Diklaim Lebih Sehat, Bahaya Garam Himalaya Ternyata Tetap Mengintai

Bahaya garam himalaya tetap perlu diwaspadai karena picu penyakit jantung
Bahaya garam himalaya tidak jauh berbeda dari garam biasa

Banyak orang menganggap, garam himalaya lebih sehat dari garam biasa. Sebab, garam ini dinilai memiliki kandungan sodium yang lebih rendah dan jenis mineral di dalamnya lebih banyak. Padahal, belum ada penelitian yang bisa mengamini manfaatnya dan bahaya garam Himalaya pun ternyata tetap perlu diperhatikan.

Garam Himalaya adalah jenis garam yang berwarna merah muda samar. Berbeda dari garam biasa yang berasal dari laut, garam ini bersumber dari pegunungan di Pakistan. Warna merah muda pada garam ini bisa muncul karena kandungan zat besi oksida di dalamnya.

Dari sisi kandungan nutrisi, garam Himalaya sangat mirip dengan garam biasa yang Anda konsumsi. Jadi, bahayanya yang bisa timbul saat Anda mengonsumsinya secara berlebihan pun tidak jauh berbeda dari garam biasa.

Bahaya garam himalaya yang perlu diwaspadai

Sebenarnya, ada banyak sekali jenis garam yang biasa digunakan untuk memasak. Garam Himalaya sendiri merupakan jenis garam yang dianggap lebih alami karena hanya melalui beberapa kali proses penyaringan sebelum bisa digunakan.

Banyak orang yang menganggap, mengonsumsi garam yang lebih natural, akan lebih sehat karena mineral yang ada di dalamnya tidak hilang dalam proses penyaringan tersebut. Memang, garam alami mengandung lebih banyak mineral, tapi jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan, sampai bisa memberikan manfaat untuk tubuh kita.

Justru, klaim manfaat tersebut membuat suatu sugesti bahwa kita aman mengonsumsinya sebanyak apapun. Padahal, hal tersebut tidaklah benar. Jika dikonsumsi berlebihan, Anda tetap perlu waspada akan bahaya garam Himalaya berikut ini.

1. Membuat tubuh kekurangan yodium

Garam yang beredar di supermarket, kebanyakan memang sudah melalui proses pengolahan berulang kali sebelum akhirnya bisa dikonsumsi. Namun, garam tersebut biasanya juga sudah diperkaya yodium yang penting untuk tubuh.

Sementera itu garam Himalaya, meski mengandung yodium, jumlahnya kurang untuk memenuhi kebutuhan kita.
Yodium penting untuk menjaga kesehatan kelenjar tiroid dan metabolisme sel. Jika kekurangan yodium, Anda berisiko terkena penyakit gondok, atau pembesaran kelenjar tiroid di leher.

2. Memperberat kerja ginjal dan jantung

Saat kita mengonsumsi lebih banyak natrium dari biasanya, termasuk garam Himalaya secara berlebihan, maka ginjal akan berusaha mengeluarkannya melalui urine. Tentu, ini akan membuat kerja ginjal lebih berat daripada biasanya.

Lalu, saat ginjal kewalahan untuk menyingkirkan semua garam berlebih yang kita konsumsi, sisanya akan menumpuk di cairan yang ada di antara sel-sel tubuh. Hal ini akan membuat volume air dan darah di tubuh akan meningkat menyebabkan jantung dan pembuluh darah harus bekerja lebih keras untuk memompanya.

Kondisi ini membuat orang yang makan terlalu banyak garam berisiko lebih tinggi terkena penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.

3. Meningkatkan risiko obesitas

Tidak hanya gula yang memicu obesitas, tapi garam pun membawa efek serupa. Bahkan, meningkatkan asupan garam setiap hari sebanyak 1 gram lebih banyak dari yang seharusnya, bisa meningkatkan risiko obesitas sebanyak 25% baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

4. Memicu penyakit lainnya

Baik garam biasa maupun garam Himalaya, konsumsi berlebihan juga bisa memicu kerusakan hati dan osteoporosis. Tidak hanya itu, kebiasaan buruk ini juga bisa tingkatkan risiko Anda terkena penyakit autoimun seperti lupus, multiple sclerosis dan psoriasis.

Rekomendasi konsumsi kadar garam harian

Seperti yang telah disebutkan di atas, mengonsumsi terlalu banyak garam atau sodium bisa picu berbagai kondisi yang berbahaya untuk kesehatan. Sehingga, kita perlu membatasi asupan garam per harinya.

Orang dewasa yang sehat, direkomendasikan untuk tidak mengonsumsi sodium lebih dari 2300 mg per hari. Ini artinya, Anda tidak boleh mengonsumsi lebih dari satu sendok teh garam setiap harinya.
Sementara itu, orang yang memiliki riwayat hipertensi, harus membatasi konsumsi sodium hanya 1.500 mg per hari.

Garam mengandung sekitar 40% sodium. Sehingga, agar tidak bingung membatasi asupannya, Anda bisa menggunakan konversi ukuran di bawah ini.

  • ¼ sendok teh garam = 575 miligram sodium
  • ½ sendok teh garam = 1.150 miligram sodium
  • ¾ sendok teh garam = 1.725 miligram sodium
  • 1 sendok teh garam = 2.300 miligram sodium

Catatan dari SehatQ

Bahaya garam Himalaya perlu diwaspadai siapapun, terutama Anda yang memiliki riwayat hipertensi atau penyakit jantung. Tidak jauh berbeda dari garam biasa, garam jenis ini juga akan meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga kerusakan ginjal. Sehingga, batasi penggunaan garam Himalaya dalam makanan sehari-hari Anda.

Very Well Fit. https://www.verywellfit.com/himalayan-pink-salt-4587779
Diakses pada 6 Maret 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/315081
Diakses pada 6 Maret 2020

Harvard School of Public Health. https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/salt-and-sodium/
Diakses pada 6 Maret 2020

Artikel Terkait