Depresi Setelah Melahirkan Anak, Suami dan Keluarga Bisa Berperan

Sindrom baby blues setelah melahirkan dapat memicu terjadinya depresi pascapersalinan
Depresi yang timbul setelah melahirkan anak bisa disebabkan karena kurangnya dukungan dari keluarga

Sebagian besar wanita, akan merasakan setidaknya sedikit gejala dari sindrom baby blues setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan hormon secara tiba-tiba setelah proses persalinan, ditambah dengan stres, kurang tidur, kelelahan, dan kesepian yang dirasakan.

Bagi sebagian wanita, gejala sindrom baby blues bisa mereda pada minggu kedua setelah persalinan. Namun bagi beberapa wanita lainnya, gejala ini bertahan dan bertambah parah. Sehingga, sindrom baby blues yang dialami, bisa berkembang menjadi depresi pascapersalinan.

Salah satu faktor yang bisa memperparah kondisi baby blues, hingga bisa berkembang menjadi depresi adalah kurangnya dukungan keluarga serta lingkungan sekitar. Kebiasaan mengkritisi dan membandingkan segala hal yang dilakukan oleh ibu baru lainnya, bisa membuat sang ibu tertekan.

Kondisi mental yang bisa terjadi pada ibu yang baru melahirkan anak

Sebagai pasangan, keluarga, atau teman dari ibu yang baru melahirkan, Anda perlu mengenali risiko gangguan mental yang bisa muncul pada ibu. Pasalnya, peran lingkungan sekitar dari ibu, merupakan salah satu faktor paling berpengaruh pada kondisi ini.

Ada tiga kondisi mental yang bisa terjadi pada ibu yang baru melahirkan anak, yaitu sindrom baby blues, depresi pascapersalinan, dan psikosis pascapersalinan.

1. Sindrom baby blues

Sindrom baby blues yang muncul beberapa hari setelah proses persalinan, adalah kondisi normal. Ibu baru akan mengalami mood swings, sehingga akan dapat dengan mudah merasa senang dan berganti menjadi sedih, hanya dalam waktu singkat.

Ibu yang mengalami baby blues juga bisa menangis tanpa alasan, mudah marah, tidak tenang, panik, dan merasa kesepian. Sindrom ini akan bertahan selama beberapa jam setelah persalinan, atau hingga satu atau dua minggu kemudian.

2. Depresi pascapersalinan

Depresi pascapersalinan, bisa muncul beberapa hari hingga beberapa bulan setelah proses persalinan. Ibu akan merasakan hal yang sama dengan sindrom baby blues, hanya saja perasaan-perasaan tersebut akan dirasa lebih kuat dan terjadi lebih lama.

Depresi juga membuat ibu tidak bisa melakukan kegiatan sehari-harinya dengan baik. Bahkan, gangguan ini juga memengaruhi kondisi fisik.

3. Psikosis pascapersalinan

Psikosis adalah kondisi kejiwaan paling parah yang bisa dialami oleh ibu yang baru melahirkan anak. Kondisi ini bisa muncul dengan sangat cepat, seperti pada bulan pertama hingga ketiga setelah persalinan.

Ibu yang mengalami kondisi ini dapat mengalami halusinasi, seperti merasa mendengar dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ibu juga bisa mengalami delusi, yaitu mempercayai sesuatu yang sudah jelas tidak rasional.

Psikosis juga bisa membuat penderitanya mengalami insomnia, mudah marah, dan melakukan perilaku-perilaku yang tidak biasa. Psikosis merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang perlu segera ditangani.

Pasalnya, penderita psikosis memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri, serta orang di sekitarnya, termasuk anak.

[[artikel-terkait]]

Keluarga dan lingkungan bisa picu depresi setelah melahirkan anak

Seorang ibu bisa terkena depresi pascapersalinan karena faktor perubahan biologis di tubuh dan faktor psikologis. Faktor biologis berkaitan dengan perubahan hormon.

Sementara itu faktor psikologis, dapat berkaitan dengan kurangnya dukungan yang diterima, merasa kesepian dan hidup sendiri, hingga konflik perkawinan.

Tekanan yang datang dari teman, keluarga, atau bahkan pasangan, kepada ibu baru mengenai tuntutan peran sebagai ibu yang baik, cara mengurus anak, hingga komentar seputar penampilan fisik ibu setelah melahirkan, bisa memicu stres yang kemudian dapat berkembang menjadi depresi pascapersalinan.

Di Indonesia, sudah bukan hal baru, orang di sekitar ibu yang baru melahirkan, justru berperan menjadi pemicu depresi pascapersalinan. Komentar-komentar bagi ibu, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai ramah tamah, justru bisa berperan sebagai pemicu depresi.

Sebab, komentar-komentar tersebut, yang umumnya cenderung mempertanyakan kemampuan ibu baru, membuat ibu merasa kekurangan dukungan secara emosional.

Maka dari itu, alih-alih mengomentari cara ibu dalam mengurus anaknya, berikanlah dukungan yang dibutuhkannya. Jika dukungan tidak kunjung diberikan, maka munculnya depresi pascapersalinan, akan sulit untuk dicegah.

Gejala yang timbul pada ibu yang mengalami depresi pascapersalinan

Anda perlu mengenali gejala depresi pascapersalinan. Sehingga, ketika gejala tersebut mulai muncul, Anda dapat segera membantu ibu yang baru melahirkan anak, untuk mengatasi kondisi ini.

Jangan sampai, saat gejala tersebut muncul, Anda justru mengkritik perilaku ibu, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan standar pengasuhan anak atau standar perilaku ibu yang baik menurut Anda.

Berikut ini adalah gejala depresi pascapersalinan yang perlu dikenali:

  • Merasa sedih terus-menerus.
  • Lebih sering menangis tanpa alasan tertentu.
  • Terlalu cemas terhadap segala hal.
  • Mudah marah.
  • Terlalu lama tidur atau justru tidak bisa tidur, meski bayi sedang terlelap.
  • Sulit berkonsenterasi serta mengingat dan memutuskan sesuatu.
  • Sering pusing, sakit perut, dan nyeri otot.
  • Tidak tertarik melakukan hal yang sebelumnya dianggap menyenangkan.
  • Tidak nafsu makan atau justru nafsu makannya meningkat dengan sangat drastis.
  • Tidak ingin bertemu dengan teman atau keluarga, dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.
  • Kesulitan membangun ikatan emosional dengan bayi.
  • Terus-menerus meragukan kemampuannya dalam mengurus anak.
  • Berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau anaknya.

Berikan dukungan yang tepat untuk ibu yang baru melahirkan

Apabila istri, teman, keluarga, atau anak Anda baru saja melahirkan, dan menunjukkan tanda dan gejala yang mengarah pada depresi pascapersalinan, maka Anda perlu memberikan dukungan yang tepat.

Berikut ini, langkah yang bisa Anda lakukan untuk mendukung ibu yang baru melahirkan:

1. Kenali gejalanya

Pasangan dan keluarga, sebagai orang-orang terdekat dari ibu, biasanya menjadi yang pertama menyadari munculnya gejala depresi pascapersalinan. Dengan memahami berbagai gejalanya, Anda bisa segera memberikan pertolongan kepada ibu, agar kondisinya tidak bertambah parah.

2. Jadilah pendengar yang baik

Jadilah pendengar yang baik, saat ibu menceritakan kesulitannya menghadapi masa-masa setelah persalinan. Tunjukkan kepada ibu, bahwa Anda peduli dengan kondisi kesehatannya, dan bahwa kesehatan ibu tidak kalah penting dari kesehatan bayi.

Dengarkan keluh kesahnya, dan jangan meremehkan kesulitan yang sedang ia rasakan. Buat ibu merasa aman dan nyaman untuk bercerita dengan Anda, agar bisa mengurangi beban pikirannya.

3. Berikan dukungan

Beritahu ibu, bahwa ia tidak sendiri dalam menjalani masa-masa ini. Tawarkan bantuan, agar ia bisa beristirahat sejenak dari rutinitas mengurus Si Kecil.

Biarkan ia meluangkan sedikit waktu untuk bertemu dengan teman. Selain itu, tawarkan juga bantuan untuk menggantikannya melakukan pekerjaan rumah seperti berbelanja keperluan, memasak, atau membersihkan rumah.

4. Tawarkan bantuan

Ibu yang menunjukkan tanda-tanda depresi, mungkin akan enggan untuk mencari bantuan profesional yang bisa membantu meringankan kondisinya. Karena itu, Anda bisa menawarkan bantuan untuk mencari psikolog atau psikiater.

Mulai sekarang, mari hilangkan kebiasaan untuk mengomentari ibu baru, dengan cara-cara yang menyakitkan. Berikanlah dukungan untuknya, baik secara fisik maupun emosional, agar ibu bisa terhindari dari depresi pascapersalinan.

WebMD. https://www.webmd.com/depression/guide/postpartum-depression#1-4
Diakses pada 11 Juli 2019

Mental Health America. https://www.mentalhealthamerica.net/conditions/pregnancy-and-postpartum-disorders
Diakses pada 11 Juli 2019

National Institute of Mental Health. https://www.nimh.nih.gov/health/publications/postpartum-depression-facts/index.shtml#pub3
Diakses pada 11 Juli 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/depression/postpartum-depression-and-the-baby-blues.htm
Diakses pada 11 Juli 2019

National Child and Maternal Health. https://www1.nichd.nih.gov/ncmhep/initiatives/moms-mental-health-matters/pages/partners-family-friends.aspx
Diakses pada 11 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed