Diklaim Bisa Atasi Kecanduan Merokok, Benarkah Rokok Teh Hijau Efektif?

Rokok teh hijau dianggap dapat membantu berhenti merokok
Rokok teh hijau dianggap dapat mengurangi kebiasaan merokok

Jika teh hijau biasanya dikonsumsi sebagai minuman kaya antioksidan dan membantu menurunkan berat badan, tren yang tak kalah menarik dikulik adalah rokok teh hijau. Beberapa dekade silam, rokok teh hijau pertama kali populer di Vietnam dan menjadi tren juga di negara-negara lain. Klaimnya, rokok teh hijau bisa membantu mengatasi kecanduan pada rokok.

Meski demikian, masih sedikit penelitian tentang manfaat, risiko, serta keamanan dari mengonsumsi rokok teh hijau. Berbeda dengan manfaat minum teh hijau yang memang sudah banyak didukung penelitian ilmiah.

Benarkah rokok teh hijau bantu berhenti merokok?

Belum ada penelitian tentang manfaat kesehatan dari rokok teh hijau. Hanya saja, memang ada kemungkinan substansi bermanfaat dari teh hijau bisa terserap lebih cepat oleh aliran darah lewat paru-paru. Meski demikian, mengonsumsi teh hijau dengan cara dihisap seperti merokok bukan hal yang sehat.

Beberapa klaim yang dirasakan orang yang merokok teh hijau di antaranya:

  • Mengurangi rasa cemas berlebih

Di dalam teh hijau, ada substansi L-theanine yang merupakan jenis asam amino. Memang terbukti, L-theanine punya efek menurunkan rasa cemas seseorang berkat interaksinya dengan reseptor neurotransmitter. Namun menurut penelitian ilmiah, efek ini bisa diperoleh dengan mengonsumsi ekstrak atau minum teh hijau.

Menariknya, ada juga yang mengklaim bahwa rokok teh hijau memberikan efek “high” (halusinasi) seperti mengonsumsi ganja. Namun tetap saja, belum ada studi ilmiah yang mendukung klaim ini.

  • Bantu berhenti merokok

Banyak orang yang memilih rokok teh hijau sebagai pengganti rokok biasa. Klaimnya, rokok teh hijau lebih sehat dan bisa menghilangkan kecanduan terhadap substansi adiktif dalam rokok yaitu nikotin. Namun tetap saja, belum ada studi yang membuktikan bahwa rokok teh hijau lebih sehat dan ampuh membantu seseorang berhenti merokok.

Bahkan, rokok teh hijau dinilai bukan langkah berhenti merokok yang aman dan bisa diandalkan. Justru, menghirup asap apapun ke dalam paru-paru bisa menimbulkan kerusakan pada jaringan paru-paru.

  • Lebih berenergi

Ada juga yang mengklaim bahwa rokok teh hijau membuat tubuh lebih berenergi, berkat kandungan kafein di dalamnya. Meski demikian, hal ini berisiko membuat seseorang mengalami overdosis kafein.

Apalagi ketika dikonsumsi dengan cara dihisap, komponen kafein lebih cepat terserap tubuh ketimbang dikonsumsi biasa. Gejala overdosis kafein sama seperti bahaya minum kopi, bisa menyebabkan mual, sakit kepala, dan juga gelisah.

Bahaya merokok teh hijau

Penting diingat bahwa menghirup atau merokok apapun entah itu rokok kretek, rokok filter, atau rokok teh hijau sama-sama berbahaya. Selalu ada potensi bahaya bagi kesehatan yang cukup serius. Tak heran, karena ketika menghisap apapun artinya seseorang bernapas dalam substansi karbon.

Bahaya ini juga termasuk meningkatnya risiko mengalami penyakit jantung dan kanker paru-paru. Merokok teh hijau tidak bisa disamakan dengan meminum teh hijau, meskipun substansi yang ada di dalamnya sama. Bukannya membantu meninggalkan kebiasaan merokok, justru membawa ancaman baru bagi kesehatan paru-paru.

Lebih jauh lagi, belum ada regulasi yang mengatur berapa dosis aman konsumsi rokok teh hijau dalam sehari. Pun tidak diketahui jenis rokok teh hijau yang benar-benar aman, terlepas dari klaim para produsen bahwa rokok teh hijau ampuh membantu meninggalkan kebiasaan merokok.

Catatan dari SehatQ

Terkait legalitasnya, belum ada regulasi yang menyebut rokok teh hijau ilegal seperti obat-obatan terlarang. Hanya saja, risiko kesehatan dari merokok teh hijau tetap ada. Jangan lupakan pula risiko ketika orang sekitar menghisap asap dari rokok teh hijau dengan menjadi perokok pasif maupun thirdhand smoke, semua sama-sama berbahaya.

Healthline. https://www.healthline.com/health/smoking-tea
Diakses pada 20 Juli 2020

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2010/01/100112165108.htm
Diakses pada 20 Juli 2020

Taylor & Francis Online. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1179/1476830513Y.0000000079
Diakses pada 20 Juli 2020

Artikel Terkait