Diet Raw Food, Hati-Hati Risiko Kurang Nutrisi Hingga Keracunan

Sayuran tidak diolah untuk diet raw food
Salad merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi oleh pelaku diet raw food

Sesuai namanya, diet raw food berarti mengonsumsi makanan dalam bentuk aslinya, tanpa diolah sama sekali. Selain itu, makanan dalam diet raw food biasanya bersumber dari tumbuhan dan organik. Menariknya, tujuan dari diet raw food tidak selalu untuk menurunkan berat badan.

Apa yang dikonsumsi dalam diet raw food?

Berdasarkan menu yang dikonsumsi, berikut ini beberapa jenis diet raw food:

  • Vegetarian yang masih mengonsumsi telur dan produk olahan susu
  • Vegan yang tidak mengonsumsi produk hewani sama sekali
  • Omnivora yang mengonsumsi makanan hewani dan nabati

Namun pada praktiknya, tentu diet raw food terbuka pada jenis modifikasi tertentu. Selain itu, jenis-jenis makanan yang dikonsumsi mereka yang melakukan diet raw food adalah:

  • Biji-bijian dan kacang-kacangan yang sudah dicuci
  • Buah yang dikeringkan
  • Buah dan sayur segar
  • Susu dari kelapa muda
  • Rumput laut
  • Buah yang dijemur di matahari
  • Makanan fermentasi seperti kimchi
  • Alpukat 
  • Telur
  • Ikan 
  • Daging
  • Susu dan produk olahannya (tidak dipasteurisasi)

Pada setiap pelaku diet raw food, jenis makanan yang dikonsumsi bisa berbeda. Intinya mereka mengonsumsi makanan yang organik, natural, dan tidak diproses.

Artinya, tidak ada dalam kamus pelaku diet raw food untuk mengonsumsi makanan yang sudah diproses, gula, tepung, kopi, teh, alkohol, pasta, garam meja, dan lainnya. 

Tentu saja interpretasi tentang diet raw food bisa berbeda antara satu orang dan lainnya. Ada yang masih mengonsumsi makanan yang sudah matang, ada pula yang sama sekali tidak mengonsumsinya. Semua kembali ke pilihan tiap orang.

Aturan diet raw food

Jika seseorang tertarik melakukan diet raw food, artinya perlu tahu aturan dalam memilih dan mempersiapkan makanan. Beberapa yang perlu diperhatikan adalah:

  • Perendaman

Makanan mentah tentu perlu dibersihkan secara menyeluruh, terutama biji-bijian dan kacang-kacangan yang masih mengandung inhibitor enzim dan hanya bisa hancur lewat proses memasak. Tergantung pada jenis makanannya, proses perendaman memerlukan waktu yang berbeda-beda, mulai 2-24 jam. 

Suhu perendaman juga harus diketahui, apakah di suhu ruangan atau perlu disimpan di lemari pendingin. Setelah proses perendaman selesai, mengeringkannya pun harus di kontainer kedap udara.

  • Pemanasan

Makanan untuk pelaku diet raw food bisa dipanaskan secara alami memanfaatkan sinar matahari. Istilahnya adalah dehydrating, yaitu meletakkan makanan di kontainer tertutup sehingga makanan akan dipanaskan di temperatur rendah.

Biasanya, metode ini dilakukan dalam pembuatan kismis, tomat, keripik kale, roti, atau crackers.

  • Blending

Makanan untuk diet raw food juga bisa diblender menggunakan food processor jika ingin dikonsumsi dalam bentuk pesto, smoothies, atau sup. Selain itu, sayur dan buah juga bisa dijus sebelum dikonsumsi.

Kontroversi diet raw food

Mengonsumsi makanan yang diproses berlebihan hingga dikemas dalam bentuk kalengan memang tidak disarankan. Namun jangan salah, ada pula kontroversi seputar diet raw food. Para ahli meyakini bahwa tidak ada alasan seseorang perlu menghindari makanan yang sudah dipanaskan atau dimasak.

Justru, mengonsumsi makanan yang masih mentah bisa membuat seseorang rentan tertular penyakit. Utamanya, jika yang dikonsumsi adalah daging dan produk olahan susu.

Lebih jauh lagi, diet raw food bukanlah tren populer baru-baru ini. Sejak tahun 1800an akhir, diet raw food muncul ketika seorang dokter meyakini dirinya berhasil menyembuhkan pasien hanya dengan makan apel mentah.

Sejak itu, popularitas diet raw food terus berkembang dalam bentuk dan format berbeda. Sebagian besar pelaku diet raw food menganggap tidak masalah memanaskan makanan mereka selama tidak lebih dari 47 derajat Celsius. Selain itu, 70% atau lebih makanan mereka benar-benar mentah.

Sangat penting mengingat bahwa diet raw food tidak direkomendasikan untuk orang-orang berikut:

  • Ibu hamil
  • Anak-anak
  • Lansia
  • Orang dengan kekebalan tubuh lemah
  • Penderita penyakit tertentu
  • Orang dengan riwayat eating disorders
  • Orang dengan berat badan rendah (underweight) atau malnutrisi

Risiko utama dari diet raw food adalah defisiensi nutrisi dan terinfeksi penyakit akibat makanan yang belum dimasak. Selain kalori, nutrisi yang bisa sangat kurang adalah vitamin B12, vitamin D, zat besi, zinc, dan asam lemak omega-3.

Untuk penyakit dari makanan mentah, bahkan sayur dan buah bisa menjadi sumber bakteri. Belum lagi ikan, telur, dan daging mentah hingga susu yang belum terpasteurisasi juga dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit. 

Jadi, sebelum memutuskan untuk menjalani diet raw food, pastikan sudah paham betul aturan dan mana yang boleh dikonsumsi. Tanyakan kepada ahli gizi tentang diet raw food, karena setiap orang belum tentu cocok dengan diet jenis ini.

Verywell Fit. https://www.verywellfit.com/food-to-eat-on-the-raw-food-diet-89921
Diakses 25 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7381#types_of_raw_food_diet
Diakses 25 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/diet/a-z/raw-foods-diet
Diakses 25 Februari 2020

Artikel Terkait