Asma pada Lansia, Bagaimana Gejala dan Cara Mengatasinya?


Asma pada lansia ditandai oleh sejumlah gejala seperti sesak napas, batuk, dan mengi. Cara mengatasi asma pada lansia mulai dari memberikan inhaler hingga obat-obatan.

0,0
03 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
asma pada lansiaPenyakit asma pada lansia kerap sulit dikenali karena gejalanya mirip dengan penyakit lain
Penyakit asma bisa menyerang siapa saja, termasuk lansia. Bila asma pada lansia tidak terdeteksi sejak awal, tentu akan lebih sulit untuk mengobatinya, dan meningkatkan risiko yang lebih serius.Namun dengan diagnosis sejak dini dan penanganan yang tepat, asma pada lansia dapat lebih mudah diatasi. Berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang asma pada lansia.

Penyebab asma pada lansia

Asma adalah kondisi ketika saluran udara pada sistem pernapasan mengalami penyempitan dan menghasilkan lendir berlebih. Kondisi ini lantas membuat seseorang jadi kesulitan bernapas, sesak napas, batuk-batuk, dan mengi.Penyakit pernapasan ini bisa dialami oleh semua golongan usia, tidak terkecuali lansia. Sama seperti asma pada kelompok usia lainnya, penyebab asma pada lansia sendiri hingga kini belum dapat diketahui secara pasti. Namun, ada sejumlah faktor pemicu terjadinya asma, seperti:
  • Alergi debu
  • Paparan polusi udara
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Melakukan olahraga berat

Gejala asma pada lansia

Gejala asma pada lansia kerap sulit dibedakan dengan kondisi lain, seperti penyakit jantung dan penyakit kronis lain yang menyerang paru-paru. Gejala asma yang mungkin terjadi pada lansia di antaranya:
  • Dada terasa sesak, sulit bernapas, saat bernapas mengeluarkan suara, atau batuk.
  • Gejala di atas muncul terus menerus tanpa disertai gejala lain.
  • Gejala asma semakin memburuk saat malam hari, berolahraga, atau saat muncul pemicu alergi.
  • Memiliki saudara yang menderita asma, alergi, rinitis, atau sinusitis.

Diagnosis asma pada lansia

Untuk mendiagnosis apakah lansia mengidap asma, Anda tentu harus berkonsultasi dengan dokter. Umumnya, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosis asma dengan benar. Tes untuk mendiagnosis asma yang umum dilakukan meliputi:

1. Tes paru-paru

Dokter akan melakukan tes untuk menilai apakah paru-paru pasien berfungsi optimal atau tidak, dalam berbagai kondisi. Misalnya, setelah berolahraga, duduk, tidur, hingga saat terpapar suhu dingin.

2. Spirometri

Tes ini memakai alat yang disebut spirometer. Fungsinya untuk mengukur sebaik apa ketika pasien bernapas. Pasien akan diminta bernapas dengan mulut, dengan menarik napas secara penuh, lalu menghembuskan napas perlahan-lahan atau sesuai perintah dokter.

3. CAT scan

Dokter juga dapat memeriksa kepala pasien dengan bantuan rontgen komputer untuk mengetahui apakah ada gejala penyakit lain, seperti sinusitis kronis.

Bagaimana penanganan asma pada lansia?

Menangani asma pada pasien lansia membutuhkan perawatan dan ketelitian. Pasalnya, sistem kekebalan tubuh lansia yang rendah akan rentan terhadap berbagai penyakit, hingga ancaman kerusakan sistem imunitas secara bertahap.Untuk membantu lansia menangani penyakit asma, anggota keluarga dapat menggunakan obat inhaler secara teratur dengan dosis yang tepat. Imunisasi atau vaksin flu juga dapat diberikan, termasuk vaksin pneumonia.Selain itu, jangan lupa untuk selalu menerapkan pola makan yang baik guna menghindari obesitas. Berikan makanan yang bernutrisi dan kaya asupan vitamin D agar meningkatkan sistem kekebalan tubuh lansia.

Pemberian obat asma pada lansia

Pemberian obat asma pada lansia perlu lebih diperhatikan. Kenapa? Pasalnya, lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami efek samping obat dan berisiko mengalami reaksi interaksi obat asma dan obat-obat lain yang dikonsumsi. Gejala asma pada lansia dapat ditangani dengan beberapa jenis obat yang dapat meredakan gejala dalam jangka pendek serta mengontrol timbulnya gejala dalam jangka panjang. Saat memberikan obat yang bebas dijual di pasaran, lebih baik hindari obat asma yang mengandung steroid. Pemberian obat asma yang mengandung steroid sebenarnya berguna untuk meredakan gejala asma yang muncul secara tiba-tiba (akut). Namun lama-kelamaan, kandungan steroid dapat menimbulkan efek samping, seperti membuat tulang menjadi lemah, munculnya ulkus atau perlukaan, serta tekanan darah tinggi (hipertensi).Bagi lansia yang menderita asma, lebih baik gunakan obat yang sesuai dengan resep dokter. Periksakanlah diri Anda ke dokter agar obat asma yang diberikan dapat sesuai dengan kondisi tubuh serta dapat meminimalisir efek samping yang mungkin terjadi, termasuk dari risiko munculnya reaksi interaksi obat-obatan.

Catatan dari SehatQ

Asma pada lansia tentu lebih berbahaya ketimbang asma yang terjadi pada kelompok usia di bawahnya. Oleh sebab itu, jangan sepelekan penyakit ini dan segera kunjungi dokter apabila ada anggota keluarga yang sudah berusia lanjut dan menunjukkan gejala asma.Konsultasi keluhan medis, lebih mudah dan cepat lewat layanan live chat di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasi SehatQ sekarang juga di App Storer dan Google Play. 
gangguan lansiaasmalansiakesehatan lansia
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/asthma-in-older-adults-undertreated
Diakses pada Oktober 2018
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3345322/ Diakses pada 5 Maret 2019Asthma and Allergies. http://asthmaandallergies.org/asthma-allergies/asthma-in-older-adults/ Diakses pada 5 Maret 2019Get Asthma Help. https://getasthmahelp.org/asthma-seniors-health-professional.aspx# Diakses pada 5 Maret 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait