarga virus yang sama.

 

SARS dan MERS juga dapat menjadi penyebab pneumonia

Pneumonia adalah kondisi saat paru-paru terinfeksi dan menyebabkan peradangan pada alveolus, yaitu tempat pertukaran udara. Ketika alveolus meradang, maka bagian dalamnya akan terisi dengan cairan atau nanah yang membuat penderitanya kesulitan untuk bernapas dan berpotensi mengancam nyawa. Selain sesak napas, gejala lain yang dapat ditimbulkan adalah:

  • Berkurangnya nafsu makan
  • Batuk berdahak
  • Sakit kepala
  • Nyeri dada
  • Berkeringat atau menggigil
  • Demam
  • Merasa lelah
  • Muntah atau mual

Sebenarnya, selain virus corona, SARS, dan MERS, bakteri, jamur, ataupun virus lainnya juga dapat menginfeksi paru-paru dan menimbulkan pneumonia.

Orang yang berusia lanjut, anak-anak, dan orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah sangat rentan mengalami pneumonia.

Kondisi pneumonia ini merupakan salah satu komplikasi yang dapat dialami ketika penderita virus corona, SARS, ataupun MERS tidak segera ditangani. Perlahan-lahan, penderita virus corona, SARS, atau MERS akan mengalami kegagalan pada fungsi paru-paru.

Perbedaan gejala antara SARS dan MERS

Keduanya dapat menjadi penyebab pneumonia dan berkerabat dekat. Lantas, apa perbedaan dari gejala yang dihasilkan SARS dan MERS? Anda dapat mengenali perbedaan dari kedua penyakit ini dengan mengetahui lebih jauh mengenai SARS dan MERS.

  • SARS

Severe acute respiratory syndrome atau yang dikenal dengan SARS merupakan gangguan pernapasan yang sangat menular. Serupa dengan virus corona, SARS juga berawal dari Cina pada tahun 2002.

Awalnya, SARS terlihat seperti flu biasa dengan gejala berupa menggigil, nyeri otot, sakit kepala, demam, dan terkadang, diare. Seminggu setelahnya, penderita SARS akan mengalami batuk kering, sesak napas, dan demam di atas 38 derajat celcius.

SARS dapat menular dengan cepat melalui kontak fisik dan udara. Saat penderita SARS bersin atau batuk, cipratan air liur tersebut dapat menjadi media bagi virus SARS untuk menginfeksi orang lain.

Jika tidak segera ditangani, SARS mampu menjadi penyebab pneumonia, masalah pernapasan, serta gagal pernapasan, hati, atau jantung.

Saat terjadi masalah pernapasan yang parah, penderitanya perlu menggunakan mesin yang membantu menyokong pernapasan.

  • MERS

Berbeda dengan SARS dan virus novel corona, MERS atau Middle Eastern respiratory syndrome muncul di Arab pada tahun 2012. Gejala dari MERS meliputi batuk, sesak napas, dan demam.

Beberapa penderitanya dapat mengalami gejala ringan yang menyerupai pilek atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Beberapa orang yang terjangkit MERS dapat mengalami muntah atau mual dan diare.

Biasanya, gejala MERS akan muncul dalam waktu lima atau enam hari sesudah seseorang terpapar virus MERS. Namun, terkadang tanda-tanda MERS bisa muncul dalam rentang waktu dua sampai 14 hari.

Jika tidak ditangani dengan segera, MERS akan makin lebih parah dan dapat menjadi penyebab pneumonia dan gagal ginjal.

Sama dengan SARS dan virus novel corona, MERS juga ditularkan melalui air dari batuk atau bersin penderita.

Mencegah SARS, MERS, dan virus corona

Ketiga penyakit yang mematikan ini belum ditemukan vaksin dan pengobatannya yang efektif, tetapi Anda dapat melakukan beberapa cara untuk mencegah terjangkit penyakit-penyakit tersebut, seperti:

  • Mencuci tangan dengan benar menggunakan air mengalir dan sabun selama setidaknya 20 detik
  • Hindari melakukan kontak atau berdekatan dengan orang yang sedang sakit
  • Hindari menyentuh hidung, mulut, atau mata sebelum mencuci tangan

Apabila Anda mengalami gejala-gejala seperti flu atau pilek yang tidak kunjung sembuh, makin parah, sehabis bepergian ke negara lain, ataupun sesudah melakukan kontak dengan orang yang sakit, segera periksakan ke dokter.

CDC. https://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/index.html
Diakses pada 28 Januari 2020

CDC. https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
Diakses pada 28 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/pneumonia
Diakses pada 28 Januari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sars/diagnosis-treatment/drc-20351771
Diakses pada 28 Januari 2020

WHO. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
Diakses pada 28 Januari 2020

Artikel Terkait